Saturday, 06 June 2020


Dari Menolak, Petani Indramayu Akhirnya Kepincut Inpari 42 GSR

18 May 2020, 16:20 WIBEditor : Yulianto

Terminah mengungjungi penggilingan padi | Sumber Foto:Tarminah

TABLOIDSINARTANI.COM, Indramayu---Mengubah kebiasaan petani dalam berbudidaya padi memang tak mudah. Begitu juga saat mengganti varietas padi yang biasa petani tanam. Namun ketika sudah kepincut, petani akan menggunakan terus menerus.

Itulah yang dirasakan Tarminah, penyuluh pertanian lapangan di Kecamatan Bangodua, Indramayu. Misalnya, ketika pemerintah mengajak petani mengganti varietas yang biasa ditanam menjadi varietas hasil penelitian Badan Litbang Pertanian yakni Inpari 33, Inpari 42 dan Inpari Sidenuk.

Tarminah mengatakan, pada tahun 2018, pemerintah mengajak petani di Kelompoktani Tani Sari IV, Desa Wanasari, Kecamatan Bangodua, menerapkan program budidaya tanaman sehat. Pada program ini pemerintah memperkenalkan varietas Inpari 33 ,42, dan Inpari Sidenuk ini yang semuanya bertujuan untuk menghindari serangan hama wereng batang coklat dan penyakit kerdil rumput (klowor).

Ketua Kelompoktani Tani Sari IV, Carim mengatakan, saat sosialisasi demarea budidaya tanaman sehat, terutama saat penentuan varietas yang akan ditanam, banyak  petani menolak mengganti varietas padi. Namun akhirnya petani menerima keputusan musyawarah yang berlangsung bersama Penyuluh Pertanian dan petugas POPT (pengamat organisme pengganggu tumbuhan) yakni mengganti dengan varietas baru.

Walaupun kami belum senang menerima keputusan, tapi kami terpaksa tetap memilih salah satu varietas yakni Inpari 42. Inpari 33 dan Inpari Sidenuk sebelumnya kami sudah pernah coba, ternyata hasilnya kurang memuaskan untuk daerah Wanasari,” tutur Carim.

Carim mengungkapkan, meski masih ragu menanam varietas Inpari 42 Green Super Rice (GSR) pada musim pertama tahun 2018, namun petani merasakan terjadi peningkatan produktivitas saat panen. Kemudian, petani mencoba lagi pada musim tanam berkutnya. “Alhamdulillah, hasilnya tambah lagi. Harga juga tidak terlalu tertekan sudah sama dengan varietas lain,” katanya.

Carim mengakui, waktu pertama kali dikenalkan Inpari 42 GSR petani menolak dengan alasan bentuk gabahnya kecil, sehingga biasanya tengkulak tidak mau membeli gabah petani. Jika ada yang membeli, maka harganya lebih murah dibanding dengan varietas lain yang bentuk gabahnya besar.

Namun penolakan petani akhirnya berbuah manis. Pada musim tanam 2019/2020 hampir 60 persen anggota Kelompoktani Tani Sari IV, Desa Wanasari menanam Inpari 42 GSR.  

Petani kata Carim, juga merasakan kelebihan varietas unggul tersebut. Misalnya, saat musim hujan tinggi dan serangan hama penyakit meningkat, petani yang menanam Inpari 42 terhindar dari rebah dan hama penyakit.

“Petani bisa panen selamat dengan produktivitas 100,136 ku/ha. Ini memang luar biasa memang betul-betul super. Super sekali produktivitasnya,” kata Carim saat ditemui sedang menjemur padi di halaman rumahnya.

Pada kesempatan itu, Tarminah mengatakan, BPP Bangodua dalam mengembangkan inovasi teknologi penggunaan benih bersetifikat selalu melaksanakan kerja sama dengan pihak lain, terutama Balai Besar Penelitian Tanaman Pangan (BBP Padi), Shang hyang Sri atau penangkar yang ada di daerah. Bisa dalam bentuk percontohan varietas, dembul dan demarea.

“Kami harapankan ke depan petani melaksanakan kegiatan gilir varietas dan penggunaan benih bersertifikat sesuai hasil percontohan tersebut,” kata Tarminah saat monitoring dan evaluasi musim tanam 2019/2020 di Kelompoktani Tani Sari IV, beberapa waktu lalu.

Inpari 42 dan 43 merupakan salah satu jenis padi yang menghasilan beras pulen. Varietas padi ini disukai masyarakat internasional, salah satunya China. Varietas ini yang disebut GSR ini dirancang untuk varietas ramah lingkungan dan memiliki potensi hasil yang tinggi, meski ditanam di lingkungan yang kurang bagus. Tarminah

 

Reporter : Tarminah (PPL Bangodua)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018