Saturday, 19 September 2020


Petani Bogor Panen Padi Organik 8,1 Ton/Ha

10 Sep 2020, 12:50 WIBEditor : Ahmad Soim

Panen padi organik di Bogor | Sumber Foto:Dok Humas Kementan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor - Panen raya musim tanam April-September (ASEP) sudah mulai terlihat dibeberapa daerah. Di tengah ancaman bencana kekeringan baru-baru ini pada tanggal 9 September 2020, petani di Desa Gandoang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor melakukan panen raya padi organik dengan produktivitas 8,1 ton/hektar (ha) dan padi non organik dengan produktivitas 7,2 ton/ha.

"Di satu hektare sawah yang ditanami padi organik itu para petani berhasil memanen 8,1 ton. Sementara, di sawah yang ditanami padi nonorganik itu hasil panennya hanya 7,2 ton," ujar Kepala Dinas Pertanian, Holtikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Kamis (10/09/20).

Siti mengatakan di saat musim kemarau Gabungan kelompok petani (Gapoktan) Gandoang Jaya melakukan raya padi. Hal ini terjadi karena di lokasi tersebut tersedia embung yang mampu mengirigasi air ke sawah milik petani.

BACA JUGA:

Tuti Wariyati, Yuk Budidaya Padi Organik agar Konsumen Sehat Petani Sejahtera

Terdapat 650 Desa Padi Organik di Indonesia

"Alhamdulillah, di saat musim kemarau kami bersama Gabungan kelompok petani Gandoang Jaya masih bisa memanen raya padi. Hal ini bisa terjadi karena di lokasi ada embung hingga bisa mengirigasi air ke sawah milik petani tersebut,"katanya.

Siti menerangkan petani padi organik mendapatkan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan petani padi non organik. Dengan produktivitas yang lebih tinggi, Distanhorbun saat ini menyarankan petani Kabupaten Bogor untuk beralih menanam padi organik.

"Dengan hasil panen tersebut, kami pun menyarankan agar petani mulai beralih ke padi organik karena selain hasil panennya lebih banyak, harga jual padi organiknya juga lebih mahal hingga keuntungan yang didapat petani lebih besar,"ucap Siti.

Menurut Siti juga musim kemarau mempengaruhi produksi padi terutama di wilayah Kecamatan Jonggol, Cariu, Tanjungsari maupun sekitarnya dikarenakan wilayah tersebut kebanyakan memiliki sawah tadah hujan. 

"Saat ini di Bumi Tegar Beriman, sawah irigasinya lebih banyak dari pada sawah tadah hujan, namun untuk wilayah Kecamatan Jonggol, Cariu dan Tanjungsari yang banyak sawah tadah hujannya kita membutuhkan embung atau Waduk Cijuray,"

"Kita pun meminta bantuan pemerintah pusat, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum atau Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk membiayai dan melaksanakan pemangunannya," tutur Siti.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi berharap Kabupaten Bogor memiliki andil untuk menambah sumbangan produksi padi. Kementan tentunya akan selalu memberikan dukungan dukungan yang dibutuhkan.

"Diharapkan setiap wilayah membuktikan komitmennya. Komitmen untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat “ tambah Suwandi.

Suwandi menjelaskan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tidak hanya meningkatkan produksi, namun juga nilai tambah melalui kualitas dan menjamin harga jual sehingga turut dongkrak kesejahteraan petani. Kementan mengajak semua daerah mengembangkan korporasi petani yang didalamnya terdapat pengoptimalan fasilitas dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi menyediakan off taker yakni pelaku usaha yang membangun aspek hilir dan menjamin harga jual komoditas petani.

"Kami meminta petani bisa menyerap KUR melalu gerakan kostraling (Komando Strategi Penggilingan) sebagai pengamanan harga gabah. Sesuai arahan Mentan SYL produksi pangan harus jalan terus, dan petani menjadi garda terdepan di tengah kondisi wabah seperti ini," terangnya.

"Namun tetap harus juga dijaga kondisi petani, tetap bekerja tapi harus hati-hati juga protokol kesehatan harus terus diperhatikan," sambung Suwandi.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018