Monday, 28 September 2020


Petani Milenial : Bertani itu Cara Menantang dan Asyik untuk Masa Depan

16 Sep 2020, 07:11 WIBEditor : Gesha

Akhmad menjadi salah satu harapan dari petani milenial di masa depan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSIBARTANI. COM, Malang - - Jika hari ini kita sehat, kuat, produktif dan berprestasi, maka masa depan sudah pasti di tangan kita. Kalimat itu bisa jadi yang menggerakkan sosok anak muda milenial yang rela berpanas-panas, bercampur lumpur sawah. Namanya Akhmad Syafiq Abdillah (18 tahun), masih sekolah, mondok dan memantapkan diri untuk ikut budidaya beras merah di Pakisaji Kabupaten Malang.

Hari itu Sabtu pagi, ketika tidak ada proses pembelajaran dari sekolah dan tidak ada materi agama dari pondok, Akhmad panggilan akrabnya terlihat menyiangi lahan padi dengan power weeder. Alat yang sangat membantu dalam penyiangan untuk sistem tanam jajar legowo padi.

Akhmad mengikuti seluruh proses budidaya mulai dari pemilihan benih, penyebaran benih langsung (tabela), penggunaan bagan warna daun (BWD), pentingnya pupuk organik, baik organik cair maupun granul dan pengendalian hama penyakit padi.

Saat ditanya bagaimana bisa tertarik dengan budidaya padi padahal harus bergelut dengan panas dan lumpur, Akhmad meyakini bahwa bertani itu tantangan dan asyik.

“Asyik bertani itu, termasuk tanam padi beras merah ini. Saya dibimbing oleh ayah dan juga ada peneliti dari BPTP Jatim. Ada nuansa olahraganya juga, badan bergerak lebih aktif, kita juga bisa meresapi bagaimana para petani memulai hari-hari dari pagi hingga sore, dari tanam hingga saatnya panen. Asyik pokoknya, " ungkapnya. 

Di tempat yang terpisah, seorang peneliti dari BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jawa Timur, Saiful Hosni yang konsen dengan hubungan milenial dan pertanian menyampaikan bahwa saat pandemi covid-19 dan banyaknya aktifitas dari dalam rumah, bisa menjadi peluang bagi milenial untuk mencoba berusaha tani.

“Waktu yang ada dan longgar akan sangat baik jika digunakan untuk hal positif, salah satunya adalah budidaya padi beras merah di sawah dengan sistem tanam benih langsung jajar legowo. Para milenial sangat bagus dikenalkan aneka teknologi termasuk sistem tanam jajar legowo dan pentingnya penggunaan seluruh potensi di sekitar untuk kesuksesan budidaya padi tersebut," ungkapnya. 

Jika merujuk sebaran demografi, menunjukkan bahwa jumlah milenial makin mendominasi struktur usia penduduk. Berkisar 25 persen penduduk adalah milenial dengan satu ciri mereka sangat ingin tahu banyak hal.

Karena itu, jika diarahkan kearah hal yang positif dan produktif, maka ini bisa jadi satu sumbangan berharga investasi masa depan. Makin banyak ketrampilan yang dikuasai, maka makin besar bobot kualitasnya.

Terjun di dunia pertanian, lebih khusus padi tentu memang harus diintroduksi pertama kali, karena memang komoditas ini adalah komoditas paling strategis. Sangat mungkin dari lahirnya petani muda milenial dan santri seperti Akhmad yang memilih komoditas beras merah Pamelen (padi merah pulen) akan berpotensi mengembalikan kejayaan Indonesia berswasembada padi di masa depan. Karena pada dasarnya masa depan adalah hari ini dan Akhmad berada di jalur yang sebenarnya.

Reporter : Kiswanto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018