Friday, 07 May 2021


Menakar Peluang Padi Hibrida Mengungkit Produksi Pangan

14 Apr 2021, 14:22 WIBEditor : Yulianto

Kegitan FGD Peningkatan Produksi Pangan Ramah Lingkungan | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Peningkatan produksi pangan, khususnya beras sebagai makanan pokok bangsa Indonesia, kini menjadi sesuatu yang tak bisa ditawar lagi di tengah makin meningkatnya jumlah penduduk. Karena itu harus ada kerja keras pemerintah mendongkrak produksi pangan.

Ibarat teori Malthus bahwa pertambahan penduduk akan mengikuti deret ukur dan pertambahan bahan makanan mengikuti deret hitung. Artinya, kecepatan pertambahan penduduk lebih tinggi dibandingkan pertumbuha produksi pangan. Akibatnya bakal terjadi perbedaan yang besar antara jumlah penduduk dengan ketersediaan bahan makanan.

Untuk itu perlu alternatif peningkatan produksi pangan. Apalagi tantangannya juga cukup besar. Selain, luas lahan yang kian terbatas, juga terjadi degradasi kesuburan lahan pertanian dan produktivitas tanaman juga telah mengalami pelandaian. Bahkan kini ancaman perubahan iklim sangat berpengaruh dalam upaya peningkatan produksi pangan.

Profesor Riset Balai Besar Pengambangan dan Penelitian Padi (BB Padi) Badan Litbang Pertanian, Dr. Ir. Satoto, MP pun mengakui, selama ini tantangan dalam peningkatan produksi pangan salah satunya lahan relatif tetap, sementara permintaan terhadap pangan terus meningkat. Dalam beberpa hal ternyata peningkatan produktivitas lebih sederhana dibandingkan perluasan lahan atau cetak sawah baru.

“Karena itu pilihan peningkatan produktivitas bisa dijadikan pilihan utama,” kata Satoto saat FGD Peningkatan Produksi Pangan Ramah Lingkungan yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (14/4).

Namun menurut Satoto, produktivitas padi di Indonesia sulit ditingkatkan jika hanya mengandalkan varietas padi sawah inbrida yang ada sekarang. Sebab diversitas genetiknya makin terbatas hanya sekitar 5 persen. Satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas padi dan mendukung swasembada beras berkelanjutan yaitu dengan memanfaatkan gejala heterosis melalui pengembangan padi hibrida.

“Ke depan perakitan padi hibrida akan difokuskan pada peningkatan produktivitas melalui perakitan padi hibrida inter-subspesies dan inisiasi metode dua galur di lahan irigasi, tadah hujan, dan lahan kering yang potensinya sekitar 4 juta hektar (ha),” tuturnya.

Peluang pengembangan padi hibrida juga cukup besar. Pertama, permintaan beras masih cukup banyak. Karena itu peningkatan produksi masih terus harus dilakukan. Kedua, dari aspek materi genetik tetua padi di Indonesia cukup mudah. Begitu juga galur betina dan jantannya. Ketiga, ekosistem padi Indonesia juga beragam, ada padi sawah, gogo dan rawa.

Sedangkan Professor Riset BB Biogen Balitbang Pertanian, Prof. Ika Mariska Soedharma mengatakan, upaya perbaikan benih untuk menghasilan varietas unggul bisa melalui kultur jaringan. Untuk tanaman padi, BB Biogen sudah uji coba dan melepas varietas padi untuk lahan salinitas

Menurut Ika Mariska, ciri-ciri varietas unggul baru adalah produktivitasnya tinggi, adaptif terhadap lahan marginal seperti lahan slain, lahan masam, lahan kering dan lahan basah. Untuk mendapatkan varietas ungul bisa dengan pemuliaan secara konvensional dan bioteknologi in vitro. “Kultur in vitro menjadi salah satu sarana untuk menghasilkan produksi benih yang seragam, cepat, bebas pestisida, jumlah banyak dan relatif singkat,” ujarnya.

