Friday, 07 May 2021


Bupati : Masyarakat Perlu Diadvokasi Keunggulan Produk Organik

08 Mar 2021, 07:04 WIBEditor : Gesha

Bupati Aceh Tamiang, Bupati Aceh Tamiang, Mursil SH.,M.Kn | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang --- Untuk mengembangkan model pertanian organik, hal yang perlu diperhatikan dan paling utama adalah memberikan advokasi kepada masyarakat tentang keunggulan produk organik, bukan hanya pemasaran saja. 

"Bukan hanya labelnya (label organik) saja, kalau pemasarannya, banyak orang yang bisa, saya pun bisa",  ungkap Bupati Aceh Tamiang, Mursil SH.,M.Kn saat menerima tim Maporina Aceh di ruang kerjanya Rabu (3/3) lalu.

Advokasi ini penting agar konsekuen dan memiliki komitmen sehingga dapat menjamin produk yang dihasilkan memang betul betul organik.

Menurut Bupati, dalam melaksanakan misinya, Maporina perlu melibatkan lembaga lembaga yang bergerak di bidang pertanian, seperti KTNA, Masyarakat Peduli Pertanian Organik (MPPO) dan konsultan serta petani yang mandiri.

Begitu juga dalam  penerapannya dilakukan pengawasan yang ketat mulai dari tanam hingga pascapanen. "Untuk itu diperlukan adanya tim yang dibentuk secara internal kelompok yaitu Internal Control Sistem (ICS) yang dapat mengawasi setiap hari dan pelaporan berkala. Sehingga bisa diterbitkan sertifikat organik", tambahnya.

Bupati juga mengapresiasi kinerja Maporina Aceh, yang tanpa pamrih dan menjadi contoh bagi daerah lain, karena selama ini telah bekerja sepenuh hati dan tulus ikhlas. "Semoga  tugas mulia ini menjadi amal dan ibadah bagi kita semua", pujinya.

Karena setiap kegiatan yang dilakukan kata Bupati, akan berdampak pada nilai tambah (value added) bagi petani, yang nantinya akan memiliki daya saing keunggulan produk yang dihasilkan.

Sementara Ketua Maporina Aceh, A. Rakhman, melaporkan kepada Bupati untuk bisa memastikan dan meyakinkan lembaga penerbit sertifikat bahwa  ini betul betul produk organik. "Jangan sampai terjadi ketika diterbitkan sertifikat organik, namun produknya tidak memenuhi standar INOFICE", katanya.

Butuh Koperasi

Dalam penjaminan mutu (dari tempat pengolahan, termasuk packagingnya), lanjut Rakhman pihaknya membutuhkan lembaga yang komit seperti  lembaga koperasi mandiri yang memiliki kredibilitas. Melalui koperasi nanti para anggotanya setiap aktivitas harian akan melakukan pengawasan secara internal. "Sementara penyuluh dan PPL swadaya secara mingguan melaporkan ke Maporina Aceh", pintanya.

Untuk itu, dia mengharapkan dari awal harus ada pengawalan dan pengawasan yang mampu bersinergi, sehingga produk yang dihasilkan dapat dipertahankan dan berkelanjutan", pungkas Rakhman.

Disisi lain, Kadistanbunnak Aceh Tamiang, Yunus melaporkan, berdasarkan hasil pengamatan di kecamatan Tenggulun ada lahan yang memiliki kriteria dan bersifat gambut yang membutuhkan perlakuan khusus.

Maka dari itu, dalam waktu dekat pihaknya mengundang kembali tim ahli Maporina untuk mendeteksinya, sekaligus penandatanganan MoU. Jika memang lahan tersebut memiliki kriteria gambut, dia juga akan memanfaatkan untuk menanam varietas padi unggul yang adaptif.

Selama ini kata Yunus lagi, pihaknya terus bekerja dan berupaya semaksimal mungkin, dalam memanfaatkan lahan lahan marginal, termasuk lahan tidur dan terlantar.

==

 

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abdul Azis (AbdA)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018