Friday, 07 August 2020


Meski Ribet Tanam Kedelai, Jiono Tak Berpindah ke Lain Hati

03 Jun 2020, 18:06 WIBEditor : Gesha

Jiono menunjukkan hasil panen | Sumber Foto:Kiswanto

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Petani kedelai di Desa Arjosari Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang masih setia untuk terus menanam dan mengembangkan kedelai. Tidak bisa dipungkiri jika menanam kedelai "agak ribet" untuk sebagian petani, namun bagi Poktan Ngudi Makmur II, Dusun Kedungwaru I Desa Arjosari Kabupaten Malang, menanam kedelai adalah kesetiaan tiada akhir.

Salah satunya adalah pengurus Poktan Ngudi Makmur II, Jiono yang sudah sekian lama jadi petani dan tidak berpindah ke lain hati untuk menanam komoditas lain.

"Kedelai selalu kita tanam di awal musim penghujan, karena daerah kami adalah daerah tadah hujan. Pada sebagian lahan, kedelai dapat ditanam di musim tanam kedua atau diakhir musim penghujan apalagi di saat sekarang ini, musim penghujan ternyata bertambah hingga akhir Mei dan awal Juni ini, Alhamdulillah. Rata-rata produktifitasnya 1,7-2,3 ton/ ha dari varietas Wilis dan Grobogan," bebernya panjang lebar.

Penyuluh Wilbin Desa Arjosari Mahmud Haryadi menuturkan, perminataan kedelai di pasaran tidak pernah turun. "Harga juga stabil dan hal ini menjadi motivasi bagi petani untuk terus menanam kedelai. Produktifitasnyapun terus naik dari tahun ke tahun dan ini menjadi berita baik bagi petani di Desa Arjosari," tuturnya. 

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kalipare, Ferly P. Tambunan mengaku senang karena komoditas kedelai ibarat permata yang makin dicari. "Di meja makan, tidak lengkap kalau tidak ada tempe. Tempe sudah jadi trademark nasional. Tempe adalah Indonesia dan tempe adalah makanan sehat yang banyak manfaat, baik bagi kesehatan dan diyakini bikin awet muda," tuturnya.

Panen kedelai di Desa Arjosari kali ini tentu melengkapi komoditas panen sepanjang bulan Mei dan Juni. Ferly mengaku banyak kendala yang mengakibatkan enggannya sebagian petani menanam kedelai. "Perlu ada strategi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Mungkin sudah waktunya diberikan semacam insentif bagi petani yang menanam kedelai, mengingat kedelai adalah simbol protein nabati utama kita," tambahnya.

Ferly menjelaskan sebagian pemenuhan kebutuhan kedelai diperoleh dari luar negeri, dan menjadi problema bersama dan klasik. Namun di tengah pandemi korona seperti sekarang ini, tentu sudah waktunya dibuatkan rencana besar mengenai perlunya momentum swasembada kedelai.

"Langkah kecil tentu sudah dibuat oleh Poktan Ngudi Makmur II dengan terus mengembangkan kedelai. Tidak kurang dari 100 ha ditanam sepanjang tahun tentu menjadikan Desa Arjosari bisa dikatakan mandiri kedelai," jelasnya.

Reporter : Kiswanto
Sumber : Penyuluh Pertanian Malang
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018