Thursday, 17 June 2021


Bupati Subang : Kami Ada Lahan 6 ribu Hektar, Butuh Integrated Farming

07 Jun 2021, 15:42 WIBEditor : Gesha

Bupati Subang, Kang Jimat (kanan) ketika menerima kunjungan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Potensi pertanian di Kabupaten Subang ternyata masih terbuka lebar. Bupati Subang, H. Ruhimat bahkan menyebutkan dirinya masih mempunyai lahan 6 ribu hektar yang masih bisa dimanfaatkan petani milenial Subang.

"Kami butuhkan milenial yang bisa mengolah lahan tidur (di Kecamatan Serangpanjang) menjadi pertanian terintegrasi (integrated farming). Sejauh ini Bukit Nyomot ini menjadi lahan tidur atau tidak produktif. Padahal, Bukit nyomot ini memiliki potensi jika digarap secara benar," jelas Kang Jimat, sapaan akrab H. Ruhimat. 

Bupati menambahkan dalam tata kelola Kabupaten Subang, Bukit Nyomot selain menjadi area wisata aerosport dan olahraga ekstrim juga menjadi area ketahanan pangan. "Dengan beberapa program peningkatan kesejahteraan dan penguatan ekonomi diarahkan ke Bukit Nyomot Subang," tambahnya.

Dirinya menuturkan  lahan tidur di Bukit Nyomot yang berada ada di lahan Perhutani tersebut selama ini hanya dihuni babi hutan. “Lahan tidur disana kita bangunkan, kita jadikan sebagai potensi untuk menggerakan ekonomi masyaraat. Di sana, diantaranya kita buka untuk pertanian dan peternakan," ungkapnya.

Rencananya, sekitar  5 ribu hektare lahan tidur itu untuk dimanfaatkan dengan ditanami dengan palawija, sedangkan yang 1000 hektar lainnya akan dijadikan lahan peternakan sapi. "Kita bisa menanam Durian, Mangga, Manggis, Pisang, Singkong dan tanaman lainnya. Sehingga selain Gunung menjadi hijau juga ada,manfaatnya untuk kesejahteraan warga dari segi perekonomiannya meningkat,” tegasnya.

Lahan 6.000 hektar tersebut terbentang dari timur ke arah barat itu berada sedikitnya di wilayah 6 Kecamatan, meliputi Cipeundeuy, Serangpanjang, Sagalaherang, Kalijati, Dawuan dan Cijambe. Menurutnya, saat ini aspek legalnya sudah diurus. "Kalau izin sudah terbit, masyarakatpun bisa mengolah lahan tersebut,”ungkapnya beberapa waktu lalu.

Adapun potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Bukit Nyomot yaitu tanaman keras seperti jati dan mahoni, untuk perkebunannya bisa tanam rempah-rempah seperti tanaman pala yang bisa ditumpangsarikang dengan kebun pisang dengan jarak 3 meteran disela-sela pohon pala. 

“Jadi, kalau ditata dan dikelola lahan tidur itu, akan jadi lahan ekonomi dan bisnis jangka menengah dan jangka panjang. Hitung saja, jika dalam 1 ha bisa ditanam 1.000 pohon pisang dan satu pohon pisang menghasilkan 10 kg pisang, maka akan diproduksi 10 ton pisang setiap panen,”jelasnya. Kemudian  jika harga pisang, Rp3 ribu per Kg, maka akan diperoleh pendapatan sekitar Rp30 jutaan per panen pisang.

Mengapa harus milenial? Kang Jimat mengakui SDM Subang banyak pengangguran sehingga daripada menganggur, sebaiknya mereka mulai diberdayakan masuk ke pertanian. "Tentunya dengan mengubah pemikiran dan minat mereka dahulu. Sehingga ada kemauan, ada kemampuan maka pertanian bisa berjalan. Jangan sampai ada gengsi untuk turun ke lapangan pertanian," tukasnya.

Diakuinya, Kabupaten merasa beruntung karena menjadi bagian program nasional Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) untuk menciptakan wirausaha milenial tangguh dan berkualitas. 

"Kita harapkan calon penerima YESS tersebut maupun petani milenial lainnya di Subang bisa turun lapang untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri bahkan masyarakat sekitarnya. Minimal 30 persen lah dari peserta YESS itu bisa eksis dan membawa perubahan," harapnya.

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018