Thursday, 02 July 2020


Guru Besar IPB : Jadikan Pangan Lokal, Referensi Bagi Milenial

02 Jun 2020, 16:20 WIBEditor : Gesha

Aneka pangan lokal dalam sekotak bekal | Sumber Foto:FEMINA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Kreativitas milenial yang unik dan out of the box memang patut diacungi jempol, tak terkecuali dalam mengolah aneka sumberdaya lokal. Karena itu, milenial harus terus didukung untuk menggarap serius aneka olahan kreatif pangan lokal yang pada akhirnya mengakselerasi pendapatan petani. 

Salah satu sifat generasi milenial adalah menyukai makanan lokal. Pangan lokal menurut Prof. Edi adalah makanan yang dikonsumsi masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal yang diproduksi di bumi Nusantara oleh petani yang dekat dengan konsumen atau jaraknya paling jauh 100 mil atau 160 km.

“Sepuluh tahun mendatang, jumlah generasi milenial mencapai 41 persen penduduk Indonesia. Jadi, merekalah aktor pangan kita," tutur Guru Besar Fakultas Pertanian (Faperta) Institut Pertanian Bogor (IPB University), Prof. Dr. Edi Santosa.

Dari sifat dan kebiasaan, Anak milenial umumnya suka dengan pangan lokal dan etnik. "Suka pangan yang bisa mensejahterakan petani dan menyehatkan bumi. Atau untuk istilah sekarang adalah pertanian berkelanjutan,” ungkapnya.

Dari beberapa literatur, Konsumen milenial yang sejajar dengan arus informasi cepat ini memiliki sembilan kriteria pangan, yakni jelas identitas, secara visual menarik, mudah dipesan secara online, menyukai produksi lokal, menyelamatkan lingkungan dan menyenangi makanan etnis.

"Jika kita bisa mengelola isu pangan pada generasi milenial, maka ketersediaan pangan kita akan cukup. Buat stimulus agar pengolah kreatif ini dapat menciptakan variasi makanan menarik dari pangan lokal," ujarnya.

Pangan lokal seperti sagu, sukun, labu parang, gadung, huwi, ganyong, kimpul, iles-iles, suweg, talas dan sorgum sudah mengakar di masyarakat secara sosio kultural dalam budidaya dan pemanfaatan, memerlukan pengembangan pangan lokal yang luas cakupannya agar manjadi referensi pangan bagi milenial.

“Selama ini, rujukan anak-anak milenial adalah teman, ibu, website, blog dan media sosial. Berdasarkan riset, ibu muda (usia di bawah 35 tahun) nantinya tidak lagi berinteraksi dengan tanaman lokal kalau tidak dari sekarang kita perkenalkan dan jadikan referensi pangan bagi mereka," tuturnya.

Padahal potensi pangan lokal sangat besar. Di Aceh, ada 160 ragam pangan yang dibuat dari 123 jenis bahan lokal. Di pulau Sabu, ada 35 jenis tanaman pangan lokal yang dapat diolah menjadi ratusan jenis pangan. "Bahkan iles-iles itu sudah dimanfaatkan Jepang sejak jaman Perang Dunia II. Selain itu, umbi iles-iles ternyata mengandung glukomannan. Tepung glukomannan sudah diolah menjadi mie sehat shirataki, menjadi spon organik dan obat pelangsing,” ujarnya.

Hulu Hilir

Prof. Edi meyakini bahwa sumberdaya genetik pangan lokal ini sudah banyak memiliki varietas unggul yang dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan). Bahkan umumnya milenial yang mulai tertarik menanam akan langsung berkontak dengan peneliti atau balai penelitian setempat untuk membeli benih bersertifikat.

Aneka benih pangan lokal ini juga bisa dibudidayakan dengan sistem tumpangsari sehingga ramah lingkungan. "Sumber infonya bisa diperoleh dengan mudah oleh mereka dari internet bahkan mengobrol dengan peneliti," bebernya.

Selain itu, ragam seni kuliner merupakan modal penting untuk membangun sistem ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan. "Bagi milenial, pangan itu tidak hanya sebatas menanam dan memanen tanpa ada pasar, tetapi mereka sudah terbiasa menciptakan pasar sendiri dengan olahan kreatif pangan yang dimiliki," bebernya.

Prof Edi menyebut contoh beberapa olahan pangan lokal kreatif hasil kreasi milenial yang sudah banyak dikenal. Mulai dari bolu talas, rendang daun singkong, cookies daun talas dan lain sebagainya. "Contoh-contoh tersebut unik dan menggugah rasa ingin tahu seperti apa olahannya," tuturnya.

Dirinya sendiri optimis jika milenial Indonesia bisa serius menggarap pangan lokal tersebut menjadi referensi pangan baru bagi milenial lainnya. Hanya perlu dukungan dari pemerintah, untuk serius menjadikan pangan lokal sebagai gaya hidup masyarakat Indonesia. 

Reporter : Nattasya
Sumber : IPB University
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018