Thursday, 02 July 2020


Jangan Ada Pangan Impor di Meja, Ganti Pangan Lokal !

29 May 2020, 11:47 WIBEditor : Gesha

Pangan lokal | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Konsumsi Pangan lokal terus digelorakan Kementerian Pertanian untuk ketahanan pangan nasional. Bukan hanya ubi-ubian saja tetapi aneka produk pertanian yang diproduksi petani setempat. 

"Jangan lagi ada produk pangan impor di meja makan, ganti dengan pangan lokal. Misalnya di Sumatera Utara, ada jeruk Medan, ganti konsumsi jeruk impor dengan jeruk Medan dari petani," seru Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi saat menyapa Kostratani dan Penyuluh Pertanian di seluruh Indonesia, Jumat (29/5).

Mengapa harus pangan lokal? Prof Dedi Nursyamsi menuturkan dengan konsumsi pangan lokal, akan lebih sehat. "Di saat yang sama bisa meningkatkan kesejahteraan petani kita," tambahnya.

Prof Dedi menyebutkan konsumsi pangan lokal ini dimulai dari diri sendiri, salah satunya dengan diversifikasi pangan. Salah satunya dengan program One Day No Rice. "Misalnya, pagi dengan konsumsi ubi-ubian, terus makan siang dengan nasi dan pangan lokal lainnya, buahnya buah lokal. Kita harus bertekad untuk memulai konsumsi pangan lokal," tukasnya. 

Di lingkungan kerja BPPSMP dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPPSDMP, Prof Dedi Nursyamsi mengakui pihaknya tidak menyediakan pangan impor, termasuk olahan tepung terigu dalam setiap kegiatannya. 

"Kampanye kembali ke pangan lokal ini harus dilakukan besar-besaran dengan dimulai dari diri sendiri, sehingga permintaan akan semakin tinggi dan petani semangat bertanamnya," tuturnya.

Mulai dari Desa

Selain kampanye, aspek kolaborasi juga diharapkan oleh Prof Dedi Nursyamsi bergerak langsung dari pedesaan sebagai sumber pertanaman pangan lokal hingga dikonsumsi masyarakat. 

"Penyuluh bisa mulai mengidentifikasi produk pangan lokal apa saja yang ada di daerahnya. Kemudian di Kabupaten bentuk sub terminal Agribisnis yang menampung aneka ragam pangan lokal dan memasok perkotaan sekitar," bebernya.

Kemudian intervensi pemerintah daerah juga diharapkan bisa dilakukan dengan mengembangkan Toko Tani Indonesia yang bisa menampung produk dari Poktan dengan harga yang memadai. "Bisa juga dilakukan secara online sehingga bisa langsung mencapai konsumen," tuturnya.

Namun, Prof Dedi menekankan perlunya mengolah pangan lokal untuk memberikan nilai tambah (value added) dengan menambahkan kreativitas UMKM setempat menjadi olahan yang kreatif. 

"Di daerah, pengolahannya bisa digarap bersama pemerintah daerah dengan pendampingan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di masing-masing provinsi. Pengolahannya pun harus dilakukan efisien sehingga menekan ongkos produksi dan harga yang lebih terjangkau di tingkat konsumen," tuturnya.

Dengan cara ini, Prof Dedi merasa optimis jika pangan lokal bisa mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia sehingga ketahanan nasional dengan pangan lokal bisa tercapai. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018