Sunday, 28 February 2021


Wakil Bupati Aceh Tamiang: Bertani Organik adalah Tugas Mulia

22 Feb 2021, 13:21 WIBEditor : Gesha

Foto peserta dengan Wakil Bupati | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang ---  Dalam mensukseskan pertanian organik, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunnak) Aceh Tamiang, baru baru ini melaksanakan kegiatan sosialisasi pengembangan pertanian organik pada lahan padi seluas delapan hektar, milik kelompok Tani Jaya desa Tanah Terban, kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang (16/2).

Acara tersebut dihadiri 80 peserta dibuka langsung oleh Wakil Bupati Aceh Tamiang T. Inshafuddin, selain dihadiri Kadis, para Kabid, Koordinator BPP/penyuluh dan petani setempat juga tim Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Aceh serta narasumber dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Dr Ir H. Basri A. Bakar MSi dengan materi Menggagas Gampong Pertanian Organik.

Wakil Bupati T. Inshafuddin menyampaikan, bahwa bertani bukan hanya sekedar menjalankan bisnis, bertani organik adalah tugas mulia yang harus kita dukung bersama. “Untuk itu, selalulah bekerja dengan niat sebagai ibadah sehingga apa yang kita lakukan mendapat berkah”, ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan petani organik saat ini, memiliki peranan penting dalam membantu memenuhi kebutuhan pangan, gizi keluarga, dan menyehatkan masyarakat. Hal ini hanya dapat ditempuh melalui pertanian organik. Dengan mengkonsumsi makanan sehat, tubuh kita akan menjadi kuat dalam menunaikan ibadah, mampu bekerja secara maksimal, serta memiliki berbagai terobosan dalam penerapan inovasi teknologi. Kegiatan pengembangan pertanian organik ini diharapkan dapat menjadi model bagi pembangunan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di Bumi Muda Sedia. 

Sementara Kepala Distanbunnak Kab. Aceh Tamiang, Yunus menjelaskan bahwa untuk kesuksesan pertanian organik, pihaknya tidak dapat bekerja sendiri. Keterlibatan tim  pakar  dari  Masyarakat  Pertanian  Organik (Maporina)  dan  Balai  Pengkajian  Teknologi Pertania Aceh, serta staf ahli Distanbun Aceh turut membantu agar program dapat berjalan sesuai perencanaan dan output yang dihasilkan.

Ditambahkan pula bahwa Garda terdepan pelaksanaannya, tentu saja tidak terlepas peran Penyuluh Pertanian di lapangan. Tugasnya, selain memberikan pendampingan, fungsi yang mesti diperankan oleh penyuluh pertanian yaitu menjadi fasilitator dalam pola kemitraan antara peneliti dan petani. 

Penyuluh mesti komunikatif, mampu menerjemahkan teknologi inovasi dengan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh petani. “Penyuluh mesti memiliki strategi praktis agar program kerja di lapangan dapat dilaksanakan secara utuh”, tegasnya. Menurutnya, fungsi penyuluh di lapangan sangat vital, apalagi ini program pemerintah yang perlu kita suksekskan. Karenanya, perlu memiliki komitmen tinggi, ikhlas, dan bekerja secara tuntas.

Selama ini jajarannya sudah mulai eksis dalam membina kelompoktani Serasi dengan melibatkan Abdul Muin petani milenial, di desa Pahlawan kecamatan Karang Baru. Dengan jumlah 28 anggota kelompok, mereka berhasil dalam budidaya bawang merah secara organik, beternak lebah menghasilkan madu serta memanfaatkan alur sungai untuk budidaya ikan Nila, Gurami dan Lele.

Perwakilan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, Dr Ir H. Basri A. Bakar MSi, Dr. Basri A. Bakar dalam presentasinya menjelaskan mulai dari pentingnya mengkonsumsi produk pertanian organik, hingga grand design kawasan  pertanian  organik disuatu wilayah.

Diakhir kegiatan tim ahli T. Iskandar memimpin acara diskusi dan para peserta sangat antusias ingin mengembangkan pertanian organik hingga menghasilkan beras sehat Tamiang, dan kedepan menjadi Beras Organik Tamiang yang memenuhi syarat dan sertifikasi.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018