Wednesday, 14 April 2021


Uniknya Cara Petani Jember, Usir Hama Padi dengan Sabut Kelapa

03 Mar 2021, 09:21 WIBEditor : Yulianto

Sabut kelapa yang dipasang si lahan padi | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jember---Saat musim tanam padi, petani kerap diusik dengan hama dan penyakit tanaman. Namun petani di Desa Mayang, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, Jawa Timur punya cara unik mengusir hama hama padi.

Petani memanfaatkan sabut kelapa sebagai media penghalau atau pengusir hama padi yaitu walang sangit dan burung pipit. Kedua hama ini menyerang tanaman padi saat pemasakan yang merupakan fase akhir tanaman padi.

Fase ini dimulai dari pengisian bulir padi sampai bulir tersebut matang sempurna. Meski merupakan fase akhir, ancaman kedua hama tersebut tidak dapat dianggap remeh, karena dapat menurunkan angka produktivitas padi. Selama ini banyak cara yang sudah petani lakukan untuk mengusir hama tersebut, tetapi masih belum mampu mengendalikan ancaman serangannya.

Untuk pembuatan media penghalau walang sangit dan burung pipit, bahan-bahan yang diperlukan adalah potongan sabut kelapa yang berbentuk setengah lingkaran dengan lebar sekitar 10 cm, air 3 liter, seperempat kg terasi, insektisida yang berbahan aktif Dhimohipo dan tongkat bambu dengan panjang 120 cm.

Cara Membuatnya

Bagaimana membuatnya? Didihkan 3 liter air dan terasi, aduk sampai terasi benar-benar larut kemudian dinginkan. Setelah larutan terasi tersebut dingin, tambahkan insektisida kemudian celupkan sabut kelapa dalam larutan tersebut.

Pasang sabut kelapa tersebut pada ujung tongkat bambu kemudian tancapkan pada pinggiran sawah. Pasang beberapa sabut kelapa pada pinggiran sawah dengan jarak kurang lebih 2 meter.

Walang sangit yang mempunyai karakter tertarik pada bau yang menyengat akan mendatangi sabut kelapa tersebut, kemudian berkumpul. Namun secara perlahan walang sangit tersebut akan mati.

Sedangkan untuk burung pipit tidak akan hinggap pada tanaman padi untuk memakan bulir-bulir padi. Berdasarkan pengamatan di lahan, burung pipit tersebut hanya terbang berputar-putar di atas lahan yang dipasangi sabut kelapa tersebut. Burung pipit menganggap sabut kelapa adalah burung predator yang lebih besar. Jika diamati, memang sabut kelapa tersebut seperti burung besar yang hinggap.

Cara ini benar-benar terbukti efektif karena lahan sawah yang ditanami padi dengan umur sama dan tidak dipasangi sabut kelapa menjadi sasaran serangan walang sangit dan burung pipit.

Reporter : Yulie Tri A/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018