
Panen padi di Jembrana
TABLOIDSINARTANI.COM, Jembrana--- Tak mau kalah dengan daerah lain, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana pun mendorong petaninya untuk terus berproduksi. Bahkan, di tengah pandemi virus corona (covid 19), tepatnya pada awal April 2020, petani di Kab.Jembrana mulai panen padi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Jembrana, W.Sutama mengatakan, sampai pertengahan April tahun ini panennya masih berlangsung. " Jadi, panennya jalan terus. Bahkan sampai Juni nanti masih panen," papar W. Sutama, di Jembrana, Senin (20/4).
W. Sutama mengaku, dari bulan April-Mei nanti luas padi yang dipanen sekitar 1.800 ha. Sedangkan yang siap panen pada awal Juni sampai pertengahan Juli 2020 sekitar 3.000 ha.
" Ada sejumlah kecamatan yang pertengahan April ini masih panen. Seperti, Kec. Mendoya, Jembrana dan Melaya," ujarnya.
W. Sutama mengatakan, luaa sawah di Jembrana tercatat sebanyak 6.724 ha. Pola tanamnya umumnya, dua kali padi satu kali palawija.
" Petani di sini sangat menjunjung kearifan lokal. Sehingga pola tanam sesuai dengan kebijakan Subak (kelompok tani). Melalui pola tanam tersebut, masa tanam dan panen di Jembrana bisa berkelanjutan," papar W. Sutama.
Menurut W.Sutama, masing-masing Subak punya pola dan waktu tanam tersendiri. Bahkan, dalam satu tahun mereka mampu tanam 2-3 kali.
" Karena itu, peran Subak sangat penting. Masing-masing Subak punya aturan tersendiri. Bahkan, mereka bisa turun (tanam) bersamaan sesuau awig-awig (aturan subak," paparnya.
W. Sutama mengaku, irigasi di Jembrana ini sebagian besar berupa irigasi 1/2 teknis dan tadah hujan. Seperti di Kec.Negara dan Melaya irigasinya masih 1/2 teknis. Sehingga peran Subak sangat penting dalam mengatur air bagi kelompoknya.
Menurut W. Sutama, padi yang dipanen petani produktivas dan harga gabahnya cukup bagus. Rata-rata produktivitasnya 7,5 ton/ha. Sedangkan harga gabanya Rp 5.000/kg (GKP).
Petani Jembrana umumnya menjual padinya langsung ke penebas. Sebagian kecil padi hasil panen tersebut di simpan untuk kebutuhan sehari-hari.
" Kalau dijual ke penebas harganya juga tinggi, yakni Rp 250 ribu-Rp 300 ribu per are
Atau sekitar Rp 25 juta-Rp 30 juta per ha," ujarnya.
Gunakan Alsintan
Menurut W. Sutama, petani yang panen padi di Jembrana juga memamfaatkan combine harvester. Bahkan, sebagian petani mulai olah lahan dengan traktor.
" Alsintan yang dikelola Subak juga jalan. Agar tak terjadi gejolak sosial, kita juga masih menggunakan tenaga kerja lokal," papar Sutama.
Dikatakan, Subak di Jembrana hampir semuanya menerima bantuan pemerintah berupa alsintan pra panen maupun paska panen. Alsintan tersebut dikelola melalui Subak.
" Karena, Subak ini merupakan organisasi kemasyarakatan yang langsung berhubungan dengan petani,” katanya.
Alsintan bantuan Kementerian Pertanian (Kementan), lanjut Sutama ada juga yang langsung dikelola UPJA. Umumnya, UPJA yang mengelola asintan ini dibentuk dari sejumlah petani. Karena itu, alsintan yang dikelola langsung oleh Subak atau UPJA itu tak ada masalah.
Dalam kesempatan tersebut, W.Sutama berharap agar petani selalu menjaga kewaspadaannya teehadap pandemi corona. Meaki terdampak, pertanian tidak boleh berhenti untuk ketersediaan pangan.
" Maka, kita himbau petani tetap bekerja dan jaga kesehatan, jaga jarak dan tetap pake masker," pungkasnya.