Monday, 28 September 2020


Harga Kacang Hijau Memikat, Petani Klaten Untung Berlipat

16 Sep 2020, 07:07 WIBEditor : Yulianto

Hamparan pertanaman kacang hijau di Kecamatan cawas, Klaten | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Klaten---Peluang pasar yang cukup besar membuat petani di Kecamatan Cawas, Klaten menanam kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) pada musim tanama ketiga (musim kemarau/MK) tahun ini. Padahal tahun-tahun sebelumnya, petani lebih banyak menanam kedelai.

Ketua KTNA Kecamatan Cawas, Ngadiyana mengungkapkan, petani memilih menanam kacang hijau karena daya tumbuhnya bagus dan tahan kering dibanding kedelai. “Harga saat panen juga sebagai alasan memilih kacang hijau,” katanya.

Dengan mengoptimalkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), penyuluh dan petani bersinergi di musim tanam MK III. Hampir semua desa di Kecamatan Cawas membudidayakan kacang hijau pada lahan seluas 1.700 ha. Pada penanaman MK III ini, petani menerapkan teknologi dengan menggunakan varietas unggul Vima 4 dan Vima 5.

Kelebihan dari varietas Vima 4 mempunyai potensi hasil 2,32 ton/ha biji kering. Kelebihan lainnya dari varietas Vima 4 dan Vima 5 adalah bisa dipanen serempak (80-85 persen), umur masak 56 hari, sehingga petani bisa menghemat biaya panen.

Apalagi harga saat panenpun sangat memikat, sehingga pendapatan petani bisa berlipat. Kelebihan itu menjadi daya ungkit tersendiri bagi tersebut kacang hijau sebagai komoditas pilihan petani.

Menanam kacang hijau di Kecamatan Cawas memang diluar kebiasaan petani yang sebelumnya dominan dengan kedelai. Hal ini dibenarkan Tut Wuri Handayani, penyuluh sekaligus petugas teknis di Kecamatan Cawas. “Saat ini sebagian besar petani di wilayah kecamatan Cawas beralih tanam kacang hijau, yang biasanya tanam kedelai,” ujarnya.

Data sampai akhir Agustus sudah tercatat dan dilaporan Kostratani setidaknya seluas 1.718 hektar (ha) pertanaman kacang hijau. Angka yang tidak sedikit untuk luasan komoditas kacang hijau. “Luasan itu hampir 85 persen dari seluruh lahan sawah di Kecamatan Cawas seluas 2.136 ha,” ungkap Tut Wuri.

Tut Wuri mengatakan, peningkatan luas tambah tanam kacang hijau menunjukan adanya ketertarikan petani sekaligus menyiasati kondisi terbatasnya sumber air, sehingga petani tetap bisa berproduktif. Berdasarkan kondisi tersebut penyuluh melalui program Kostratani siap mendukung dan mengawal petani. “Selanjutnya kami dapat mengevaluasi bersama antara petani dan penyuluh untuk perbaikan usaha tani yang akan datang,” ujarnya.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap dengan pengawalan Kostratani, pertanian lebih maju mandiri, bahkan dengan pengolahan menggunakan teknik yang lebih modern. “Pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedy Nursyamsi berharap seluruh petani dan pelaku utama pertanian agar selalu melakukan inovasi teknologi pertanian dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Diantaranya,  melalui penggunaan benih unggul bermutu, pemupukan berimbang spesifik lokasi, pengendalian OPT dan penanganan panen dan pasca panen yang baik dan tepat. “Jadi pertanian tidak boleh berhenti di tengah pandemi Covid ini,” tegasnya.

Reporter : Tut Wuri Handayani/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018