Saturday, 06 June 2020


Pandemi Corona Tak Menyurutkan Petani Sukoharjo Beraktivitas di Sawah

31 Mar 2020, 06:38 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang melaksanakan panen dengan combine harvester | Sumber Foto:Dok. Sukar

Petani di Tawangsari sampai saat ini tak hanya memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan). Mereka juga mengembangkan pertanian terpadu
 
TABLOIDSINARTANI.COM, Sukoharjo---Wabah penyakit karena virus Corona atau Covid 19 kini melanda hampir di seluruh wilayah Indonesia. Namun petani sebagai garda terdepan pemasok kebutuhan pangan tetap beraktifitas seperti biasa.
 
Seperti petani di Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng), khususnya di Ds. Majasto sejak 10 Maret lalu sudah  panen padi. Bahkan, panen padi  di desa tersebut masih berlangsung pada, Senin (30/3). "Petani di Majasto panen duluan karena pada Desember tahun lalu tanam duluan. Luas sawah yang ditanami padi sekitar 250 ha," kata mantan Ketua Gapoktan Tani Mandiri, Sukar, di Sukoharjo, Senin (30/3).
 
Sukar  mengaku, petani di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Jateng tak begitu berpengaruh terhadap pandemi corona 19. Meski tetap melakukan aktivitas seperti biasa, mereka tetap waspada terhadap pandemi covid 19. "Karena ada pandemi, petani harus  sering cuci tangan pakai sabun. Kalau ke sawah atau ke luar rumah  pakai masker. Kita juga menghindari kerumunan," papar Sukar seraya menegaskan bahwa petani tak ada yang libur. "Kami tetap bekerja seperti biasa meskipun kewaspadaan selalu ditingkatkan," tambahnya.
 
Menurut Sukar, kegiatan di sawah seperti panen yang berlangsung pada Maret tahun ini berjalan seperti biasa.  Panen kalo ini  produktivitas tanaman hanya 5,5 ton/ha. "Sebagian terkena hama, seperti wereng. Gabah yang dijual pun agak rendah harganya, sekitar Rp 4.300/kg (GKP)," ujar Sukar.
 
Sukar memperkirakan, sampai Mei mendatang petani di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo masih panen padi. Umumnya, setelah panen langsung olah lahan dan tanam. Seperti di Ds. Tangkisan diperkirakan akan memasuki musim panen pada 5-20 April. Ds. Pojok  diperkirakan memasuki musim panen pada 15 April-5 Mei.
 
Kemudian, untuk Ds. Dalangan diperkirakan memasuki musim panen pada  20 April-10 Mei. Sedangkan, Ds.Ponowaren dan Kateguhan diperkirakan akan memasuki musim panen pada 25 Apri-20 Mei mendatang.
 
Pertanian Terpadu
Sukar mengatakan, petani di Tawangsari sampai saat ini tak hanya memanfaatkan alat dan mesin pertanian (alsintan).  Mereka juga mengembangkan pertanian terpadu. Misalnya, menanam padi sambil memelihara ikan dan sapi.
 
Menurut Sukar, ada sekitar 28 ha yang menerapkan manajemen corporate farming atau pertanian terpadu. Lahan seluas itu dikelola secara berkelompok yang manajemennya diserahkan langsung oleh UPJA Bagyo Mulyo. Melalui pola semacam ini, petani lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan produksi padinya.
 
Sukar menyatakan, ada 293 petani yang bernaung di bawah Gapoktan Tani Mandiri yang mampu  meningkatkan produktivitas padi yang ditanamnya sebanyak 8 ton/ha (GKP), dari sebelumnya hanya sekitar 5- 6 ton/ha (GKP).  "Mereka umumnya menerapkan manajemen corporate farming. Seperti yang dilakukan sejumlah petani di Desa Dalangan," pungkasnya.   
 
Seperti diketahui Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  dalam berbagai kesempatan juga meminta agar produksi pertanian tetap berjalan bahkan digenjot hingga berlipat-lipat. Apalagi, sektor ini memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional. "Adanya musibah wabah virus Covid-19 ini tidak boleh membuat aktivitas pertanian berhenti. Kementan akan terus optimalkan SDM Pertanian untuk menggenjot produksi dan produktivitas bahkan ekspor," katanya.
Reporter : Idt
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018