Saturday, 24 October 2020


Usir OPT Kacang Hijau, Ini yang Dilakukan Petani Grobogan

22 Sep 2020, 17:54 WIBEditor : Yulianto

Tanaman bunga menghiasai lahan petani kacang hijau | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Grobogan---Deretan bunga kertas dan bunga matahari tumbuh asri dan cantik, menghiasi lahan sawah milik Sholikun (40) yang ditanami kacang hijau. Sejak dua tahun terakhir, petani di Desa Rajek Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menanam bunga kertas di tepi hamparan sawahnya.

Selain bunga kertas, Sholikun juga menanami sekitar sawahnya dengan bunga matahari dan bunga kenikir. Bukan hanya menambah keindahan pematang sawah, keberadaan tanaman bunga tersebut membuat ekosistem pertanian menjadi lebih sehat.

Keindahan bunga-bunga tersebut mempu mencegah serangan hama. Selama ini hama menjadi musuh bagi petani karena sangat merugikan. Hama yang merusak tanaman bisa menurunkan produktivitas tanaman.

Terlebih tanaman kacang hijau, tingkat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) cukup tinggi dari awal tanam hingga panen. Beragam cara kerap dilakukan untuk mengendalikan hama. Bahkan selama ini petani lebih memilih cara instan menggunakan pestisida atau insektisida.

Namun bagi Sholikun, penggunaan pestisida bukan cara bijak mengendalikan hama. Ia pun memilih menanam bunga sebagai tanaman refugia. Dengan tanaman bunga, dapat mengurangi pemakaian insektisida kimia sintetik pada tanaman kacang hijaunya.

Pada musim kemarau ini, Ia menanam kacang hijau varietas VIMA-1 seluas 6.073 meter persegi setelah panen padi selesai. Tanam kacang hijau ditanam dengan sistem sebar tanpa olah tanah. Sistem tanam Sebar, dilakukan 2 hari sebelum padi dipanen.

Tujuanya agar biji berkecambah dengan baik, karena masih ada naungan tanaman padi yang belum dipanen. Kebutuhan benih 50–0 kg/ha untuk sistem sebar. Dengan cara tanam ini, Solikhun dapat menghemat biaya tanam dibandingkan sistem tugal. “Memang cara ini lebih banyak kebutuhan benihnya, tetapi biaya penanaman lebih ekonomis karena tidak banyak membutuhkan tenaga kerja,” ujarnya.

Sholikun mengaku dalam pemeliharaan, dirinya memadukan pengendalian hama hayati dan kimiawi. Untuk agensia hayati, ia menanam refugia disekitar pematang tanaman kacang hijau. Sedangkan pengendalian secara kimiawi, menggunakan pestisida pada umur 0–30 Hari Setelah Tanam (HST), umur 30 HST atau menjelang berbunga.

Selama ini menurut Sholikun, intensitas penyemprotan pestisida saat menanam kacang hijau cukup tinggi dengan interval 2-3 hari saat tanaman berbunga. Penyemprotan ini untuk mengendalikan kembang kempel akibat serangan ulat penggerek polong (Maruca testulalis) hingga umur 45 HST atau bunga sudah menjadi polong muda. Pengendalian ulat tetap dilakukan hingga menjelang panen 58 HST dengan interval 5-7 hari.

Aplikasi tersebut, lanjut Sholikun berkurang signifikan setelah dirinya rutin menanam refugia di setiap musim tanam. Jika sebelum tanam refugia dirinya bisa menyemprot pestisida 15 kali, namun sekarang bisa menghemat 10-12 kali. Titik kritis pada pengendalian OPT kacang hijau pada umur 33 – 45 HST, bisa 2-3 hari sekali,” ujarnya.

Melihat biaya pengeluaran untuk pengendalian OPT pada budidaya kacang hijau yang cukup besar, Sholikun mengajak petani lain untuk menanam refugia di pematang sawah agar ekosistem terjaga dan bermanfaat bagi petani. OPT yang paling banyak menyerang tanaman kacang hijau saat ini adalah ulat grayak (Spodoptera Litura), lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), tikus, lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) dan lain sebagainya.

Dengan refugia, menurut Sholikun, hama-hama kacang hijau menjadi lebih tertarik untuk berkembang biak di daun/bunga dari tanaman refugia. Terliihat, tanaman kacang relatif aman/kerusakan sedikit dan tanaman refugia justru banyak kerusakan. Inilah bukti refugia sangat bermanfaat mengurangi intensitas serangan OPT kacang hijau,” tuturnya.

Senada apa yang disampaikan Sholikun, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Godong, Bambang Sunarto menuturkan, refugia merupakan jenis tanaman berbunga sebagai tempat hidup berbagai serangga yang menjadi musuh alami hama tanaman. Manfaat tanaman refugia bisa sebagai pengendali atau musuh alami dari hama.

Jika dengan cara disemprot pestisida, menurut Bambang, hama memang bisa kabur, tetapi masih bisa meninggalkan telur. Namun dengan menanam bunga di sekitar tanaman budidaya, telur tidak sampai menetas karena sudah diisap musuh alami yang berkembang biak pada bunga refugia ini. Adanya tanaman tersebut dalam agroekosistem padi diharapkan bisa meningkatkan keberagaman serangga musuh hama di lingkungan tersebut.

“Saya mengajak petani-petani lain untuk mengembangkan budidaya tanaman sehat, salah satunya pengembangan refugia. Kemampuan ekosistem pengendalian hama secara alami akan terjadi dengan baik dan seimbang melalui pengoptimalan manfaat sumber daya yang ada. Selain itu refugia juga membuat lahan semakin cantik dan berpotensi menjadi sarana agrowisata,” papar Bambang.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sejak awal dengan adanya Kostratani, pertanian lebih maju mandiri, bahkan dengan pengolahan menggunakan tehnik yang lebih modern. Bahkan pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedy Nursyamsi, mengatakan, pertanian tidak boleh berhenti ditengah pandemi Covid ini. Seluruh petani dan pelaku utama pertanian agar selalu melakukan inovasi teknologi pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian melalui penggunaan benih unggul bermutu, pemupukan berimbang spesifik lokasi, pengendalian OPT dan penanganan panen dan pasca panen yang baik dan tepat.

Reporter : Harmoko/Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018