Sunday, 05 April 2020


Pandemi Covid-19, Mentan Syahrul Ajak Jajarannya Pastikan Petani Dapat Harga yang Layak

24 Mar 2020, 08:02 WIBEditor : Ahmad Soim

Gunungkidul sedang panen jagung | Sumber Foto:Dok

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Produksi sektor pertanian selama masa pandemi covid-19,  harus dipastikan memperoleh  harga jual yang layak, sehingga terjaga kesejahteraannya. 

 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan hal itu kepada seluruh jajaran pertanian di pusat dan daerah. Pada bulan Maret-April, adalah dimulainya masa panen raya tanaman pangan di berbagai daerah di Indonesia.

Sejumlah desa di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta terpantau di data  Kementan sedang  panen raya palawijaya, seperti kacang tanah dan jagung. Panen ini merupakan panen kedua setelah sebelumnya para petani juga memanen komoditi yang sama dengan hasil yang memuaskan.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto menyampaikan bahwa kacang dan jagung adalah dua komoditas unggulan Gunung Kidul yang menjadi andalan kebutuhan nasional.

 

"Walaupun panennya musim hujan yang tidak menentu, tapi kita harus bersyukur bahwa hasil ini cukup memuaskan. Tentu ke depan, kita akan pacu lagi dengan berbagai program yang ada agar hasil panennya meningkat," ujar Bambang, Senin, 23 Maret 2020.

 

Dikatakan Bambang, hasil ubinan kacang yang dihasilkan petani kurang lebih mencapai 16,5 kuintal wose per hektare yang ditanam di atas lahan monokultur seluas 50 hektare.

 

"Sedangkan untuk jagung ubinan yang ditanam dengan metode tumpang sari di lahan 146 Hektar totalnya mencapai 11 kilogram tongkol atau sekitar 9,8 ton pipil kering per hektare," katanya.

 

Mengenai hal ini, Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Bambang Pamuji mengapresiasi hasil panen kacang dan jagung di Kabupaten Gunung Kidul. Menurut dia, hasil

 panen tersebut masuk kategori bagus dengan level diatas rata-rata.

 

"Ke depan, Kementan akan mendorong penerapan tumpang sari untuk meningkatkan produksi dalam negeri agar petani diuntungkan dengan panen yang dihasilkan. Apalagi, tumpang sari dibeberapa tempat sudah menunjukkan hasil yang cukup signifikan, hal ini juga menjadi solusi ditengah maraknya alih fungsi lahan," katanya.

 

Pamuji mengatakan, sebagai langkah nyata pemerintah, Kementerian pertanian akan mendorong kelompok tani untuk mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang memiliki bunga rendah, yakni sebesar 6 persen.

 

"Kredit ini sangat bagus untuk membantu petani memperluas usahanya. Melalui KUR petani bisa lebih fleksible membeli kebutuhan khusus nya alat-alat penanganan pasca panen bagi kelompok taninya," katanya.

 

Pamuji berharap penggunaan teknologi berupa alat yang modern mampu meningkatan hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih unggul dan asuransi pertanian.

 

"Pasarnya terpenuhi dan produksinya meningkat. Disisi lain pemerintah sudah menyediakan layanan KUR dan asuransi. Kita harapkan dapat berjalan secara baik," katanya.

 

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Manunggal Karya Kanigoro, Nyoto menambahkan bahwa keuntungan yang diperoleh mencapai puluhan juta rupiah untuk area lahan satu hektare.

 

"Karena itu, saya berharap pemerintah mampu menyediakan alat bantu seperti Power theser Multiguna atau mesin perontok untuk memudahkan produksi dengan jumlah yang banyak," katanya.

 

Senada, Koordinator BPP Saptosari, Sriyatun berharap semua hasil panen yang ad dapat dijual kedalam bentuk wose. Ini dikarena perhitungan analisa usaha tani dalam satu hektar dengan produksi 16,5 kuintal wose yang dijual seharga Rp 25.000 perkilogram.

 

"Dari hasil panen ini kami bisa mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 25.192.000 perhektare. Namun jika dijual gelondong kering dengan harga Rp 13.000 perkilogram hanya mendapatkan pendapatan bersih sebesar Rp 19.495.000 perhektare," tutupnya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018