
Panen parigi mountong
TABLOIDSINARTANI.COM, Parigi Mountong---Di tengah ancaman kerawanan pangan saat pandemi virus corona (Covid 19), Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, justru surplus beras.
Prediksi panen pertama tahun 2020 adalah 64.890,9 hektare (ha) dengan produktivitas 5,6 ton/ha, sehingga produksinya 363.389,4 ton gabah kering panen (GKP) atau 236.202 ton beras. Untuk tiga bulan, Januari 5.607 ha, Februari 5513 ha dan Maret 4.073 ja.
Dengan jumlah penduduk Parigi Moutong 466.000 jiwa atau 139,15 kg/kap/tahun, maka besaran konsumsi diprediksi sebesar 64.843,9 ton. Dengan demikian diperkirakan selisih produksi dan konsumsi, terdapat surplus beras sebanyak 171.358 ton beras.
“Panen raya awal tahun 2020 ini, Parigi Moutong Insha Allah surplus beras sebanyak 171.358 ton," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Parigi Moutong, Nelson Metubun di Palu, Senin (4/5).
Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulteng, Trie Iriani membenarkan Kabupaten Parigi Moutong tengah melakukan panen raya padi. Contohnya saat ini, petani di Kecamatan Parigi Selatan dan Torue.
Panen raya di Desa Masari dengan potensi 467.5 ha oleh Kelompok Sritumpuk 1 hektar dengan produksi 6,3 ton GKP. Sementara panen di Kecamatan Torue yaitu Desa Tanalanto, Desa Torue dan Desa Astina dengan luas panen sampai Mei 1198,8 ha dengan produktivitas 7,2 ton/ha.
Terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi menegaskan pertanian menjadi garda terdepan untuk mempertahankan ekonomi negara ini. Walaupun aktivitas terbatas di tengah wabah Covid 19, namun sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pihaknya tetap memantau secara penuh dan upaya menjamin ketersediaan pangan, terutama pada bulan Ramadhan ini.
Diperkirakan panen raya yang berlangsung pada April dan Maret ini. Karena itu pemerintah sudah mengantisipasi jangan sampai harga gabah di tingkat petani jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP, red) melalui Komando Strategi Penggilingan Padi (Kostraling).
Suwandi menjelaskan pola kerja Kostraling yakni bekerjasama dengan industri penggilingan yang siap menyerap gabah petani dengan harga yang sesuai. Karenanya, ia meminta kelompok tani maupun gabungan kelompok tani agar bisa menyerap Kredit Usara Rakyat (KUR).
"Di harapkan KUR menjadi salah satu solusi dan bisa ditingkatkan lagi tahun depan. Terutama untuk penggilingan padi, dapat dimanfaatkan untuk investasi maupun modal kerja dengan menyerap hasil petani sekitarnya," kata Suwandi.