Tuesday, 27 October 2020


Sekolah Lapang, Bukan Sekedar Belajar dari Pengalaman

21 Sep 2020, 12:05 WIBEditor : Gesha

Sekolah Lapang bukan sekedar belajar dari pengalaman | Sumber Foto:Istimeea

TABLOIDSINARTANI.COM, Madiun --- Sekolah Lapang (SL) hingga sekarang masih menjadi andalan bagi penyuluh dalam penyebarluasan teknologi untuk petani. SL ini juga menjadi bagian dalam rencana kerja tahunan Program Integrated Participatory Development and Manajemen of Irrigation Project (IPDMIP). Setiap bulannya, penanggung jawab proyek selalu melakukan review kegiatan SL.  

Pertemuan review bulanan kegiatan  IPDMIP ini yang dihadiri Dinas pertanian dan Perikanan Kab. Madiun, Bappeda Kab. Madiun, Koordinator Penyuluh Kecamatan Kab. Madiun, PPL Wilayah Binaan, Staf Lapang IPDMIP, K/TPM Kab. Madiun, Korkab IPDMIP Kab. Madiun dan Konsultan On Granting, serta Ketua Gapoktan.

District Project Implementation Unit (DPIU) IPDMIP Kab. Madiun, Parna menyampaikan untuk semua pelaku program IPDMID diharapkan agar menjadikan pertemuan bulanan ini, menjadi upaya mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya. "Permasalahan atau kekurangan pada pelaksanaan kegiatan sebelumnya harus menjadi catatan penting serta memecahkan semua permasalahan bersama sama agar kegiatan IPDMIP berjalan lebih baik dan efektif," pesannya.

Salah satunya adalah pelaksanaan Sekolah Lapang (SL) yang disampaikan oleh koordinator penyuluh kab. Madiun ini. Dirinya menegaskan bahwa Sekolah Lapang bukan sekedar “belajar dari pengalaman”, melainkan suatu proses sehingga peserta didik yang kesemuanya adalah orang dewasa, dapat menguasai suatu proses “penemuan ilmu” yang dinamis dan dapat diterapkan dalam manajemen lahan pertaniannya maupun dalam kehidupan sehari-hari. 

"Hal ini penting, karena jaman ini sarat dengan unsur perubahan.  Diharapkan agar proses Sekolah Lapangan dapat menyiapkan petani tangguh yang mampu menghadapi dinamika sekarang dan tantangan masa depan," tegasnya.

Untuk diketahui, Kegiatan IPDMIP di kab. Madiun ini dilaksanakan di Daerah Irigasi (DI) Ketupu, Kawung, Sedah, Craken dan Sareng yang melingkupi  15 desa di wilayah DI tersebut. Karena itu, Kelembagaan/organisasi kelompok tani harus selalu aktif sebagai wadah untuk komunikasi antar petani, dengan melakukan pertemuan-pertemuan rutin. "Seperti yang dilaksanakan saat ini untuk mereview, dan membahas permasalahan serta berdiskusi untuk mencari pemecahan masalah bersama-sama,” tegas Parna.

Seperti diketahui bersama, bahwa kegiatan IPDMIP di tahun 2020 ini sempat menemui kendala akibat musim kemarau panjang di tahun 2019, sehingga membuat jadwal pelaksanaan SL tahap I, hal ini menjadi catatan dan bahan untuk evaluasi pelaksanaan SL selanjutnya.

Terkait pelaksanaan dan kendala yang di hadapi dilapangan,  beberapa Gapoktan menyampaikan apresiasinya dengan adanya kegiatan SL program IPDMIP ini. Dengan adanya SL ini, dirasakan petani memberikan manfaat karena memberikan informasi dan inovasi-inovasi di bidang pertanian. Ilmu-ilmu yang didapat di sekolah lapang seperti Jajar Legowo, pembuatan agen hayati dan pengendalian hama menggunakan pestisida hayati telah dipraktikan di beberapa lahan petani yang mengikuti SL.

Kendala yang dihadapi petani, rata-rata hampir sama yaitu hama tikus dan hama wereng. Dengan inovasi penggunaan pestisida hayati selain sederhana, biaya murah dan juga mendukung upaya pemerintah dalam pencemaran lingkungan dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan.

Penyediaan Pangan

Wakil Bappeda Kab Madiun, Dedy menuturkan proyek IPDMIP ini adalah proyek yang terintergrasi dengan Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang serta BPPKAD selaku Bendahara Umum Daerah. Sehingga, mengintegrasikan irigasi dan lembaga petani dengan tiga hal pokok, yaitu irigasi, peningkatan produksi hasil pertanian dan peningkatan pendapatan petani. "Disini peran PPL sangatlah penting untuk berbagi informasi dan inovasi di bidang pertanian dan tujuan dari program ini dapat terwujud dan stimulus yang diberikan pemerintah tidak sia-sia,” tambah Dedy.

Proyek ini juga terasa berkesinambungan dengan upaya pemerintah agar pertanian tetap berproduksi selama masa pandemi COVID 19 ini. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi, di masa pandemi Covid-19, ada dua solusi yang bisa dilakukan bersama-sama. Pertama adalah pendekatan medis, kedua pendekatan pangan. 

"Pendekatan pangan tidak kalah penting dari kesehatan. Karena dalam situasi dan kondisi apa pun, pangan tidak boleh bersoal. Apalagi dalam kondisi seperti pandemi Covid-19 sekarang. Oleh karena itu, seluruh insan pertanian di mana pun berada, Kementerian Pertanian punya tugas menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia," katanya. Karena itu Dedi Nursyamsi meminta proses produksi pangan dan pertanian tidak berhenti. Karena, hanya pertanian yang bisa menyediakan pangan. 

Semoga pelaksanaan program IPDMIP Kab. Madiun dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dan tentunya diharapkan dapat memberikan kontribusi dan penopang untuk mencapai sasaran swasembada beras sesuai dengan program Nawacita Pemerintah Indonesia.

 

Reporter : Agus Biyant
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018