Saturday, 23 October 2021


Mahalnya Sertifikasi Hambat Pertanian Organik

03 Jul 2013, 12:15 WIBEditor : Julianto

Pangan organik kini menjadi tren yang terus berkembang di masyarakat dunia. Karena itu menjadi peluang besar bagi petani di Indonesia.

Sayangnya dari hasil kajian Aliansi Organis Indonesia (AOI) di tujuh kabupaten yakni Sukabumi, Maros, Tabanan, Semarang, Agam, Jombang dan Toba Samosir, petani justru terhambat dengan persyaratan dan mahalnya sertifikasi organik.

Anto Waspo, Koordinator Tim Studi Kebijakan Pertanian Organik di tujuh kabupaten yang diselenggarakan AOI April-Juni 2013 dalam acara Bogor Organic Fair beberapa waktu lalu mengakui, di tingkat petani yang menjadi sasaran program banyak terhambat biaya sertifikasi.

Akibatnya, sebagian kelompok tani yang sudah memahami persoalan sertifikasi memilih tidak menggunakan sertifikasi dari pihak ketiga. Kelompok petani ini mengembangkan sistem penjaminan bersama dengan konsumen yang membeli produk mereka.

“Secara kreatif, banyak kelompok petani yang mulai mengembangkan metode dan pengayaan sarana produksi organik seperti benih, pupuk dan agen hayati.  Kegiatan tersebut menjadi penghasilan tersendiri bagi kelompok tani,” katanya.

Sabastian Saragih, Presiden Aliansi Organis Indonesia menyayangkan, sistem penjaminan organik berbasis komunitas belum diakui Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pertanian. Padahal secara global sistem penjaminan ini sudah diakui banyak negara khususnya di pasar domestik.

Karena itu AOI melihat, jika pemerintah hanya mengakui sistem penjaminan yang dilakukan lembaga sertifikasi pihak ketiga, maka petani kecil akan kesulitan untuk mengakses karena biaya sertifikasi pihak ketiga cukup mahal. Petani berlahan sempit juga sulit dan tidak akan mampu membiayai.

Sementara itu Paula Yahya dari Nuernberg Messe GmbH mengakui, tantangan dalam pengembangan produk pertanian organik di Indonesia adalah biaya sertifikasi yang masih mahal. Padahal produk pertanian organik mempunyai pasar khusus yang tuntutan terhadap kualitas makin tinggi. “Harus diakui standardisasi organik di Indonesia belum bisa diterima di masyarakat Eropa,” katanya.

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

Editor : Julianto

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018