Wednesday, 17 August 2022


Enam Komoditas Jadi Fokus Diversifikasi Pangan, Apa Saja?

23 Sep 2020, 10:56 WIBEditor : Yulianto

Tepung pangan lokal potensial substitusi terigu | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta- Pemerintah menetapkan enam komoditas sumber karbohidrat  yakni, ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan talas. Dari enam komoditas yang menjadi pilihan, tiga komoditas yakni pisang, kentang dan talas termasuk yang selama ini jarang disebut sebagai komoditas untuk mendukung diversifikasi pangan.

Berbeda dengan ubi kayu (singkong), jagung dan sagu yang memang kerap mendapat tempat sebagai sumber karbohidrat subtitusi beras. Ubi kayu, merupakan komoditas yang sudah banyak dikembangkan, termasuk produk olahan seperti tepung mocaf (modified cassava flour).

Begitu juga jagung dan sagu, sudah banyak pengembangan produk olahannya. Bahkan masyarakat Indonesia, khususnya wilayah Timur, dahulu menjadikan jagung (nasi jagung) dan sagu sebagai makanan pokok. Namun sejak pengembangan padi hampir di seluruh wilayah tanah air, posisinya tergeser oleh beras.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi mengatakan, penetapan lokasi pengembangan pangan lokal ini berdasarkan potret kebiasaan masyarakat setempat. Dengan demikian diharapkan menjadi lebih mudah masuk dalam menetapkan lokasi pengembangan.

“Kita tetap tetapkan ubi kayu, jagung, sagu, ketang, pisang  dan talas sebagai komoditas diversifikasi pangan. Peluang bisnis pengembangan komoditas tersebut masih terbuka. Selain itu juga memberikan peluang pada UMKM,” ujarnya.

Dongkrak Konsumsi

Data BKP hingga tahun 2024, pemerintah menargetkan produksi ubi kayu sebanyak 185.613 ton dengan luas budidaya 19.600 hektar (ha). Target konsumsi naik dari 8,6 kg/kapita/tahun (tahun 2019) menjadi 18,1 kg/kap/tahun (tahun 2024).

Ada 17 provinsi pengembangan yakni, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Banten, Kalimantan Barat, Kalimanten tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Jawa Tengah.

Untuk jagung konsumsi, pemerintah menargetkan produksi sebanyak 88.370 ton dengan luas 20.890 ha. Target konsumsi naik dari 2,2 kg/kapita/tahun (tahun 2020) menjadi 4,1 kg/kapita/tahun (tahun 2024). Daerah pengembangannya berada di 7 provinsi yaitu, NTT, Gorontalo, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Tengah, Bali dan Lampung.

Sementara pengembangan sagu berada di 7 provinsi yaitu Riau, Kepulaun Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua dan Papua Barat. Target pengembangan hingga 2024 seluas 7.400 ha dan produksi 26.600. Sedangkan konsumsinya naik dari 0,3 kg/kapita/tahun menjadi 2,3 kg/kapita/tahun.

Bagaimana dengan kentang, pisang dan talas? Data menyebutkan, pengembangan kentang akan difokuskan di 4 provinsi yaitu, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Maluku Utara. Dengan target produksi sebanyak 2,74 juta ton dan luas 132.157 ha. Sedangkan target konsumsinya menjadi 7 kg/kapita/tahun, naik dari 2,9 kg/kapita/tahun.

Pengembangan pisang juga berada di 4 provinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi dan Jawa Barat. Dengan luas budidaya 10.520 ha dan produksi sebanyak 736.220 ton. Target konsumsinya naik dari 7,2 kg menjadi 9,5 kg/kapita/tahun.

Sementara untuk talas, pemerintah menargetkan produksi sebanyak 21.650 ton dengan luas budidaya 2.165 ha. Lokasinya di 14 provinsi yaitu, Papua Barat, Papua, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, NTT, Bali, Kalimantan Barat, NTB, Maluku Utara, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Target konsumsinya naik dari 0,6 kg menjadi 3,5 kg/kapita/tahun.

Agung mengakui tantangan paling berat dalam program diversifikasi pangan adalah ketersediaan. Produksi pangan lokal sebagai sumber karbohidrat masih perlu ditingkatkan. Tantangan lainnya adalah olahan pangan lokal tersebut perlu ditingkatkan dan harganya juga  belum kompetitif. “Untuk itu perlu perlu edukasi masyarakat  dan kampanye perlu ditingkatkan. Kita harapkan konsumsi beras turun menjadi 85 kg/kap/th pada tahun 2024,” ujarnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018