Wednesday, 14 April 2021


Grandong, Tradisi Panen ala Pandeglang

08 Feb 2021, 21:45 WIBEditor : Yulianto

Buruh panen di Pandeglang yang biasa disebut grandong | Sumber Foto:Regi

TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang---Pertanian menjadi salah satu penyerap tenaga kerja cukup besar. Salah satu potensi penyediaan lapangan kerja pertanian adalah ketika panen raya. Kegiatan ini melibatkan  banyak tenaga kerja sebagai buruh panen.

Di Kabupaten Pandeglang Banten tepatnya di Kecamatan Sukaresmi rombongan buruh panen populer kerap disebut Grandong. Berbeda dengan Grandong tokoh jahat yang menjadi anak buah Mak Lampir dalam serial Misteri Gunung Merapi yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta Indonesia.  Di beberapa wilayah, Grandong ,erupakan sebutan hama pada pertanaman bawang merah.

Namun di Pandeglang, istilah Grandong merupakan rombongan/regu buruh pemanen padi  yang justru meringankan kerja petani saat musim panen tiba

Sunara, SP., M.Si, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)  Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) Kecamatan Sukaresmi mengatakan, regu Grandong mengerjakan panen secara berkelompok menggunakan alat mesin perontok seperti power thresher. Namun alat ini dirakit kembali sedemikian rupa agar putaran kipasnya lebih cepat, sehingga hembusannya lebih kencang.

 “Istilah Grandong itu mesin perontok padi yang cara kerjanya didorong. Mesin ini dirakit kembali oleh mereka, terutama pada kipas dan polynya agar cepat dan hembusannya kencang. Regu panen yang menggunakan mesin ini disebut regu panen Grandong,: kata Sunarna, Minggu (7/2).

Regu buruh panen Grandong biasanya berjumlah lebih dari 50 orang terdiri dari pria dan wanita. Biasanya anggota regu wanita bertugas memotong batang padi dengan arit atau sabit yang dikenal dengan istilah ngarit/menyabit. Sementara kaum pria mengumpulkan padi (mupul) dan memanggulnya ke tempat mesin grandong/power thresher yang biasanya berada di area panen untuk dirontokan.

“Tarif jasa regu panen ini borongan dengan tarif Rp 8.000/kwintal.  Ongkos ini dinilai relatif murah dan terjangkau oleh petani,” katanya.

Petani mengakui, keberadaan regu Grandong ini dirasakan manfaatnya. Salah satunya. Aan, petani dari Kelompok Tani Karya Sadar Desa Karyasari Kecamatan Sukaresmi. Pemilik 25 hektar lahan ini menuturkan, dengan menggunakan jasa regu Grandong pekerjaan panen menjadi lebih cepat. Sebagai pemilik lahan Ia hanya tinggal menunggu gabah diantarkan sampai di rumah.

“Adanya regu Grandong, menolong masyarakat petani di pedesaan. Kami  merasa terbantu karena tidak repot-repot lagi melakukan panen. Tinggal tunggu di rumah saja, Grandong sudah menyelesaikan panen dilahan sawah dengan cepat dan mengantarkan gabah hasil panen sampai di rumah,” ujarnya.

Ada lima regu Grandong di Kecamatan Sukaresmi yang jasanya digunakan petani setiap panen. Mereka berpindah-pindah  dari satu desa ke desa lainnya, bahkan antar kecamatan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan, sektor pertanian  merupakan kekuatan besar dalam membuka banyak lapangan kerja. Untuk itu, diperlukan inovasi dan terobosan baru yang melibatkan generasi muda dalam mengoptimalkan potensi yang ada.

Kepala Badan penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi mengakui, peran sektor pertanian di Indonesia saat ini cukup signifikan Hal ini  terlihat dari kontribusinya terhadap penyediaan lapangan kerja bagi hampir separuh total penduduk.

Untuk itu  pemerintah Indonesia terus mendorong peran penting sektor pertanian dalam menciptakan lapangan kerja di pedesaan, memberikan perlindungan sosial, meningkatkan pendapatan keluarga petani, serta memastikan ketahanan pangan nasional.

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018