Monday, 28 September 2020


Pandemi dan Musim Kemarau, Tak Surutkan Petani Klaten Percepatan Tanam

16 Sep 2020, 06:42 WIBEditor : Yulianto

Gerakaan percepatan olah tanah dan tanam di Klaten | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Klaten---Musim kemarau dan kondisi pandemi Covid-19 yang belum reda tak menyurutkan petani untuk tetap turun ke sawah. Bahkan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, petani mempercepat pengolahan tanah sebagai persiapan menanam padi.

Gerakan Percepatan Olah Tanam dan Tanam (GPOT) padi pada musim kemarau di Kabupaten Klaten dilakukan di lahan seluas 500 ha. Lokasinya di wilayah Konstratani Kecamatan Karangdowo 400 ha dan BPP Kecamatan Juwiring 100 ha.

GPOT tersebut tak lepas dari dukungan Kostratani di Kabupaten Klaten untuk mendorong petani tetap mengolah lahan dalam kondisi keterbatasan air, meski saat ini tengah pandemi Covid. Hal ini dilakukan agar lahan tetap produktif secara optimal.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten, Widiyanti mengungkapkan, melalui BPP pihaknya akan terus mendorong dan mendampingi petani melakukan percepatan olah tanah, sehingga LTT (luas tambah tanam) dapat mencapai target.

“Kami juga mendorong agar petani tetap semangat tidak menyerah  dengan OPT, karena Klaten sebagai salah satu kabupaten penyangga pangan Jawa Tengah,” tuturnya saat GPOTdi Desa Bakungan Kecamatan Karangdowo. GPOT juga dihadiri Kepala Balai Pengujian Mutu Benih Pangan dan Hortikultura, pihak kepolisian dan TNI serta penyuluh dan POPT setempat.

Widiyanti berharap, gerakan tanam serentak dapat merangsang minat petani mengembangkan pertanian tanaman padi di lahan-lahan yang tersedia di tiap wilayah. Namun ia meminta agar berkoordinasi dan berdampingan dengan penyuluh pertanian lapangan dimasing-masing BPP.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klaten, Erni Kusuma Wati juga mengakui,  gerakan ini sebagai upaya percepatan dan pencapaian target LTT di Kabupaten Klaten.  Kegiatan ini harus dilakukan untuk antisipasi kekeringan, sehingga olah tanah terus dilakukan sejak dini, ujarnya.

Pada prinsipnya GPOT ini adalah mempercepat olah tanah pada lahan yang berpotensi untuk segera ditanami. Misalnya, pada lahan yang biasanya bera, lahan yang baru selesai panen dan kondisi kelembaban dalam tanah cukup untuk pertumbuhan benih.

Selain itu juga pada  lahan dekat sumber air (sawah/lahan kering/lahan lainnya) yang dapat memperoleh pengairan dengan mengoptimalkan alsintan. GPOT juga dilakukan pada lahan yang telah menerima penyaluran bantuan saprodi, namun belum dilakukan penanaman.

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menegaskan kepada seluruh insan pertanian bahwa di tengah pandemi Covid-19, petani dan penyuluh harus tetap bersinergi menyediakan kebutuhan pangan sehingga tidak terjadi krisis pangan.

“Walau masih pandemi Covid-19 don’t stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur,” kata SYL.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengakui, pandemi Covid-19 mempengaruhi perekonomian. Namun sektor pertanian semakin kokoh lantaran kerja keras petani didampingi penyuluh.

“Petani harus turun ke lapangan, penyuluh harus turun kelapangan dan mendampingi petani. Dalam kondisi apa pun, pangan tidak boleh bermasalah. Pangan tidak boleh bersoal. Untuk itu, kita harus tanam dan memastikan produksi tidak berhenti,” tegas Dedi.

Reporter : Lili Frischawati/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018