Monday, 19 October 2020


KTNA bilang Food Estate Keniscayaan, Ini Alasannya

12 Oct 2020, 09:36 WIBEditor : Yulianto

Lahan food estate di Kalimantan Tengah | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah telah mengibarkan bendera pengembangan food estate di Kalimantan Tengah. Bagi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) pengembangan lumbung pangan masa depan di Pulau Borneo itu menjadi sebuah keniscayaan.

“Food estate keharusan, sebuah keniscayaan,” kata Ketua KTNA, Winarno Tohir saat diskusi “Food Estate Perkuat Cadangan Pangan Nasional” yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) melalui aplikasi Zoom, Minggu (11/10)

Ada beberapa alasan yang menurut Winarno, food estate menjadi keharusan. Pertama, karena lahan pertanian di Indonesia setiap tahunnya semakin menyusut. Kedua, jumlah penduduk juga meningkat setiap tahun 1,3 persen. “Jadi perhitungan matematiknya setiap tahun Indonesia surplusnya tidak banyak. Bisa dilihat data BPS total produksi nasional dikurangi konsumsi per kapita per tahun kali jumlah penduduk,” tuturnya.

Ketiga ungkap Winarno, data dari IRRI luas panen perkapita Indonesia dibagi jumlah penduduk Indonesia hanya 408 meter persegi saja. Hitunganya, luas panen Indonesia dalam setahun 10,9 juta ha dengan produksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 56,54 juta ton atau beras 32,42 juta ton. Konsumsi perkapita/tahun 111,58 kg dan jumlah penduduk 266,91 juta jiwa (134 juta laki-laki dan 132, 89 juta perempuan).

Luas panen 10,9 juta ha dibagi jumlah penduduk, maka luas panen hanya  408 meter persegi/kapita.  Sedangkan produksi setahun dibagi luas panen hanya 5.187 kg GKG atau 2.974 kg beras. Dengan luas lahan 408 meter persegi, produksi beras 121.33 kg  dikurangi konsumsi 111,58 kg, hanya tersisa sisa 9,75 kg/kapita/tahun.

Dengan sisa konsumsi perkapita per tahun yang sangat sedikit Indonesia rentan terhadap kekurangan pangan untuk masa depan. Apalagi jika terjadi gangguang anomali iklim. Ini karena lahan kita sempit. Karena itu perlu food estate di berbagai daerah,” tuturnya.

Untuk itu Winarno berharap peranan BUMN/BUMD sangat diperlukan dalam mendukung kelancaran terbentuknya food estate dengan baik. Terutama mendukung kelengkapan dalam on farm seperti benih, pupuk, pestisida, traktor roda 4, mesin tanam, mesin penyebar pupuk, mesin panen, pengering dan penggilingan padi serta pakingnya.

“Juga pembinaan dan pengawalan dari penyuluh baik dari pemerintah maupun dari mitra atau stakeholder,” katanya. Dengan demikian, petani tidak lagi menjual gabah basah atau kering, tapi sudah menjual dalam bentuk beras, sehingga harga jualnya lebih tinggi  dan keuntungannya menjadi lebih besar.

Karena lahan yang masih tersedia di food estate adalah lahan marginal, sehingga memerlukan penerapan teknologi terkini. Dukungan teknologi modern sudah harus diterapkan mulai dari teknologi benih biotek sampai penggilingan padi.

Pemerintah juga perlu mendorong pengembangan industri pengolah limbah padi. Misalnya, jerami bisa dijadikan tekblok, katul jadi minyak goreng (rice brand oil), menirnya jadi tepung dan sekam dibakar menjadi panas yang bisa menggerakan turbin menjadi listrik. “Kalau semuanya bisa dijalankan dengan baik, maka petani akan sejahtera,” ujarnya.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018