Sabtu, 24 Februari 2024


Impor Pangan Karena Peningkatan Permintaan

02 Sep 2014, 14:02 WIBEditor : Ahmad Soim

Naiknya impor beberapa produk pangan terjadi karena adanya peningkatan permintaan produk pangan dan pertanian karena didorong oleh peningkatan kelas menengah.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Bayu Krisnamurthi pada Konferensi Nasional XVII dan Kongres Nasional XVI Perhepi di Bogor.

Penggerak pertama peningkatan permintaan itu adalah pertumbuhan jumlah penduduk. Pertumbuhan jumlah penduduk berimplikasi pada peningkatan konsumsi untuk produk pangan dan pertanian, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas. Kualitas menjadi penting terkait dengan asupan gizi yang baik.

Dalam 10–15 tahun ke depan, di mana Indonesia akan mengalami periode deviden demografis dengan dominasi penduduk muda dan energik akan semakin membutuhkan asupan gizi yang semakin beragam dan berkualitas. Kenaikan permintaan produk pangan dan pertanian baik dari sisi kuantitas maupun kualitas juga akan didorong oleh peningkatan kelas menengah (middle-income class), yaitu mereka yang berpendapatan lebih dari Rp 60 juta per tahun.

Dalam 10–15 tahun ke depan middle-income class di Indonesia akan naik dua kali lipat dan pada tahun 2030 di Indonesia akan terjadi pertumbuhan kelas menengah yang juga akan menjadi kelompok masyarakat berkonsumsi tinggi (consuming class) menjadi 135 juta jiwa dari 45 juta jiwa pada tahun 2012, sebagaimana dilaporkan McKinsey Global Institute tahun 2012 lalu. Jumlah itu sangat besar, kira-kira sama dengan tiga puluh kali penduduk Singapura atau sepuluh kali penduduk Jabodetabek atau lima kali jumlah penduduk Malaysia saat ini. Pada tahun 2020 saja diperkirakan penduduk Indonesia sudah mencapai 270 juta orang, dengan 75 juta termasuk kelas menengah.

Peningkatan permintaan tersebut sudah terjadi saat ini. Selain angka-angka pertumbuhan penduduk dan khususnya kelas menengah, peningkatan permintaan juga ditunjukkan oleh indikator-indikator lain. Pertumbuhan bisnis eceran (retail), baik dalam jumlah gerai maupun omset toko dan pusat belanja, tumbuh antar 7% hingga 19% dalam 10 tahun terakhir. Urbanisasi juga berkembang sangat pesat. Terdapat sekitar 20 kota menengah di Indonesia yang mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata lebih dari 10% per tahun dalam 10 tahun terakhir. Urbanisasi juga mendorong berkembangnya bisnis distribusi dan logistik serta penopangnya yaitu bisnis otomotif, alat angkut dan transportasi yang juga mencapai pertumbuhan dua digit.

Perkembangan ini juga sejalan dengan perkembangan penerapan sistem rantai pasokan pada hampir seluruh bisnis pangan dan pertanian. Timmer dan Reardon dalam beberapa studinya menyebutkan fenomena ini sebagai ‘supply chain and retail revolution’. Pendeknya, permintaan telah dan akan terus berubah, bertumbuh dan berkembang dengan laju yang tinggi.

Ternyata perubahan, pertumbuhan dan perkembangan permintaan itu tidak ditentukan oleh ada tidaknya pasokan dari dalam negeri. Jika permintaan itu tidak menemukan pemasoknya di dalam negeri – dalam hal jumlah dan terutama kualitas – maka permintaan ini akan mencari pemasoknya dari luar negeri. Itulah yang terjadi dengan impor produk pangan pertanian. Perkembangan impor gula, kedelai, sapi dan jagung lebih ditentukan oleh peningkatan permintaan.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018