Sunday, 11 April 2021


Perpadi : Beras Broken dari Penggilingan Kecil Sulit Masuk Bulog

07 Apr 2021, 16:44 WIBEditor : Gesha

Penggilingan padi kecil | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Sebagai bagian rantai nilai, usaha penggilingan padi memegang peranan penting dalam serap gabah petani. Sayangnya, hingga kini usaha penggilingan padi masih didominasi skala kecil yang memiliki keterbatasan teknologi pengolahan sehingga kehilangan hasil (losses) masih besar sehingga sulit untuk masuk ke Bulog karena tidak sesuai dengan kriteria HPP yang ditetapkan Menteri Perdagangan.

"Penggilingan Padi Kecil (PPK) pada umumnya memiliki keterbatasan teknologi, peralatan,  akses permodalan dan  pasar sehingga tidak beroperasi secara optimal," ungkap Ketua Umum Perkumpulan  Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, di acara FGD virtual yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (07/04).

Data dari Perpadi, hingga sekarang jenis penggilingan padi kecil (PPK) ada sebanyak 171. 495 unit, sedangkan penggilingan padi menengah (PPM) mencapai 8.628 unit. Khusus untuk penggilingan padi besar (PPB) hanya 2.076 unit. "Pada umumnya kapasitas terpasang penggilingan padi besar (PPB) dan sebagian penggilingan padi menengah (PPM) dapat terpenuhi ( termasuk rice to rice ), sedangkan penggilingan padi kecil masih jauh dari optimal," tuturnya.

Penggilingan padi kecil (PPK) ini memiliki kapasitas produksi kurang dari 1,5 ton per jam dengan konfigurasi mesin dan cara kerja yang kurang baik. Sehingga rendemen yang dihasilkan masih rendah yaitu rata-rata 62,28 persen, padahal seharusnya bisa dicapai 65 persen. "Beda jauh dengan Thailand yang mencapai 69,7 persen dan Vietnam 66,6 persen," tambahnya.

Begitupula kualitas beras yang dihasilkan masih rendah dengan tingkat broken di atas 25 persen dan tidak seragam. Belum lagi menir yang dihasilkan bisa diatas 20 persen, sehingga diperkirakan kehilangan hasil (losses) di PPK masih cukup tinggi yaitu 2,8 persen hingga 3,5 persen.

Kondisi beras patah (broken) di PPK yang bisa diatas 25 persen dan menir yang diatas 20 persen tentu saja membuat beras hasil penggilingan sulit untuk masuk Bulog. Karena standar kualitas gabah beras PSO sesuai Permendag No.24/2020, butir patah yang bisa diterima maksimal 20 persen dan menir maksimal 2 persen saja. 

Persyaratan ini dibuat Perum Bulog untuk memperketat beras yang masuk ke gudang guna menjaga kualitas beras tetap baik hingga di tangan penerima bantuan beras masyarakat sejahtera (rastra).  Selama ini, Bulog tidak pernah mengetahui asal-usul gabah/beras yang disetor mitra BUMN tersebut, karena itu jika kualitas berasnya kurang baik, maka sulit untuk dilakukan penelurusan asal-usulnya.

===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018