Saturday, 23 January 2021


Pakar : Lupakan IP 400, Fokus Perbaiki Teknik Budidaya

11 Jan 2021, 16:57 WIBEditor : Gesha

Guru Besar IPB University, Prof. Dwi Andreas Sentosa | Sumber Foto:Dok. Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Upaya pemerintah untuk menggenjot produksi melalui IP 400 atau 4 kali tanam dalam setahun, dipandang sebagai langkah yang mustahil. Bakal ada dampak negatif dari lingkungan yang harus ditebus jika ini terus dilakukan.

"Saya enggak paham gimana caranya bisa IP 400. Tidak mungkin IP 400 dilakukan dan itu sangat potensial terjadi ledakan populasi hama terutama wereng jika dilakukan di lahan yang luas. Kalau untuk spot-spot ya silahkan saja," tegas Guru Besar IPB University dan Pakar Bioteknologi Tanah, Genetika Molekuler, Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa M.S ketika dihubungi tabloidsinartani.com, Senin (11/1) via sambungan telepon.

Menurutnya, Dari segi peningkatan produksi dan produktivitas juga tidak mungkin untuk bisa menanam 4 kali dalam setahun, walaupun mempunyai varietas-varietas umur pendek (70 -80 hari panen) Begitupula dari dampak lingkungan, justru akan menjadi bridging site (menjadi jembatan/penyebab) untuk ledakan hama dan penyakit.

Dwi yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) ini menyarankan, peningkatan produksi maupun produktivitas bisa dilakukan dengan cara perbaikan teknik budidaya padi. Seperti yang dilakukannya saat pendampiingan Pilot Project Pengembangan Pangan Terintegrasi 1.000 Ha di Sukamandi antara  PT Sang Hyang Seri (Persero) (SHS), PT Pertani (Persero), dan Klaster Pangan BUMN di pertengahan tahun 2020 silam.

"Kami membantu RNI untuk meningkatkan produksi dan produktivitas dari petani. Hasilnya terjadi peningkatan produktivitas dari 6 ton/hektar menjadi 8 ton per hektar. Atau sekitar 30 persen bisa ditingkatkan. Jika bisa direplikasi ke daerah lain maka potensi kenaikan produksi bisa 10-15 persen dan ini sangat memungkinkan. Lupakan IP 400," tukasnya.

Kuncinya, ada pada perbaikan teknik budidaya yang dilakukan petani, mulai dari  tata kelola air, pemupukan dan pengendalian hama. Disitu saja peningkatan sudah tinggi. Dengan perbaikan tersebut, Dwi sangat meyakini produksi dan produktivitas padi bisa meningkat dalam skala luas tanpa harus memberikan dampak negatif pada tanah. "Indonesia sebenarnya masih bisa lebih tinggi peningkatan produksi dan produktivitasnya. Sekarang ini produksi padi menurun terus di periode 2014-2019 menurun terus per tahu 0.42 persen. bukannya meningkat," tuturnya.

Untuk diketahui, pengembangan kawasan pertanian di Sukamandi tersebut merupakan bagian dari upaya Klaster Pangan BUMN mendorong peningkatan produksi beras nasional serta guna meningkatkan kesejahteraan petani melalui program Corporate Farming yang terintegrasi dari hulu (produksi) hingga hilir (pemasaran). 

Dalam skema bisnis Corporate Farming ini SHS berperan sebagai penyedia lahan, benih, serta inisiator kerjasama dengan petani. untuk aspek manufaktur, Pertani berperan menyediakan pengolahan dari mulai drying, cleaning, hingga packaging. Pertani juga berperan sebagai off taker yang menjamin penyerapan gabah yang dihasilkan petani. Adapun, distribusi dan pemasaran produk pertanian dilakukan oleh RNI.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018