Friday, 10 July 2020


Tumpang Sisip, Kreativitas Petani-Penyuluh Tuban dan Blitar

27 Jun 2020, 08:16 WIBEditor : Gesha

Kedelai tumpang sari | Sumber Foto:Kontributor

TABLOIDSINARTANI.COM, Tuban -- Kreativitas petani bersama penyuluh terus diapresiasi Kementerian Pertanian khususnya dalam menjamin ketersediaan pangan hingga terbentuknya korporasi petani.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi memberikan apresiasi kepada petani yang inisiasi mempercepat masa tanam dengan sistem tumpeng sisip, seperti yang dilakukan oleh kelompok tani jagung di Kabupaten Tuban dan Blitar, Jawa Timur.

Petani bersama penyuluh kreatif mampu mewujudkan efisiensi waktu produksi dengan sistem tumpang sisip sebagai adaptasi terhadap kondisi tersedianya air untuk pertanaman.

Dirjen Suwandi merekomedasikan sistem tumpang sisip ini dapat direplikasi di tempat lain terutama wilayah pertanian yang memiliki potensi pengairan cukup.

Misalnya, petani Demak, 20 hari sebelum panen padi, petani tebar benih kacang hijau, sehingga setelah panen padi petani segera panen kacang hijau.

Dengan produksi 1,5 ton dan harga kacang hijau Rp12.000 – 14.000 per kilo, maka petani kreatif akan mendapatkan keuntungan Rp 12 juta per dua bulan setiap hektar.

“Pola-pola kreatif seperti ini perlu dicontoh dan diterapkan di tempat lain karena luar biasa dan menarik,“ kata Suwandi, Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Jumat (26/6).

Cara Bertindak

Cara kreatif tersebut diakui Suwandi merupakan bagian dari kebijakan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo untuk menggerakkan ekonomi petani mencakup 4 langkah yang disebut dengan cara bertindak (CB).

CB 1 adalah peningkatan kapasitas produksi melalui percepatan tanam padi MT II Tahun 2020 seluas 5.6 juta ha yang disesuaikan kondisi saat ini musim kemarau tetapi masih memungkinkan pertanaman; pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah seluas 164.598 ha; perluasan areal tanambaru (PATB) untuk padi, jagung, bawang merah dan cabai; serta peningkatan produksi gula, daging sapi, dan bawang putih untuk mengurangi impor.

CB 2 Diversifikasi Pangan melalui pengembangan pangan lokal berbasis kearifan lokal, pemanfaatan pangan lokal di antaranya ubikayu, jagung, sagu, pisang dan sorgum untuk meningkatkan pendapatan petani.

CB 3 mencakup penguatan cadangan dan sistemlogistik pangan melalui Penguatan Cadangan Beras Pemerintah Provinsi (CBPP), Penguatan Cadangan Beras Pemerintah Kabupaten/Kota (CBPK), serta penguatan sistem logistic pangan nasional untuk stabilitas pasokan dan harga pangan.

Selanjutnya CB 4 pengembangan Pertanian Modern melalui pengembangan smart farming, pengembangan food estate, dan pengembangan korporasi petani.

“Petugas lapangan tolong mendata, jika tidak ter-report dengan baik maka tidak terdata, sekarang harus berbasis spasial, standing corp difoto open camera dan dipetakan menggunakan sistem ArcGis (dipolygom-kan), otomatis terkirim ke Pusdatin, terutama untuk pertanaman di luas baku sawah. Kuncinya adalah pengairan, adanya sumber air, “ pesan Suwandi.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018