Sunday, 28 February 2021


Ini Solusi Kementan untuk Petani Terdampak Banjir di Pantura

22 Feb 2021, 15:35 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah menyiapkan beberapa solusi untuk petani yang lahannya terkena banjir | Sumber Foto:Humas Ditjen TP

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang---Kementerian Pertanian terus  bersinergi dengan pihak-pihak terkait, baik di pusat maupun di daerah dalam upaya mitigasi dampak La Nina. Diantaranya melalui  mapping wilayah rawan banjir dan early warning system. Beberapa solusi telah pemerintah siapkan untuk petani.

Hal itu disampaikan Menteri Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam arahannya kepada jajaran Kementan. Selain itu juga, SYL mengingatkan untuk meningkatkan koordinasin dengan BMKG dan mengaktifkan Brigade La Nina.

"Dalam kondisi apapun, antisipasi dan solusi setiap kemungkinan harus dipersiapkan. Intensitas hujan tinggi seperti ini, siapkan  benih varietas toleran banjir, pompanisasi in–out, bantuan benih dan AUTP, serta mengoptimalkan dryer dan RMU untuk menjaga mutu produk saat pasca panen," ungkap SYL.

Hujan yang terus mengguyur kawasan, terutama sentra padi di daerah Pantura beberapa waktu yang lalu, menyisakan genangan air dan lahan pertanian terdampak. Beberapa wilayah Pantura Jawa Barat, seperti Bekasi, Karawang, Subang, Cirebon, dan Indramayu menjadi wilayah dengan dampak banjir terluas.

Sambil terus meng-update laporan kejadian banjir pada pertanaman,  Kementan melalui Direktorat Perlindungan  Tanaman Pangan, juga aktif monitoring langsung ke lapangan untuk mengupayakan solusi yang tepat sesuai kebutuhan petani.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, sesuai hasil monitoring banjir ke Bekasi, Karawang, Subang, dan Majalengka, banjir disebabkan curah hujan yang tinggi serta pendangkalan atau rusaknya sarana penampungan/saluran air.

Selain bantuan benih gratis dan klaim asuransi yang telah disiapkan Kementan, Suwandi menghimbau agar lebih ditingkatkan lagi koordinasi dengan pihak terkait, terutama pemerintah daerah setempat. Koordinasi ini sangat diperlukan dalam upaya normalisasi sungai/waduk/tanggul/saluran air, khususnya bagi wilayah-wilayah yang setiap tahunnya terdampak banjir agar banjir tidak berulang kembali," kata Suwandi.

Sementara itu saat meninjau lokasi terdampak banjir di Kabupaten Subang beberapa saat lalu (9/2), Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, M. Takdir Mulyadi mengatakan, Kementan telah menyiapkan bantuan bagi petani yang terdampak banjir.

“Kami akan selalu mengupayakan bantuan bagi petani, yaitu bantuan benih gratis agar petani semangat bertanam kembali serta pendampingan proses klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) bagi petani peserta asuransi," ungkap Takdir.

Takdir meminta kepada petugas untuk mengedukasi petani agar menggunakan varietas benih toleran genangan, seperti Inpara 1–10, inpari 29, dan Inpari 30. Pihaknya juga menginstruksikan kepada petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) untuk waspada terhadap serangan OPT yang biasanya muncul pasca banjir, seperti WBC, kresek, dan tikus.

Di tempat terpisah Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Asep Heryana mengungkapkan, banjir terjadi setiap tahun di Subang, tapi banjir kali  ini termasuk yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

“Meskipun luas pertanaman padi yang terkena cukup besar, namun kami tidak terlalu risau karena sebagian petani telah terdaftar sebagai peserta asuransi. Sedangkan petani yang tidak terdaftar, telah disiapkan bantuan benih dari Kementan," tuturnya.

Koordinator Satuan Pelayanan (Satpel) Wilayah II Subang-BPTPH Jawa Barat, H. Iduk mengungkapkan, luas pertanaman padi yang terdampak banjir kali ini sekitar 11.083 ha. Seluas 1.035 ha diantaranya mengalami puso. “Data ini akan masih terus berkembang sambil menunggu lahan benar-benar surut," katanya.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018