Sunday, 24 January 2021


Jepa dan Nasu Bura, Menu Favorit Pangan B2SA Kota Makassar

16 Nov 2020, 19:34 WIBEditor : Yulianto

KWT kecamatan Rapopocini berhasil menjadi Juara I lomba Cipta Menu B2SA Kota Makassar | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Makassar--- Menu Jepa dan Nasu Bura menjadi favorit Gerakan Konsumsi Pangan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kedua menu itu merupakan pangan olahan berbahan baku lokal.

Dalam lomba Lomba Cipta Menu B2SA yang dilaksanakan Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassae, menu yang ditampilkan Kelompok Wanita Tani (KWT), Kecamatan Rappocini berhasil menyabet juara pertama. Kegiatan tersebut berlangsung di BPP Sudiang yang melibatkan KWT dari 15 kecamatan yang diwakili masing-masing 2 peserta.

Setiap peserta lomba menyajikan menu makan siang dengan porsi 1 ayah, 1 ibu dan 2 orang anak dengan menu yang beragam beserta minuman herbal sebagai penambah imunitas dalam menghadapi pandemic Covid-19 ini.  Tim penilai dari  akademisi Universitas Hasanuddin, guru SMK 8 Makassar Jurusan Tata Boga dan pengusaha muda dan praktisi olahan pangan. 

Menurut Rosmini, perwakilan KWT  Rappocini, Jepa merupakan makanan sumber karbohidrat  pengganti beras yang berbahan dasar ubi kayu/singkong parut yang dipanggang. Sedangkan Nasu Bura merupakan sumber protein berbahan dasar bagian dalam batang pisang batu yang belum berbuah yang dimasak bersama ayam dan bumbu – bumbu lainnya.

Rosmini mengatakan, menu yang disajikan tersebut merupakan hasil uji coba KWT dalam meracik bahan dasar dan bumbu-bumbu. Alhasil menghasilkan citarasa yang menggugah selera,  tektur  yang nyaman dikonsumsi  dan tetap bergizi.

“Alhamdulillah, terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami. Kegiatan ini merupakan salah satu wadah kami untuk berinovasi dalam hal pengolahan pangan lokal,” tuturnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Makassar  Hj. Sri Sulsilawati  berharap dengan lomba cipta menu B2SA tersebut memotivasi setiap individu agar dapat menyajikan dan menyediakan menu baru bagi keluarga sehari-hari. Dengan demikian, masyarakat mau mengkonsumsi makanan yang beragam, bergizi, seimbang dan aman.

Alternatif pangan sumber karbohidrat tindak hanya dari  beras saja, tapi juga dapat diperoleh dari  jagung,  ubi kayu, sukun, sagu, dan aneka umbi-umbian lainnya yang nilai gizinya tidak kalah dari beras,” katanya.

Sri Sulsilawati juga berharap dari kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam menerapkan prinsip beragam, bergizi, seimbang dan aman dengan memanfaatkan pangan lokal. Selain itu mendorong percepatan  penganekaragaman pangan di tingkat keluarga untuk mengkonsumsi aneka jenis pangan dengan porsi seimbang.

Seperti diketahui, Gerakan Konsumsi Pangan B2SA ini merupakan salah satu upaya pemerintah meningkatkan kesadaran dan membudayakan  masyarakat dalam pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, aman untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.   Apalagi hingga kinimasih rendahnya konsumsi sayur, buah, umbi-umbian, pangan hewani, dan kacang-kacangan di kalangan masyarakat.

Bahkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) telah mengkampanyekan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal pada Hari Krida Pertanian pada 28 Juni 2020 lalu. Slogannya, indah dan bahagia dengan pangan lokal dalam rangka upaya mendorong ketersedian dan konsumsi pangan yang seragam, berimbang dan aman agar ketahanan pangan tetap kokoh dan tangguh.

Mentan SYL juga berpesan dalam menghadapi wabah Covid-19, pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujarnya.

Hal ini sejalan juga  dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa.

Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen,” katanya. 

Reporter : Andi Kahfiani/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018