Friday, 22 January 2021


Untung Kingkong Tumpangsari Jagung dan Singkong

16 Nov 2020, 20:06 WIBEditor : Yulianto

Jarak tanam tumpang sari jagung-singkong | Sumber Foto:tanamanpalawija.com

TABLOIDSINARTANI.COM, Gresik---Menyiasati musim kemarau, petani di Desa Gosari, Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik, Jawa Timur menyiasati dengan melakukan tumpang sari jagung dan singkong. Untungnya pun bak kingkong (besar).

 Pola tanam tumpang sari antara jagung dengan singkong merupakan salah satu paket teknologi anjuran dalam upaya menyiasati budidaya dimusim kemarau agar tetap untung. Salah seorang petani yang menarapkan pola tanam ini adalah Rohman.

“Jika petani menerapkan pola tanam monokultur jagung atau singkong saja berisiko terhadap kekeringan dan fluktuasi harga di pasaran, sehingga bisa diterapkan pola tanaman tumpang sari jagung dan  singkong,” katanya.

Penyuluh Pertanian BPP Kostratani Ujungpangkah, Endang Purwanti mengungkapkan, petani di Kecamatan Ujungpangkah mremang terbiasa membudidayakan singkong bersamaan dengan jagung. Harapannya jagung yang bisa dipanen pada umur 4 bulan diteruskan dengan tanaman singkong sampai 8 bulan.

Petani biasanya menanam jagung varietas Hibrida (BISI 2 atau Pertiwi). Sedangkan jenis singkong menggunakan varietas lokal yang memiliki ciri khas rasa pahit, namun kandungan pati yang banyak.

“Tentu ketika dua atau lebih jenis tanaman tumbuh bersamaan akan terjadi interaksi, masing-masing tanaman harus memiliki ruang yang cukup untuk memaksimumkan kerjasama (cooperation) dan meminimumkan kompetisi (competition),” tutur Endang.

Karena itu, menurut Endang, dalam tumpang sari perlu dipertimbangkan berbagai hal. Diantaranya, pengaturan jarak tanam, populasi tanaman, umur panen tiap-tiap tanaman, dan arsitektura tanaman.

“Dengan potensi keuntungan yang tinggi diharapkan bisa mendapatkan produktivitas hasil juga tinggi, sehingga kesejahteraan petani meningkat pola tanam tumpangsari  jagung dan singkong laik untuk diusahakan,” kata Endang

Hal ini sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian di masa yang akan datang tidak bisa diolah dengan cara yang biasa. Namun harus dikerjakan dengan cara yang serba maju, serba baru dan lebih modern.

"Minimal dengan terjadinya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian," terang SYL.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, Kostratani menjadi pusat pembelajaran, konsultasi agribisnis, termasuk juga pusat pengembangan jejaring kemitraan. 

BPP Kostratani mendukung gerakan pembangunan pertanian yang dilakukan dengan berbagai cara. Seperti pendampingan dan pengawalan gerakan pembangunan pertanian.

 

 

Reporter : Isdianto/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018