Sunday, 28 February 2021


Dongkrak Produksi Padi, BPP Sidareja Garap Lahan Jati dan Albasia  

21 Jan 2021, 10:29 WIBEditor : Yulianto

Lahan kering jadi target PATB | Sumber Foto:BPP Sidareja

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap---Upaya mendukung pemenuhan pangan lewat optimalisasi pemanfaatan lahan sawah dan lahan-lahan baru terus digencarkan Kementrian Pertanian dibawah komando Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). Salah satunya adalah Program Perluasan Areal Tanam Baru (PATB).

Dengan program ini diharapkan dapat menjawab ancaman krisis pangan pada masa pandemi Covid-19. Termasuk upaya peningkatan tambahan produksi padi periode  Oktober 2020 – Maret 2021 lewat pemanfaatan lahan-lahan baru.

“Untuk memperluas areal tanam, kita harus menyasar ke lahan yang belum pernah ditanami tanaman pangan. Adapun syarat lahan PATB adalah lahan kering, tadah hujan dan lahan rawa yang belum masuk sasaran tanam tahun 2020 yang belum pernah ditanami padi sebelumnya,” ujar SYL.

Koordinator BPP Kostratani Sidareja, Yusuf Irianto mengatakan, melalui Kelompok Tani (Poktan) Sari Reja, telah dibuka pengembangan perluasan tanaman pagi gogo seluas 20 ha tepatnya di Desa Kunci. Lokasi PATB yang dibuka Poktan Sari Reja terletak di perbukitan tanaman tahunan, seperti disekitar pohon jati dan albasia.

Pelaksanaan PATB  di BPP Kecamatan Sidareja juga membidik lahan kering seluas 5 ha yang berlokasi di Desa Karanggedang bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Daerah Hutan (LMDH). Sebelum adanya PATB, luas tanam padi di Kecamatan Sidareja periode Oktober 2020 – Maret 2021 mencapai 1380 ha, melalui PATB terdapat penambahan luas 25 ha.

Diharapkan nantinya produksi padi tersebut mampu menyumbang tambahan stok pangan beras. Berdasarkan pantauan yang dilakukan atas sinergi penyuluh pertanian dan petani, pertumbuhan padi varietas inpari 33 yang ditanam pada lahan kering program PATB pada awal Oktober lalu, kini mengalami pertumbuhan yang baik. Hal ini diuntungkan, karena tercukupinya air lewat curah hujan yang cukup.

Namun demikian sarana sumur dan pompa juga tetap di terapkan sebagai upaya pencegahan terjadi kekurangan air serta untuk pemenuhan air di musim mendatang. “Untuk itu kami optimis hasil panen ke depan akan baik,” kata Yusuf.

Eti Solikhatun, penyuluh pendamping di Kecamatan Sidareja mengatakan, adanya program PATB ini sangat membantu petani,  terlebih saat pandemi covid 19 sekarang ini perlu upaya keras dari masyarakat untuk memulihkan ekonomi.

Adanya bantuan benih, pupuk, pestisida, sarana pompa dan sumur, serta biaya bantuan olah tanah dari pemerintah sangat bermanfaat  bagi petani. Bentuk bantuan Kementerian Pertanian ini sangat mendidik masyarakat petani agar terus produktif dan bergerak aktif. Apalagi bentuk bantuan yang harus dikelola dan bahkan sebagai modal untuk keberlanjutan usaha tani mereka kedepannya.

Sementara itu dalam beberapa kesempatan Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan, Suwandi menyatakan, PATB menjadi syarat utama lokasi untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Hal ini agar bantuan pemerintah dapat menjangkau wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan akses produksi.

Untuk mempertahankan keberlanjutan tanam, areal PATB tahun 2020 diprioritaskan mendapatkan bantuan budidaya pada tahun 2021. Selanjutnya petani diajak mandiri dengan memanfaatkan subsidi pemerintah lainnya seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi menjelaskan kunci keberhasilan pembangunan pertanian itu diawali dari kebangkitan SDM.

“Percuma punya senjata canggih dan mematikan jika tidak ada penembaknya. Artinya SDM sangat besar peranannya. SDM di pertanian sendiri adalah petani, poktan, gapoktan, penyuluh, praktisi pertanian dan masih banyak lagi,” tuturnya.

Reporter : Eti S/Yeniartha (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018