Senin, 04 Maret 2024


Budididaya Padi di Lahan Berdrainase Buruk

17 Jun 2013, 16:06 WIBEditor : Kontributor

Kurang air susah, banyak airpun sulit. Itulah yang kerap dialami petani padi. Bagi petani yang menggarap lahannya di daerah tadah hujan, biasanya baru mulai tanam saat musim hujan. Bagaimana dengan petani berada di wilayah dengan debit air berlebih?

Untuk itu perlu trik khusus. Perlu diingat padi bukanlah tanaman air, melainkan tanaman yang membutuhkan air. Dengan demikian, selama masa pertumbuhan tanaman padi tidak boleh digenangi air secara terus menerus. Karena itu pada lahan sawah yang berdrainase buruk, pertumbuhan padi sangat merana.

Salah satu contoh wilayah yang berdrainase buruk adalah Desa Tukadmungga,  Kecamatan Buleleng,  Kabupaten Buleleng, Bali. Dari  luas lahan sawah 81 hektar (ha), sepertiga lahannya berdrainase buruk.

Berdrainase buruk karena kondisi tanahnya sepanjang tahun basah. Selain itu, air tanah  pada petakan sawah tidak bisa dikeluarkan karena ketinggian air  pada parit sama dengan air pada petakan sawah. PH tanah juga sangat rendah yakni 4 – 5.

Ida Ayu Putu Mahaindri, PPL Wilayah Binaan Tukadmungga,  Kecamatan Buleleng, Singaraja  Bali mengatakan, sesuai pengalaman petani tanaman padi yang ditanam di lahan yang berdrainase buruk, awal pertumbuhan padi sangat jelek. Daun padi terlihat  berwarna merah karena keracunan Al dan Fe. Ini berlangsung hingga  tiga minggu. Setelah minggu ke tiga barulah mulai ada perubahan. “Diawal pertumbuhan biasanya tanaman padi dibiarkan saja oleh petani. Tapi, setelah memasuki minggu ketiga barulah dilakukan pemupukan,” kata Ida Ayu.

Berdasarkan pengalaman lanjut Ida Ayu, jika diawal pertumbuhan tanaman padi dilakukan perlakuan selayaknya tanaman padi di lahan normal, justru kondisi tanaman semakin memburuk. Setelah dilakukan analisa usaha, ternyata biaya usahatani di lahan yang berdrainase buruk jauh lebih besar, tapi produksinya lebih rendah. “Dari permasalahan tersebut, saya coba mengganti vareitas tanaman padi yang biasa ditanam dengan varitas Inpara 2,” katanya. **

Editor : Ahmad Soim

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018