Saturday, 23 January 2021


Solusi Kedelai Nasional?Tanam di Lorong Kebun Sawit atau Lahan Replanting

09 Jan 2021, 14:35 WIBEditor : Gesha

Pertanaman kedelai di lahan sawit hasil replanting | Sumber Foto:Balitkabi

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Luasnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia dinilai berpotensi untuk ditanami kacang kedelai, khususnya di areal yang harus dilakukan peremajaan (sebagai tanaman sela).

Polemik naiknya harga kedelai di pasar global dan ketidaklancaran distribusi sehingga berimbas pada naiknya harga tahu tempe di Indonesia seharusnya sudah bisa ditekan dengan produksi di dalam negeri. Sayangnya, di tahun 2020 silam, Kementerian Pertanian hanya menargetkan produksi kedelai sebesar 1,12 juta ton, jauh di bawah target pada 2019 yang sebanyak 2,8 juta ton, mengacu pada realisasi produksi kedelai sepanjang Januari—Oktober 2019 baru mencapai  480.000 ton atau 16,4?ri target.

Pengembangan area penanaman kedelai juga masih jauh dari target pemerintah yang dipatok pada angka 616.105 hektare (ha). Per Oktober 2019, area pengembangan baru mencakup lahan seluas 115.318 ha. Di sisi lain, pemerintah menargetkan replanting kebun sawit mencapai 2,49 juta hektar selama periode 2017-2021, luasan areal tersebut pun bisa dioptimalkan untuk menanam komoditas kedelai.

Apalagi, beberapa varietas kedelai dapat menjadi tanaman sela di lahan replating kelapa sawit berumur 3 tahun, yaitu sebelum cabang dan daun lebar sawit menutupi tanah. Dan diperkirakan hasil total produksi bisa mencapai 3,55 ton per ha. Dengan demikian, sampai 2021 produksi kacang kedelai bisa terangkat hingga 8,83 juta ton.

Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sendiri memiliki teknologi budidaya kedelai yang ditanam di lorong-lorong tanaman kelapa sawit yang masih muda, berumur kurang dari empat tahun, atau disebut Budena. “Di tahun 2018 telah dilakukan pengembangan Budena di antara kelapa sawit di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tata letak tanaman kelapa sawit tersusun dengan jarak tanam antar kelapa sawit adalah 9 m x 8 m, sedangkan lorong yang ditanami kedelai pada ukuran 9 m,” ungkap Peneliti Balitkabi, Gatut Wahyu Anggoro Susanto.

Untuk TBM1 (tanaman kelapa sawit berumur sekitar 1 tahun),  potensi lahan yang bisa ditanami kedelai dengan lebar lorong 7 m (naungan sekitar 5%). Sementara pada TBM2 (tanaman kelapa sawit berumur sekitar 2 tahun) potensi lahan antara 4,5 m – 5,0 m karena terkendala vegetasi tanaman kelapa sawit yang menutupi lorong (naungan 20% hingga 30%). “Untuk itu, areal lahan TBM1 pada area satu hektar yang bisa ditanami kedelai seluas 0,80 hektare (ha), sedangkan pada TBM2 maksimal 0,6 hektare,” terangnya.  

Teknologi Budena kelapa sawit meliputi : pemupukan NPK 175 kg + SP36 75 kg + dolomit 750 kg/ha yang diberikan bersamaan tanam dengan cara larikan, tanam dengan cara tugal, satu lubang tanam 2-3 biji, dengan jarak tanam ganda 50 cm x (30 cm x 20 cm) dan tunggal (40 cm x 20 cm). Varietas kedelai yang digunakan antara lain Dena 1, Dega 1, Anjasmoro dan Argomulyo.

Teknologi Budena yang diterapkan di lorong lahan tanaman kelapa sawit pada TBM1 memiliki tingkat potensi hasil kedelai lebih tinggi (tidak termasuk lahan yang ditanami kelapa sawit) dibandingkan dengan lahan di TBM2. Perbedaan tersebut karena di lahan TBM2 memiliki naungan yang lebih besar, kendala lainnya adalah akar kelapa sawit sudah menjalar hingga ke tengah lorong yang diduga mempengaruhi tanaman kedelai.

Menurut Gatut, teknologi Budena yang diterapkan di lorong lahan tanaman kelapa sawit pada lahan TBM1 menunjukkan produktivitas hasil biji mencapai lebih dari 2,36 ton/ha (penggunaan lahan 80%). Sedangkan di TBM2 menghasilkan kedelai 1,07 t/ha (penggunaan lahan 60%).

“Berdasarkan produktivitasnya, terlihat bahwa kedua model jarak tanam tidak berpengaruh besar, namun demikian model jarak tanam ganda lebih mudah dalam pemeliharaan tanaman, utamanya pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kedelai,” tuturnya.

VUB Tahan Naungan

Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Badan Penelitan dan Pengembangan Pertanian, di tahun 2020 juga sudah merilis beberapa varietas kedelai yang tahan naungan dan cocok untuk dijadikan tanaman sela sawit.

Pada bulan Oktober 2020, Balitkabi melepas dua varietas kedelai. Nama dua varietas kedelai unggul baru yang baru dilepas adalah varietas Denasa 1 dan Denasa 2. 

Menurut peneliti Balitkabi, Gatut Wahyu Anggoro yang melepas kedua varietas tersebut memaparkan bahwa kedua varietas kedelai yang dilepas merupakan varietas yang diperoleh dari serangkaian proses pemuliaan yang cukup panjang. Sehingga bisa melahirkan varietas berbiji besar, produktivitas tinggi dan toleran naungan. 

Lebih lanjut Gatut juga menjelaskan bahwa kedelai yang baru dilepas memiliki kelebihan dari varietas yang telah dirilis sebelumnya yaitu varietas Dena 1 dan Dena 2. Salah satunya adalah karakter bobot biji yang tergolong berukuran besar, karena berat bobot per 100 biji di atas klasifikasi ukuran biji yang telah ditentukan yaitu > 14 gram

“Selain sama-sama memiliki tahan terhadap naungan juga potensi hasilnya lebih tinggi dan bijinya lebih besar dari varietas Dena 1 dan Dena 2, bahkan bobotnya per 100 biji rata-rata di atas 18 gram” ucap Gatut.   

Berdasarkan deskripsinya varietas Denasa 1 dan Denasa 2 mempunyai potensi hasil rata-rata 3,42 ton/ha dan 3,43 ton/ha, rata-rata hasil masing-masing 2,25 dan 2,31 ton/ha. Berat bobot per 100 biji varietas Denasa 1 sebesar 18,19 gram dan Denasa 2 beratnya sebesar 18,55 gram. Untuk bentuk biji kedelai, varietas Denasa 1 bentuknya lonjong sedangkan varietas Denasa 2 bentuk bijinya bulat. Selian itu, kedua varietas tersebut memiliki ketahanan terhadap kerebahan tanaman

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018