Friday, 18 June 2021


Azhat Arifin, Meraup Untung Rp 25 Juta per Bulan dari Ubi Jalar Unggul Balitkabi

08 May 2021, 14:18 WIBEditor : Ahmad Soim

Azhat Arifin bisnis ubi unggal Balitkabi | Sumber Foto:Soleman

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang -- Budidaya ubi jalar merupakan pilihan Azhat Arifin untuk bertani karena cukup mudah dalam perawatannya dan tidak tergantung pada musim dalam penanamannya. Selain itu, peluang pasar usaha budidaya ubi ini juga masih besar karena semakin banyaknya kebutuhan yang memanfaatkan bahan dari umbi-umbian.

Azhat Arifin memulai budidaya ubi tahun 2017 akhir, pemuda yang tinggal di Jl. Arumba Utama Residence Blok G No.6 Malang ini sukses mengembangkan tanaman ubi jalar.

Azhat yang merupakan binaan Balai penelitian kacang dan ubi (Balitkabi) Malang ini mengembangkan bibit sendiri, “karena binaan mereka saya diberi wewenang sebagai penangkar bibit unggul bersertifikasi,”katanya.

 Azhat menjelaskan posisi saat ini, “saya bisa ditempatkan sebagai petani, supplier, pengepul, penyuluh, pemberi pelatihan kepada petani, menghubungkan dengan pabrik, dengan ekportir, supermarket, pedagang di pasar induk kramatjadi Jakarta,”jalasnya. 

Produk yang dihasilkan berupa ubi segar atau mentah dari lahan, sedangkan untuk supermarket harus diolah dahulu atau dibersihkan melalui proses penyortiran untuk dipilih kwalitas paling bagus.

BACA JUGA:

Menurut Azhat, “apabila pembibitan melalui stek batang dimana setiap ruas ada akarnya, untuk penanaman dibutuhkan waktu 3,5 bulan sampai 4,5 bulan, apabila mencapai waktu 5 bulan akan terlalu tua sedangkan kalau kurang dari 4 bulan itu  buahnya kurang maksimal.”katanya.

Pembibitan dengan cara vegetatif yakni dengan cara stek dimana calon indukan diambil dari tanaman yang sudah berumur di atas dua bulan dengan ruas yang pendek-pendek. Caranya, adalah dengan memotong batang tanaman sepanjang 15-25 cm. Pada setiap potongan setidaknya terdapat dua ruas batang. Selanjutnya, batang yang telah distek diikat dan dibiarkan selama satu minggu di tempat yang teduh.

Azhat menambahkan, “ketinggian lahan yang ideal adalah di atas 300 m dpl dan di bawah 600 m dpl, tanaman ubi kandungan airnya tinggi, sampai pasca panen minimal 8 kali pengairan atau 1 bulan 2 kali, pupuk organik andalan khusus ubi adalah Butani yang merupakan hasil kerjasama dengan pabrik, bentuknya berupa serbuk untuk mengemburkan tanah, sedangkan untuk penyemproyan menggunakan Multitonik pada setiap bulan,”tambahnya.

Azhat menyarankan penyemprotan dilakukan pada sore hari hal ini menghindari proses penguapan apabila terkena sinar matahari, akibatnya tanaman memasaknya kurang maksimal. Pemakaian mulsa juga dianjurkan untuk menghindari tumbuhnya gulma serta mencegah curah hujan yang tinggi pada musim hujan agar tidak mengganggu media tanam.

Beberapa varietas yang dikembangkan oleh Balitkabi antara lain, Benindo, Antin 1-3 (anti oksidan tinggi) berwarna dasar ungu sedangkan untuk Antin 1 berkulit putih serta bagian dalam berwarna ungu bercampur putih, apabila bahan ini dibuat buat keripik akan kelihatan bagus seperti ada bunga-bunganya.

Menurut Azhat, “hama tanaman ubi berupa lanas seperti semut yang masuk ke dalam ubi, pencegahan dilakukan pengairan sampai di atas media tanam, kalau sampai kena air telur yang akan menetas akan gabuk, kemarin ada boiteknologi istilahnya Biolanas untuk mengambil lanas yang jantan sehingga betinanya tidak bisa terbuai, dapat bertelur tapi tidak sampai keluar jentik, hama lainya biasanya tikus dan cacing tanah”katanya.

Dalam penanaman ada standar prosedurnya,”dari awal penanaman ada pupuk dasarnya, tinggi media tanam sekitar 50 cm jarak tanam 20 sampai 25 cm, sedangkan lebar media tanam berkisar 60 -70 cm dalam satu baris tanaman, kalau musim hujan parit harus lebar supaya cepat tuntas airnya supaya tidak terendam sehingga mengakibatkan busuk, “tambahnya.

Dalam 1 Ha dibutuhkan bibit sekitar 35 ribu batang, pada kondisi normal dalam 1 batang akan menghasilkan 1 kg sehingga 1 Ha lahan dapat menghasilkan 35 Ton.

Harga ubi tergantung kwalitasnya yang paling bagus akan diekspor kemudian untuk permintaan dari supermarket dan pabrik pengolahan ubi. Saat ini harga pasaran normal antara 3 sampai 4 ribu di tingkat penjual, sedangkan pada petani berkisar 1000 – 1500 untuk setiap kilo gramnya.

Azhat membuka kemitraan untuk budidaya ubi dalam skala besar untuk memenuhi permintaan yang tinggi, saat ini untuk area Malang sendiri pasokan masih kurang sehingga membuka pasar bagi yang imgin bermitra dalam mengembangkannya di seluruh Indonesia, sehingga apabila pembeli membutuhkan pasokan 100 Ton untuk setiap minggu dapat tercukupi.

Menurut azhat, saat ini daerah yang terbaik untuk budidaya ubi di Malang adalah, Tajinan, Pakis, Pacet dan Mojekerto serta Trawas, dengan ketinggian rata-rata 470 m dpl serta luas lahan 70 – 80 Ha. Dalam 1 bulan keuntungannya sebagai pengepul serta petani berkisar 15-25 juta.

Pengolahan ubi dapat dijadikan pasta, tepung, atau keju, untuk pasar ekspor dengan tujuan negara Korea harus dalam bentuk olahan agar bisa tahan lama selanjutnya bisa diolah lagi, pasar ekspor ubi mentah ke negara China, serta sub ekspor ke Singapra, Hongkong dan Malaysia. Untuk saat ini karena masih suasana pandemi sementara tidak mengekspor lebih memilih bermain aman dan  cukup mengelola pasar yang sudah ada.

Selain itu ubi juga bisa diolah menjadi sirup, es cream, ekstrak pewarna makanan ungu, tepung powder dan pati, cereal, makanan minuman yang berserat, keripik ubi, selai, serta macaroni.

Pola kemitraanpun sangat mudah tinggal tentukan posisinya lahannya dimana, alangkah baiknya dengan pola bagi hasil, dengan kesepakatan harga yang sudah ditentukan diawal serta bertanggung jawab.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018