Tuesday, 03 August 2021


Maret 2021, NTP Naik 0.18 Persen

01 Apr 2021, 12:42 WIBEditor : SOIM

Petani bersama Babinsa panen | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta –  Kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibanding kenaikan ideks harga barang dan jasa selama Bulan Maret 2021. Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2021  pun dilaporkan BPS mengalami kenaikan 0.18 persen dibandingkan Februari 2021.

"Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 34 provinsi di Indonesia pada  Maret 2021, NTP secara nasional naik 0,18 persen dibandingkan NTP Februari 2021, yaitu dari  103,10 menjadi 103,29," ungkap Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, Setianto dalam Siaran Langsung Rilis BPS, Kamis (1/4).

Kenaikan NTP pada Maret 2021 disebabkan oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal. 

"Kenaikan NTP Maret 2021 dipengaruhi oleh naiknya NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu  Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 1,80 persen; Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat  sebesar 3,08 persen; dan Subsektor Peternakan sebesar 0,03 persen," bebernya.

Baca Juga :

Sementara itu, NTP pada dua subsektor lainnya mengalami penurunan, yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,83 persen dan Subsektor Perikanan sebesar 0,28 persen.

Lebih lanjut Setianto menjelaskan penurunan NTP Tanaman Pangan disebabkan oleh turunnya indeks pada kelompok padi sebesar 2,52 persen. Sementara itu kelompok palawija (khususnya komoditas jagung dan  kacang tanah) mengalami kenaikan sebesar 0,46 persen. Sedangkan, konsumsi petani dan Biaya produksi di tingkat petani mengalami kenaikan.

Dari 34 provinsi, sebanyak 22 provinsi mengalami kenaikan NTP, sedangkan 12 provinsi lainnya mengalami penurunan NTP. Kenaikan NTP tertinggi pada Maret 2021 terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu sebesar 3,93 persen, sedangkan penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 1,84 persen.

Kenaikan tertinggi NTP di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung disebabkan oleh kenaikan pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat khususnya komoditas kelapa sawit yang naik sebesar 5,70 persen.

Penurunan terbesar NTP di Provinsi Nusa Tenggara Barat disebabkan oleh penurunan pada Subsektor Tanaman Pangan khususnya pada komoditas gabah yang turun sebesar 3,16 persen.

===

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Gesha
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018