Wednesday, 17 August 2022


Garap Lahan Marginal, Situbondo Tanam Sorgum

01 Feb 2021, 12:37 WIBEditor : Yulianto

Budidaya sorgum di Situbondo | Sumber Foto:Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Situbondo---Potensi lahan marginal di Indonesia cukup besar. Padahal bisa untuk mendukung ketahanan pangan. Di Kabupaten Situbondo, lahan marginal tersebut kini dimanfaatkan untuk pengembangan sorgum.

Bahkan Pemerintah Kabupaten Situbondo diketahui telah meneken Nota Kesepahaman dengan PT. Sorgum Koltim Sejahtera untuk membudidayakan sorgum. Rencananya, pengembangan sorgum dilakukan di lahan marginal yang selama ini sulit diupayakan kegiatan usaha pertanian. Hampir 48 persen atau sekitar 31.000 ha lahan di  Kabupaten Situbondo merupakan lahan kering atau lahan marjinal.

Dipilihnya sorgum sebagai komoditi yang akan dikembangkan karena sorgum mampu berkembang dengan baik pada lahan marjinal tersebut. Tanaman sorgum sebenarnya telah cukup lama dikembangkan petani di Situbondo, tapi karena permintaan pasar yang kurang, secara sistematis pertanaman sorgum dari tahun ke tahun terus berkurang.

Berdasarkan catatan pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Situbondo, saat ini tersisa sekitar 10 ha tanaman sorgum dengan tingkat produktivitas sekitar 2 ton/ha/musim.

Salah satu ruang lingkup MoU yang ditanda tangani adalah jaminan pemasaran hasil panen petani. Dengan demikian, diharapkan kendala pemasaran yang dirasakan oleh petani saat ini diharapkan terpecahkan.

Direktur PT. Sorgum Koltim Sejahtera yang akrab dipanggil Joe saat diwawancara Jumat (29/1) menyampaikan, saat ini ada empat negara di asia yang sudah berminat untuk mengimpor sorgum dari Indonesia. Tapi karena jumlah produksi masih sangat terbatas, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi.

“Saya optimis dengan adanya Gerakan pertanaman sorgum yang didukung Pemerintah Kabupaten Sitobondo serta Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan, permintaan tersebut mudah-mudahan dapat dipenuhi,” ujarnya.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan, pihaknya berkomitmen mendukung kegiatan pengembangan sorgum di Indonesia. Apalagi di saat pandemi seperti saat ini, masyarakat harus lebih banyak mengkonsumsi pangan yang lebih menyehatkan untuk tubuh.

Apa yang disampaikan Dirjen Suwandi tersebut senada dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bahwa orientasi pangan mulai diubah tidak hanya pada beras saja, namun dengan sumber karbohidrat lain, salah satunya adalah sorgum.

Senada hal tersebut,  Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Gatut Sumbogodjati  mengatakan, komitmen Kementerian Pertanian untuk menjadikan sorgum mempunyai nilai tambah, sehingga bisa dengan mudah di terima di pasar. Sorgum bisa menjadi alternatif pangan lokal yang patut dikembangkan.

“Saya rasa banyak daerah di Indonesia ini yang memiliki kondisi tanah yang cocok untuk dikembangkan sorgum. Bahkan tahun ini kami mulai akan mengembangkan seluas 5.000 hektar, terutama di wilayah timur seperti NTT untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi penduduknya,” tutur Gatut.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018