Saturday, 19 September 2020


Menabuh Kembali Genderang Diversifikasi Pangan

10 Sep 2020, 06:30 WIBEditor : Yulianto

Mie umbi ungu, pangan alternatif berbahan baku lokal | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Genderang diversifikasi pangan kembali ditabuh. Pandemi Covid-19 menjadi momen untuk menggaungkan kembali program diversifikasi pangan yang sempat sunyi.

Ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat memang membuat tekanan terhadap upaya peningkatan produksi padi cukup tinggi. Data Badan Ketahanan pangan (BKP), Kementerian pertanian, konsumsi beras masyarakat Indonesia tahun 2020 mencapai 92,9 kg/kapita/tahun.

Sementara itu di sisi lain, tantangan meningkatkan produksi beras juga cukup besar. Selain jumlah penduduk yang terus bertambah saat ini mencapai 267 juta jiwa, konversi lahan yang kian masif dan perubahan iklim juga sulit diprediksi membuat upaya peningkatan produksi makin tak mudah.

Karena itu salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras adalah dengan kembali mendorong diversifikasi pangan dengan komoditas pangan lokal non beras. Jika melihat potensi sumber karbohidrat di dalam negeri, maka tidaklah kurang kekayaan alam Indonesia terhadap sumber pangan.

Berbeda dengan pola program diversifikasi pangan sebelumnya, kali ini difokuskan kepada enam komoditas sumber karbohidrat  yakni, ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan talas.  “Saat ini, setiap provinsi difokuskan memproduksi panganan lokal selain beras. Ada enam komoditas pangan diantaranya ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan talas,” kata Sekretaris BKP, Riwantoro dalam diskusi Forum Wartawan Pertanian “Diversifikasi Pangan Kokohkan Ketahanan Pangan Nasional” di Jakarta, Selasa (8/9)

Dengan program diversifikasi pangan ini, Riwantoro menegaskan,  pemerintah berkomitmen menjaga kebutuhan pangan dan mencegah masyarakat kelaparan di saat pandemi covid-19. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatogi dan Geofisika (BMKG) menyebut akan ada ancaman kekeringan. Sementara Organisasi (FAO) juga  meminta setiap negara yang sedang mengatasi penyebaran virus corona juga menjaga kelancaran rantai pasokan makanan.

“Karena itu, kami secara konsistem menggalakkan diversifikasi pangan di wilayah masing- masing dan menjadi sebuah gerakan,bahkan di pekarangan rumah," katanya.  Riwantoro menyebutkan diversifikasi pangan ini bertujuan mengantisipasi krisis, penyediaan pangan alternatif, menggerakan ekonomi dan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat.

Riwantoro berharap dengan diversifikasi pangan akan menurunkan ketergantungan konsumsi beras. Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan penurunan konsumsi beras nasional sebesar 7 persen. Pada tahun 2020 konsumsi beras sebanyak 92,9 kg/kapita/tahun. Pada tahun 2024 ditargetkan, ditargetkan konsumsi sudah turun 7 persen ke posisi 85 kg/kapita/tahun. 

Penurunan itu setara 1,77 juta ton senilai Rp 17,78 triliun. Namun dengan catatan, penurunan konsumsi beras bisa dicapai asalkan ada intervensi dari pemerintah. Tanpa intervensi, penurunan konsumsi beras hanya mampu mencapai posisi 91,2 per kg per kapita per tahun.

"Kami targetkan ada satu penurunan pangan beras kita dan itu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi pangan lokalnya. Peluang diversifikasi besar karena masyarakat ingin hidup sehat dan terdapat peluang bisnis UMKM,” ujarnya.

Potensi pangan lokal

Sementara itu Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian RI, Kuntoro Boga Andri, Ph.D, menjelaskan,  Kementerian Pertanian memastikan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia sebanyak 267 juta jiwa harus tercukupi kebutuhannya. Karena itu, diversifikasi akan membantu ketahanan pangan  masyarakat.

“Ada potensi pangan lokal yang luar biasa dalam mendukung program diversifikasi pangan. Kita memiliki pangan lokal di luar beras. Program diversifikasi membantu masyarakat Indonesia swasembada pangan,” ujar Kuntoro.

Dari segi produktivitas, Kuntoro mengakui, potensi produktivitas ubi kayu mencapai 10 ton/ha dan pisang potensinya dapat mencapai 80 ton/ha.  Selanjutnya, perlu mendorong pasar untuk memperkenalkan produk. “Jadi imejnya pangan lokal harus ditingkatkan supaya menarik semua orang untuk konsumsi,” jelasnya.

Dukungan menggerakkan diversifikasi pangan datang dari kalangan milenial. Sandi Octa Susila, salah seorang Duta Milenial Pertanian menuturkan bahwa petani milenial juga mendukung diversifikasi pangan lokal. Bahkan  sudah melakukan ekspor mokaf atau tepung singkong dan sagu. Untuk itu, ia meminta potensi lahan harus dioptimalkan untuk budidaya. Selain itu, perlu juga membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuan pangan lokal.

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB University, Dr. Sahara menuturkan, pandemi Covid-19 menjadi momentum tepat untuk mempercepat diversifikasi pangan. Karena itu, pola padang  harus diubah bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat.  Karena selama ini,  pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan pangan jenis beras. Padahal, Indonesia memiliki ragam jenis pangan yang sangat berlimpah.

Menurutnya, saat ini Indonesia memiliki 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 110 jenis rempah dan bumbu, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 26 jenis kacang-kacangan, dan 40 jenis bahan minuman.

Namun, konsumsi beras per kapita yang terlampau tinggi.  Menurut Sahara, kondisi tersebut kontra produktif lantaran dapat menghambat investasi dan pengembangan produk pangan selain beras. “Efeknya, kemampuan kita memproduksi pangan lokal secara kontinu rendah. Belum lagi bicara soal teknologi pengolahan pangan lokal yang masih terbatas,” ujarnya.

Sahara mengatakan, diversifikasi pangan tidak hanya untuk pangan pokok, tetapi juga pada upaya mendorong keragaman konsumsi berbagai jenis makanan yang mengandung protein, serat dan vitamin yang tinggi. Makanya, upaya diversifikasi pangan harus dilakukan secara terintegrasi melalui aspek permintaan dan suplai.

Untuk keberhasilan diversifikasi pangan memang tidak bisa hanya Kementerian Pertanian yang menabuh genderang, semua lembaga pemerintah, bahkan swasta harus melakukan hal yang sama. Paling penting juga, seperti ditegaskan Dr. Sahara, kebijakan diversifikasi pangan ini harus konsisten dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018