Wednesday, 14 April 2021


DPR Ajak Petani Keluar dari Cara Bertani Konvensional

24 Feb 2021, 16:05 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang membajak sawah | Sumber Foto:DOk. Pemprop Jateng

TABLOIDSINARTANI.COM, Majalengka--Untuk meningkatkan pendapatan petani dan produktivitas serta kualitas hasil pertanian,  Kementerian Pertanian  bersama Komisi IV DPR RI terus berupaya mendorong petani keluar dari cara bertani konvensional. Dengan bertanain konvensional memicu biaya produksi menjadi lebih mahal dan berakibat kelebihan yang diperoleh petanipun menjadi kecil. Tak hanya itu kualitas dan produktivitaspun menurun karena kondisi tanah menurun kesuburannya. 

Hal ini menjadi bahasan Anggota Komisi IV dan Badan Musyawarah DPR RI Sutrisno dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Petani Penyuluh Kementerian Pertanian Aspirasi Komisi IV DPR RI, Angkatan III dan IV di Majalengka, Minggu beberapa waktu lalu. "Bertani dengan cara konvensional membuat produk Indonesia sulit bersaing dengan produk luar. Kenapa mahal? Karena petani masih menerapkan cara - cara konvensional dalam berusaha tani, “ ujarnya.

Didampingi Kepala Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (PPMKP) Ciawi Bogor, Yusral Tahir, Sutrisno mencontohkan penanganan panen yang masih manual akan menelan  beban tenaga kerja. apalagi upah buruh tani terus mengalami kenaikan.

"Ada juga yang pake ilmu katon menyebabkan pemupukan terlambat, sehingga berpengaruh pada produksi, “ katanya dihadapan 200 Petani dan Penyuluh  peserta bimtek Kabupaten Majalengka, 

Karena itu Sutrisno mengingatkan, untuk bisa bersaing di pasar dalam dan luar negeri, petani hendaknya memperhatikan variabel - variabel yang mempengaruhi produktivitas, yakni bibit berkualitas, menjalankan teknologi, penggunaan mekanisasi. Selain itu pemupukan yang benar dan pengendalian hama.

"Variabel yang mempengaruhi produktivitas itu  pertama adalah bibit harus berkualitas, teknologi harus dijalankan, pengolahan tidak bisa lagi dengan manual harus dengan mekanisasi, pemupukan harus benar, penanganan hama harus juga dijalankan dengan benar, “ sebutnya.

Untuk bibit, DPR RI bersama Kementerian Pertanian  tengah memperjuangkan agar ada pengembangan penangkaran bibit didaerah - daerah agar bisa cepat dengan harga yang murah. Untuk mendorong produktivitas Ia juga mengajak petani menggunakan pupuk organik guna mengembalikan kesuburan tanah yang saat ini dinilainya sudah jenuh dan asam.

Sementara untuk menghemat biaya produksi, petani diminta memanfaatkan bantuan fasilitas alsintan yang bisa menghemat tenaga kerja serta mempercepat proses produksi. "Kami di Komisi IV sepakat, kondisi tanah sudah jenuh akibat setiap tahun dihantam an organik. Dulu lahan sawah itu lumpurnya bisa sampai sedengkul, sekarang paling diatas mata kaki, karena tanah mengeras, “ ujarnya.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian di era Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo terus berupaya meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia. Disamping pemberian bantuan sarana produksi, alat pra panen dan pasca panen, Mentan terus mendorong para petani menggunakan fasilitas kredit usaha rakyat (KUR) dan pengembangan pertanian berbasis korporasi dan klaster. 

"Fakta kontribusi positif pertanian terhadap produk domestik brutto (PDB) menunjukkan sektor pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan. Memberikan solusi. Karena semua orang butuh makan. Syaratnya adalah kita harus mau berkeringat, serius dan fokus," tegas Syahrul.

Untuk meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di manca negara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi mengatakan, pihaknya terus mendorong kreativitas generasi muda dalam meningkatkan produksi yang layak ekspor. Cara ini dapat meningkatkan jumlah eksportir terutama dikalangan generasi milenial. 

"Upaya strategis peningkatan dan percepatan ekspor komoditas pertanian menjadi modal bagi bangsa Indonesia," kata Dedi. 

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018