Sunday, 28 February 2021


Optimis, Food Estate Kalteng Penopang Produksi Nasional

22 Feb 2021, 11:16 WIBEditor : Gesha

Tanaman padi di areal food estate | Sumber Foto:Dok Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Food Estate Kalimantan Tengah yang kini menjadi program super prioritas Kementerian Pertanian semakin optimis menjadi penopang penting dalam produksi pangan khususnya padi Nasional.

"Kami (Kementerian Pertanian) optimis food estate hingga tahun 2024 ini menjadi penopang penting produksi pangan di Kalimantan Tengah bahkan produksi nasional," ungkap Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Ir. Priatna Sasmita M.Si kepada tabloidsinartani.com.

Optimisme ini terlihat dari semakin meningkatnya rata-rata produksi yang dilakukan di denfarm kawasan food estate berkat intervensi teknologi Balitbangtan. Sebelumnya, rata-rata produksi padi di Kalteng ini masih relatif rendah hanya 425 ton GKG dengan luasan baku sawah mencapai 140 ribu hektar, sehingga rata-rata hanya 3,2 ton per hektar. "Harapannya dengan intervensi teknologi ini, rata-rata produksi padi bisa diatas 5 ton per hektar," tuturnya. 

Jika bisa mendongkrak kenaikan ini, dampaknya terhadap penyediaan pangan di Kalteng sangat besar. Hitung-hitungan Priatna, dari 164.500 hektar lahan food estate dengan rata-rata 4 ton GKG per hektar saja sudah bisa membukukan 658 ribu ton.

"Dibandingkan dengan jumlah penduduknya 2,7 juta jiwa dan tingkat konsumsi 110 kg per orangnya. Sehingga secara total kebutuhan beras di Kalteng hanya 297 ribu ton saja per tahunnya. Bisa dibayangkan banyak kelebihan beras yang bisa dihasilkan dari kawasan food estate ini," ungkapnya.

Apalagi, food estate dikembangkan secara multikomoditas, terintegrasi hulu hilir sehingga tak hanya memberikan produksi, tetapi juga upaya hilirisasi melalui meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk komoditas tani. 

"Jadi tak hanya memproduksi gabah saja, tetapi dengan nilai tambah menjadi beras premium sehingga harga berasnya lebih tinggi. Limbah hasil sampingnya seperti jerami, sekam, menir dan dedak yang bisa dimanfaatkan lanjut," jelasnya. 

Upaya hilirisasi ini tentunya perlu melibatkan kelembagaan yang ada, seperti Gapoktan, Koperasi Petani, Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) bahkan Badan Usaha Milik Petani (BUMP). 

Penerapan Teknologi

Diungkapkan Priatna, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Balitbangtan adalah mereplikasi kesuksesan lahan denfarm center of excellence ke kawasan food estate yang lebih luas. 

Untuk diketahui, lahan food estate yang ditargetkan tahap pertama ada sekitar 30 ribu hektar yang berada di Kabupaten Pulang Pisau (10 ribu hektar) dan  Kabupaten Kapuas (20 ribu hektar). Hingga tahun 2024 ditargetkan sampai 164.500 hektar lahan sawah di Kalimantan Tengah.

"Pendampingan bagi petani ini harus dipikirkan untuk lahan yang lebih luas. Dari lahan denfarm 2 ribu hektar kemarin dilakukan secara intensif dan sukses. Mulai dari menyiapkan teknologi spesifik lokasi dan didampingi bagaimana penerapannya," ungkapnya.

Dalam waktu dekat akan ditugaskan peneliti-peneliti dari Balitbangtan untuk jangka waktu tertentu di kawasan food estate, agar teknologi budidaya, pascapanen, pengolahan, dan hilirisasinya bisa diterapkan petani.

Termasuk, memberikan solusi jika teknologi tersebut terkendala di lapangan. Misalnya terkait hama dan penyakit tanaman, benih baru yang selama ini belum dikenal petani. 

Di tahun ini, ditargetkan ketersediaan inovasi dan teknologi dari Balitbangtan bisa sampai ke petani sehingga bisa menjadi pilihan terbaik bagi petani untuk diterapkan di food estate. Selanjutnya, target produksi dan produktivitas sebagai implementasi inovasi teknologi bisa tercapai. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018