Sunday, 11 April 2021


Porang, si Liar kini jadi Primadona Baru Pasar Ekspor  

27 Feb 2021, 23:04 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL saat melihat porang | Sumber Foto:Dok. Ditjen Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dulu diabaikan, kini justru menjadi primadona. Itulah yang terjadi pada tanaman porang. Bukan hanya menjadi primadona petani, tapi juga di pasar luar negeri..

Sejak tahun 2019, memang porang telah memikat hati petani, karena nilainya yang cukup menggiurkan. “Porang sudah jadi primadona dan InsyahAllah akan terus jadi primadona mengingat porang bisa menjadi pangan pokok dan juga kebutuhan bahan baku industri," kata Ketua Umum Petani Penggiat Porang Nusantara (P3N), Ngakib Al-Ghozali, Sabtu (27/2).

Ngakib bercerita, saat zaman penjajahan Jepang memanfaatkan porang untuk memberi makan pasukan yang sedang berperang dihampir seluruh daratan Asia seperti Korea dan Cina. Tahun 1943, saat Jepang datang menjajah negeri ini, mereka bukan mencari rempah seperti bangsa Eropa. Mereka justru mencari makanan utama yakni konjak atau porang, bukan beras atau gandum.

"Porang adalah fenomena zaman. Beratus-ratus  tahun Porang ada di Bumi Pertiwi ini, di pinggir jurang, di bawah rumpun bambu, di bawah pohon duku dan pepohonan yang rindang, di semak belukar, di hutan lebat, tanpa ada orang kita sudi menengok atau bisa memanfaatkan," tambahnya.

Lebih lanjut, Ngakib mengatakan, Jepang dan Cina merupakan negara yang pengonsumsi porang. Namun akhir-akhir ini mengalami kesulitan, sehingga stok porang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tahun 2014, mereka ke Indonesia mencari porang, karena memang sumber porang dunia ada di Indonesia.

"Porang termasuk pangan favorit di Jepang. Hasil olahan porang biasanya jadi produk diet dan pangan sehat, seperti mie dan beras shirataki,” kata Ngakib. Bahkan lanjutnya, gizi porang lima kali lebih baik dari beras. Melihat potensi ini banyak petani beralih menanam porang.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan Kementerian Pertanian, di bawah komando Mentan Syahrul Yasin Limpo saat ini memang menggenjot pengembangan porang sebagai komoditas ekspor. Di pasar ekspor, porang banyak dicari sebagai bahan makanan dan industri obat juga kecantikan sehingga harga porang pun menjadi sangat menjanjikan bagi petani.

“Kami akan terus meningkatkan budidaya porang ini dalam berbagai aspek salah satunya dalam pengamanan produksi porang,” ungkapnya. Saat ini ada 20.000 ha lahan di Indonesia yang ditanami porang dan terus bertambah.

Saat ini porang sudah diekspor ke 16 negara dengan tujuan terbesar China, Thailand, dan Vietnam dalam bentuk chips, tepung dan lainnya. Pada tahun 2020, sebanyak 19.800 ton porang diekspor dengan nilai Rp 880 miliar.

Untuk itu Suwandi meminta pihaknya agar terus mengawal dan menuntaskan masalah-masalah pertanian seperti hama dan serangan penyakit dengan melakukan upaya-upaya maksimal. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan mengamankan produksi komoditas pertanian.

“Semua harus rajin turun ke lapangan, memantau dan mengamankan pertanaman. Lakukan sosialisasi cara yang benar pengendaliannya, supaya bisa memberikan faedah bagi petani sehingga kesejahteraan petani meningkat,” kata Suwandi.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018