Monday, 19 October 2020


Jagung Diserang Ulat Tentara, Penyuluh Jepara Serang Balik

09 Oct 2020, 13:19 WIBEditor : Yulianto

Gerakan pengendalian hama ulat grayak atau ulat tentara dilakukan penyuluh di Jepara | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jepara---Gerak cepat dilakukan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Kalinyamatan, Jepara. Bekerjasama dengan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh melakukan gerakan pengendalian (gerdal) hama ulat grayak yang menyerang tanaman jagung.

Sebelumnya petugas telah melakukan pengamatan OPT pada tanaman jagung sejak Agustus dan mendeteksi adanya serangan hama ulat grayak pada tanaman jagung di Desa Sendang sekitar 5 ha dan Desa Damarjati seluas 1 ha.

Saat terjadi serangan hama ulat grayak di Kecamatan Kalinyamatan, umur tanaman jagung berkisar 14-25 HST (Hari Setelah Tanam), sehingga masih mampu diselamatkan. Gerdal dilakukan di lahan milik Kelompok Tani (Potan) Margo Tentrem II, Desa Sandang dilanjutkan areal jagung Poktan Sido Mulyo di Desa Damarjati.

PPL Kecamatan Kalinyamatan, Rully Dwihapsari mengatakan, Gerdal hama ulat grayak pada tanaman jagung di Desa Sendang dan Damarjati menggunakan insektisida kimia dengan racun bahan aktif Metomil. Pengendalian dilakukan agar serangan hama ulat grayak ini agar tidak semakin meluas.

Mengingat masih dalam masa pandemi Covid-19 gerakkan pengendalian hama ulat grayak dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan,” kata Rully.

Dikatakan, pencegahan dan pengendalian hama ulat grayak pada tanaman jagung dilakukan semata-mata agar petani tidak mengalami kerugian akibat gagal panen. Prioritas edukasi dan pendampingan petugas melalui program Kostratani harus terus dilakukan agar petani mengerti dan mempraktekan budidaya sehat tanaman jagung. “Diharapkan produksi jagung aman dan produktivitas meningkat,” ujarnya.

Ulat grayak (S.frugiperda) merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman jagung. Ulat ini tidak berbulu dan biasa disebut petani sebagai ulat tentara karena menyerang dengan populasi tinggi. Siklus hidup ulat grayak dapat berlangung dari 32-46 hari dari mulai fase telur sampai fase imago (dewasa).

Ulat grayak memiliki daya migrasi tinggi. Dengan bantuan angin, larva dapat menginvasi tanaman di sekitarnya. Ulat grayak biasanya menyerang pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat  bersembunyi di dalam tanaman  atau di dalam tanah.

Gejala serangan hama ini antara lain daun tanaman jagung rusak, berlubang tidak beraturan dan daun menjadi gundul pada serangan hama yang sudah parah, serangan hama ulat grayakpada permukaaan atas daun atau pucuk tanaman jagung ditemukan kotoran seperti serbuk gergajidaun menjadi gundulpada serangan hama yang sudah parah.

Bahkan pada kerusakan berat seringkali menyebabkan daun tanaman tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung. Daun yang tidak bersisa menjadikan jagung tidak berbuah. Populasi larva 0,2-0.8 larva per tanaman jagung dapat mengakibatkan pengurangan hasil produksi sebanyak 5-20 persen.

Sementara itu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) selalu berpesan sejak awal adanya Kostratani, pertanian harus lebih maju mandiri,  bahkan dengan pengolahan menggunakan teknik yang lebih modern. Pertanian juga harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat, sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengapresiasi BPP yang telah melaksanakan dan mendukung program Kostratani. Sebagai pusat data dan informasi, Kostratani juga sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian. Kostratani juga menjadi pusat pembelajaran, konsultasi agribisnis, dan pusat pengembangan jejaring kemitraan,” ujarnya.

Reporter : Rully Dwi/Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018