Saturday, 19 September 2020


Banyak Kelebihan, Petani Tuban Beralih ke Inpari 32

10 Sep 2020, 16:30 WIBEditor : Yulianto

Petani Tuban akhirnya memilih bertanam varietas Inpari 32 | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Tuban---Setelah bertahun-tahun terbiasa menanam varietas Ciherang, kini petani di Desa Kendalrejo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban akhirnya memilih menanam varietas Inpari 32 di lahan seluas 145 hektar (ha). Beralihnya petani menanam varietas tersebut, karena dinilai memiliki beberapa keunggulan.

Penggunaan varietas unggul Inpari 32 memang di luar kebiasaan petani yang dahulunya dominan dengan varietas Ciherang. Pilihan terhadap Varietas Inpari 32 ini karena petani anggota Kelompok Tani (Poktan) Rejo Makmur melihat banyak keunggulan.

“Varietas ini memliki banyak kelebihan, diantaranya tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri biotipe 3, tahan terhadap virus tungro ras langrang, tahan terhadap penyakit blas, serta hasil panen yang dapat diperoleh sekitar 8 hingga 9 ton/ha bahkan bisa mencapai 10 ton/ha,” ujar Penyuluhan Pertanian di Desa Kendalrejo, Kecamatan Soko, Titin Agustiningsih.

Untuk mendukung arahan Kementerian Pertanian, petani melakukan tanam serentak. Hal ini dimaksudkan untuk memutus rantai hama penyakit tumbuhan dan berbagai kemudahan lainnya. Misalnya, kemudahan dalam mendistribusikan sarana produksi, pengaturan irigasi, penggunaan alat mesin pertanian, penentuan waktu panen dan panen, serta pemenuhan kebutuhan mitra usaha karena panen telah terjadwal.

Berbekal pengalaman manakala Poktan Rejo Makmur, jika tidak melakukan tanam serempak, bisa mengakibatkan intensitas serangan hama yang tinggi, intensitas pengendalian yang sangat intensif dan berdampak pada keamanan pangan, tidak terputusnya siklus serangan hama, hasil yang tidak maksimal, in-efisiensi penggunaan biaya, waktu, dan tenaga.  Karena itu Poktan Rejo Makmur selalu berusaha mengajak anggotanya untuk menerapkan tanam serempak, agar penerapan varietas unggul dan tanam serempak dapat memberikan hasil maksimal.    

Titin menambahkan, gerakan tanam serempak pada MK 2 ini merupakan salah satu dukungan dengan program Kostratani. “Pengawalan dan pembimbingan kepada petani binaan, yang dilakukan penyuluh-penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Soko untuk menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa pertanian tidak boleh berhenti. Sebab, tantangan yang dihadapi pertanian saat ini adalah mencukupi pangan bagi seluruh rakyat indonesia. 

“Kita harus memastikan ketersediaan pangan di seluruh tanah air. Untuk itu, saya mengajak seluruh penyuluh dan petani untuk tetap sehat di situasi pandemi covid-19. Bisa mendampingi petani untuk genjot produksi, sama-sama turun ke lapangan, sama-sama tanam, olah tanah, panen, mengolah hasil panen, mendistribusikan hasil panen, sehingga petani mendapat penghasilan yang layak,” tutur SYL.

Kepala Badan Penyuluh Pertanian Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyebut bahwa tokoh penggerak utama pembangunan pertanian adalah penyuluh, petani dan petugas lapangan lainnya seperti POPT, petugas alsintan, dan lainnya.

"Di sinilah peran Kostratani sangat dibutuhkan, khususnya untuk membantu petani meningkatkan produktivitas. Target Kementerian Pertanian yaitu peningkatan produktivitas 7 persen pertahun. Ini terjadi kalau ada yang menggerakkan. Dan yang menggerakan itu tentunya penyuluh dan petani dengan didukung Kostratani," ujar Dedi.

 

Reporter : Nurlela/Titin/Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018