Sunday, 11 April 2021


KTNA Yakin Produksi Padi 2021 Lebih Baik

07 Apr 2021, 14:24 WIBEditor : Yulianto

Babinsa turun ke sawah membantu petani panen | Sumber Foto:Suparman

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kalangan petani yakin tahun 2021 produksi padi akan lebih baik dibandingkan tahun 2020. Kondisi iklim sangat membantu peningkatan produksi tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Zulharman Djusman mangatakan, saat ini petani hampir di seluruh Indonesia tengah panen. Diantaranya, di Sumatera Barat, Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Barat , NTB, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sultra, Kaltim dan Kalsel, bahkan sampai Papua.

“Saat ini sudah memasuki panen raya, kemungkinan sampai Mei 2021. Kalau dilihat dari panen kemarin (2020,red), tahun 2021 kita ada peningkatan, bahkan dibeberapa daerah ada kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2020 kemarin. Saya kira tahun 2021 kita ada peningkatan, yang terbesar selama lima tahun ini,” katanya saat FGD Serap Gabah Petani yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (7/4).

Zulharman mengakui, saat awal panen memang kualitas gabah rendah, karena tingginya kadar air. Kondisi itu membuat Bulog sebagai kepanjangan pemerintah untuk menyerap gabah petani tidak bisa melakukan penyerapan, karena terikat aturan.

Namun kini cuaca sudah mulai normal hampir di seluruh wilayah seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, NTB, sehingga gabah hasil panen petani sudah bisa memenuhi kriteria Bulog. “Produksi dan kualitas gabah yang dihasilkan petani saat ini mulai membaik, setelah sebelumnya mengalami kendala lantaran kadar air gabah lebih dari 25 persen. Itu disebabkan curah hujan yang cukup tinggi di berbagai sentra padi,” tuturnya.

Zulharman mengatakan, hingga Maret 2021 ini menurut informasi, Perum Bulog telah menyerap beras petani pada masa panen raya ini sebanyak 250 ribu ton. Namun ada juga penyerapan gabah yang tidak langsung masuk ke penggilingan, tetapi banyak juga yang diserap pengepul di daerah.

Bahkan ada pengepul yang memindahkan dari daerah surplus ke wilayah yang belum panen. Misalnya terjadi di Sumatera Selatan, pengepul di wilayah itu memindahkan gabah ke Lampung.

Pada kesempatan itu, Zulharmanmengatakan, pada awal masa tanam petani sebenarnya sedikit menghadapi masalah. Salah satunya adalah perubahan komposisi pupuk subsidi yang diberikan petani menjadi 15:15:15.

Padahal menurutnya, tidak semua petani di daerah sesuai dengan komposisi tersebut, karena ada yang menggunakan dengan perbandingan 13,16,18. “Karena semua diratakan seperti ini akhirnya produksi kami di beberapa daerah ada sebagian yang tidak maksimal,” katanya

 --

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018