Perlu Waktu

Sementara itu Direktur Utama Agrosida Andalan Utama, Ayub Darmanto, pihaknya sudah mengembangkan padi hibrida sejak 2003, artinya sudah hampir 18 tahun. Namun demikian diakui, tidak mudah untuk menyakinkan petani menanam padi hibrida. “Perjuangan cukup panjang. Secara bertahan dengan segala suka duka, padi hibirida kini mulai diterima petani Indonesia,” katanya.

Ada dua varietas padi hibrida yang diproduksi yakni Mapan 05 dan Mapan 02. Kini sebaran varietas tersebut sudah cukup luas, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Riau, seluruh Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT. “Kini kami lagi buat demplot di Merauke Papua,” ujarnya.

Menurut Ayub, keunggulan varietas Mapan adalah produktivitasnya cukup tinggi hingga 9-11 ton/ha gabah kering panen (GKGP). Kualitas berasnya juga transparan sehingga tidak ada butir kapur yang menyebabkan mudah patah, berasnya juga pulen dan aromatik, tapi memang tidak terlalu wangi. “Untuk Mapan 02 lebih genjah, umur panen 95-100 hari, sehingga lebih cepat 20 hari dari Ciherang,” ujarnya.

Ayub mengakui, kendala dalam pengembangan padi hibrida adalah ketersediaan masih terbatas, harga benih juga mahal, sosialisasi budidaya padi hibrida masih kurang. Pandangan petani dan pedagang secara umum tentang padi hibrida belum sama. “Petani masih menggunakan benih padi dari induknya, sehingga ketika panen hasilnya tidak sama dengan pertama kali tanam. Akhirnya pedagang menilai, gabah dari padi hibrida kualitasnya jelek,” katanya.

Karena itu Ayub berharap dukungan pemerintah dan instansi terkait dalam pengembangan produksi benih padi hibrida. Selain itu sosialisasi pemahaman tentang teknik budidaya padi hibrida. “Kalau pemerintah memberikan subsidi benih padi hibidra supaya tepat sasaran, tepat waktu, sehingga betul-betul bisa dirasakan petani,” katanya.

Sementara itu Direktur Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Muhammad Ismail Wahab melihat potensi pengembangan varietas padi hibdrida harusnya diarahkan pada lahan marginal, bukan lahan sawah. Dengan demikian dapat membantu mengatasi kendala budidaya padi pada lahan-lahan tersebut.

Padi hibrida dinilai bisa jadi alternatif luar biasa untuk lahan yang spesifik dan bermasalah. Kalau bersaing dengan inbirda, petani masih pikir lagi karena harga benih mahal. “Saya lihat di areal food estate Kalimantan Tengah justru hampir 30 persen petani menggunakan padi hibrida. Artinya petani di lahan rawa menanam padi hibrida. Bahkan produktivitasnya tinggi,” katanya.

Namun lanjut mantan Kepala BB Padi itu, karena terbatasnya ketersediaan benih padi hibrida, petani menggunakan sampai 3-4 kali tanam. Padahal seharusnya hanya untuk satu kali tanam. Artinya, petani lahan rawa menyukai benih padi hibrida, karena lebih unggul dari inbrida untuk mengatasi lahan masam di rawa.

Sayangnya sesal Ismail, petani di wilayah lain kurang tertarik menanam padi hibrida. Terlihat dari alokasi anggaran pengembangan padi hibrida seluas 20 ribu ha, hingga kini belum ada yang termanfaatkan. “Jika ada daerah yang berminat, silahkan ajukan, karena kami sudah anggarkan,” tegasnya.

Bagi yang ketinggalan FGD ini, bisa menyimak kembali pada link berikut ini : FGD Peningkatan Produksi Pangan Ramah Lingkungan

Link Materi bisa diunduh pada link : Materi FGD Peningkatan Produksi Pangan Ramah Lingkungan

Link E-Sertifikat bisa diunduh pada link E-Sertifikat FGD Peningkatan Produksi Pangan Ramah Lingkungan

--

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Tim Sinar Tani
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018