Saturday, 19 September 2020


Cegah Wereng , Ini Rekomendasi untuk Petani

10 Sep 2020, 15:50 WIBEditor : Yulianto

Gerakan pengendalian hama di Purworejo | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Purworejo---Hama dan penyakit tanaman memang ibarat tamu yang selalu datang ke lahan petani saat musim tanam. Sayangnya, tamu tersebut justru banyak merugikan petani.

Salah satu hama yang kerap mendatangi lahan petani adalah wereng batang cokelat (WBC). Hama  wereng pada tanaman padi  terdapat empat jenis, yaitu  wereng coklat (Nila parvatalugens stal), wereng punggung putih (Sogatella furcifera horvath), wereng hijau (Nephotetik  SPP), dan wereng loreng (Recilia dorsatis  motsch).

Dua jenis yang disebut pertama dikenal sebagai wereng batang (plant hopper). Sedangkan dua yang terakhir dikenal sebagai wereng daun (Leaf hopper). Diantara keempat jenis wereng tersebut yang seringkali menimbulkan kerugian adalah wereng coklat dan wereng hijau.

Wereng coklat dapat menyebabkan tanaman padi mati kekeringan dan nampak seperti terbakar (hopper burn) atau puso, dan dapat menularkan beberapa jenis penyakit  virus. Sedangkan wereng hijau walaupun kerusakan yang ditimbulkanya tidak begitu nyata, tetapi dapat menularkan virus tungro.

Wereng coklat merupakan hama paling menakutkan pada tanaman padi, karena pada serangan yang berat dapat menyebabkan puso (gagal panen). Tanaman padi yang terserang hama wereng coklat menunjukkan gejala  menguning dan mengering dengan cepat.

Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi dan melingkar (hopperburn). Selain sebagai hama, wereng coklat juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput pada tanaman padi.

Ancaman serangan wereng pun juga terjadi di Desa Kesidan, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah Gerakan percepatan tanam padi musim tanam ketiga tahun 2020 menyebabkan lahan tak pernah berhenti ditanami padi. Dampaknya, siklus hama tidak pernah terputus.

Penyuluh pendampingi petani di Desa Kesidan, Wibi menambahkan, hama wereng menyukai tanaman yang dipupuk N menggunakan dosis tinggi, jarak tanam rapat, dengan siklus hidup 21-33 hari. Sedangkan stadia rentan adalah sejak  pembibitan hingga  fase  masak susu. Hama ini menghisap cairan tanaman  pada  sistem vaskuler (pembuluh). “Adanya kegiatan ini menunjukkan keseriusan untuk menjaga stok pangan aman dan produktivitas padi meningkat,” pungkas Wibi.

Guna mengatasi serangan wereng, awal September 2020, bertempat di lahan sawah Kelompok Tani Usaha Bersama (KUB) Desa Kesidan diadakan gerakan massal pengendalian hama wereng. Kegiatan itu dihadiri POPT PHP, penyuluh pertanian lapangan, dan 20 orang pengurus dan anggota kelompok tani.

Trik cegah wereng

Petugas POPT PHP Kecamatan Ngombol, Sutomo mengatakan, umur tanaman padi yang terserang wereng bervariasi yaitu 10-25 HST dengan luas hamparan mencapai 10 ha. Untuk mencegah serangan wereng, ada beberapa rekomendasi kepada anggota kelompok tani.

Diantaranya, pengaturan pola tanam dan penanaman serempak, pergiliran tanaman, menanam varietas tahan wereng secara bergiliran, eradikasi tanaman terserang. Selain itu, pengamatan secara intensif karena padi yang terserang masih dalam masa pertumbuhan vegetatif. “Bisa juga dengan pemberian kapur pertanian/kapur dolomit, pengairan berselang, pengendalian hayati serta pengendalian kimiawi,” ujar Sutomo.

Ia menambahkan untuk pengendalian hayati, bisa dibantu musuh alami yaitu Laba –laba predator Lycosa pseudua anhsata. Predator lain yang tercatat adalah kepik Microvalia douglasi dan Cyrtorhinus lividipennis, kumbang Paederus Puscipues, Ophionea nignufasciata dan Synarmonia actoma culata.

Selain itu juga terdapat parasit telur Anagnus sp, Gona tocerus sp, dan Oligosita sp, serta jamur patogen Hirsutecla citrifornis. “Untuk pengendalian kimiawi, dilakukan apabila cara lain tidak mungkin lagi dan populasi wereng sudah berada di atas ambang  ekonomi,” tuturnya.

Sutomo menjelaskan, ambang ekonomi yang telah ditetapkan adalah rata-rata 5 ekor per rumpun untuk tanaman padi berumur kurang dari 40 hari atau rata-rata 20 ekor per rumpun untuk tanaman padi berumur lebih dari 40 hari setelah tanam. “Untuk penggunaan insektisida diusahakan sedemikian rupa agar efektif, efisien dan aman bagi lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo bahwa pertanian tidak boleh berhenti.  Saat ini, tantangan yang dihadapi pertanian adalah mencukupi pangan bagi seluruh rakyat indonesia. 

Kita harus memastikan ketersediaan pangan di seluruh tanah air. Untuk itu, saya mengajak seluruh penyuluh dan petani untuk tetap sehat di situasi pandemi Covid-19. Bisa mendampingi petani untuk genjot produksi, sama-sama turun ke lapangan, sama-sama tanam, olah tanah, panen, mengolah hasil panen, mendistribusikan hasil panen, sehingga petani mendapat penghasilan yang layak,” tutur Mentan.

Kepala Badan Penyuluh Pertanian Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyebut, tokoh penggerak utama pembangunan pertanian adalah penyuluh, petani dan petugas lapangan lainnya seperti POPT, petugas alsintan, dan lainnya.

Di sinilah menurut Dedi, peran Kostratani sangat dibutuhkan, khususnya untuk membantu petani meningkatkan produktivitas. Target Kementerian Pertanian yaitu peningkatan produktivitas 7 persen pertahun. Ini terjadi kalau ada yang menggerakkan. Siapa yang menggerakan itu? Tentunya penyuluh dan petani dengan didukung Kostratani," katanya.

 

Reporter : Bakti W.H/Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018