Friday, 07 May 2021


Tak Perlu Khawatir, Stok Jagung Cukup

27 Apr 2021, 11:00 WIBEditor : Yulianto

Mentan SYL panen jagung | Sumber Foto:Dok Humas Kementan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian terus memantau perkembangan harga jagung di tingkat petani. Hingga kini komoditas pangan nomor dua, setelah padi ini masih cukup stabil dan tidak menunjukkan peningkatan harga yang signifikan.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi meyakinkan tidak perlu adanya kekhawatiran sejumlah pihak terkait potensi kenaikan harga jagung akibat adanya penurunan produksi. Hal ini disampaikan pada saat pertemuan terkait kondisi jagung, Sabtu (24/4) kemarin.

Puncak panen jagung terjadi pada Maret sebanyak 697 ribu ha, kemudian April masih ada 284 ribu ha, Mei 286 ribu ha, dan Juni 324 ribu ha. Adapun provinsi dengan luasan produksi jagung terbesar di NTB, Sulsel, Jatim, Lampung, NTT dan Jateng.

“Harga jagung masih stabil, masyarakat tidak perlu khawatir karena ketersediaan jagung di lapangan masih mencukupi kebutuhan,” katanya.

Kementan selalu memantau harga secara harian yang dilaporkan online Petugas Informasi Pasar (PIP) “Dinamika setiap hari kita lihat. Kita sudah petakan juga pabrik pakan ternak, kita mapping dengan setnra produksi dan data harga semoga ada titik temu,” ujar Suwandi.

Produksi pertanian adalah musiman. Karena itu sangat diperlukan penanganan bersama, tidak hanya Kementan. Dalam hal ini perlu sekali adanya alat panen, alat pasca panen pengering, kemudian peternak juga agar punya gudang penyimpanan.

“Sama-sama sinergi seperti bagaimana supaya punya alat dan penyimpanan yang cukup sehingga fluktuasi bisa diatasi dengan hilirisasi dan sarana logistic,” kata Suwandi.

Gandeng Tangan

Karena itu, Suwandi mengajak, semua pihak bergandeng tangan duduk bersama mencari solusi mulai dari pasca panen,  sistem gudang, membangun dibackup dengan kemitraan yang permanen dan memanfaatkan akses KUR dari perbankan.

Suwandi mencontohkan, di Tuban harga mulai turun Rp 200 karena masuk panen, kemudian di Lombok Timur dan Bima truk sedang antri mengambil hasil panen jagung. “Secara neraca jika tiap bulan ada   panen 280 ribu-300 ribu ha, maka supply demand cukup,” katanya.

Provinsi NTB adalah salah satu sentra jagung yang saat ini sedang panen raya. Laporan dari petugas PIP Titik Wiyjayanti, di Dompu harga saat ini 4.400 dengan kadar air 17 persen. Harga di NTB terlihat masih stabil di posisi kisaran angka tersebut.

Bahkan, di Kecamatan Donggo dilaporkan masih 60 persenyang siap panen tanamn jagung di sepanjang gunung. Dompu April ini masih banyak ada panen.

Sedangkan di kabupaten lain seperti Lombok Timur pun hampir sama,  dilaporkan masih ada panen dengan harga jagung pipilan Rp.4.500-4.700 dengan KA 16 persen. Proses masih berjemur sambil dipipil dipinggir jalan.

Terpisah Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Gatut Sumbogodjati mengatakan, di tahun 2021 harga jagung memang agak merangkak naik. Namun demikian bisa dibuktikan produksi melimpah, sehinga bulan berikutnya bisa mulai stabil kembali.

Kenaikan harga jagung ini juga ditengarai karena kenaikan harga internasional. Selain itu ada fenomena tambahan kebutuhan jagung bukan hanya untuk pakan, tetapi juga pangan.

Melihat peluang ini, Kementan sudah mengembangkan produksi jagung tidak hanya pakan ternak tapi juga untuk industri makanan minuman yang rendah aflatoksin.

“Sudah kita kerjasamakan misal dengan daerah di Lampung Selatan, NTB dan Gunung Kidul. Sudah kita bina ke arah memasok industri makanan dengan Jagung Rendah Aflatoksin. Sistem hilirsasi kita bina juga,” ujar Gatut.

Reporter : Humas Ditjen Tanaman Pangan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018