Thursday, 17 June 2021


Gawat! Tak Ganti Varietas Baru, Produksi Beras Bakal Stagnan

08 Jun 2021, 16:19 WIBEditor : Gesha

Ekspor beras dari Indonesia semakin terbuka saat food estate berhasil | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Produksi beras di Indonesia ternyata tidak mengalami kenaikan yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Tercatat kenaikan produksi di tahun 2019-2020 hanya sekitar 0,08 persen. Jika ini terus berlangsung lima tahun yang akan datang, kebutuhan beras domestik tidak bisa dipenuhi dalam negeri.

"Ketahanan Pangan kita 5-10 tahun yang akan datang masih akan dipenuhi oleh beras. Jika tidak ada sentuhan teknologi (inovasi dan introduksi varietas baru yang digunakan Petani), dikhawatirkan 2021 dan seterusnya, produksi bisa mencapai titik stagnan bahkan levelling off," ungkap Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Sugiyanta dalam Webinar DGB IPB University, Selasa (8/6).

Sugiyanta menambahkan, varietas yang sekarang digunakan Petani seperti Inpari 32, Ciherang potensi hasilnya hanya 8 ton per hektar. Di sisi lain, ada varietas Inpari 42 bahkan IPB 3S milik IPB University juga memiliki produktivitas diatas 10 ton per hektar.

"Kalau lima tahun lagi bisa kita introduksikan 25 persen saja dari lahan sawah irigasi dan diadopsi petani, produktivitas nasional bisa meningkat 2,5 ton dalam dua musim tanam," tuturnya.

Sugiyanta bahkan menghitung proyeksi, jika petani pada 25 persen lahan sawah irigasi berganti varietas dengan produktivitas super minimal 7,5 ton per hektar, maka ada tambahan produksi 4,4 juta ton GKG. Belum lagi, Petani pada 3 juta sawah irigasi bisa naik produktivitasnya minimal 0,8 saja, maka ada tambahan 2,4 juta ton GKG.

Ditambah lagi produktivitas padi gogo di lahan kering yang juga meningkat karena berganti varietas, minimal kenaikan produksi 0,5 ton/hektar. Maka ada tambahan produksi dari padi gogo sebanyak 1 juta ton.

"Sehingga, produksi bisa meningkat menjadi 36 juta ton beras dari 31 juta ton beras di tahun ini dan sangat cukup untuk mencukupi kebutuhan konsumsi," jelasnya.

Diakuinya, potensi lahan sawah terbesar masih di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan dengan lahan produksi beras mencapai 70 persen. "Kalau diklasifikasikan, daerah produktivitas 2,9-3,9 ton per hektar dan 4-4,5 ton per hektar masih mendominasi," tuturnya.

Sementara itu, Rektor IPB University, Arif Satria menuturkan selain penggunaan varietas unggul dan baru, teknik budidaya yang baik dan benar dilakukan Petani juga memegang peranan penting dalam memproduksi beras.

"Karenanya introduksi dan penggunaan varietas unggul ini harus diikuti dengan teknik budidaya yang baik supaya bisa unggul," tambahnya.

Faktor lainnya yang mempengaruhi produksi adalah pascapanen, terutama handling. Seperti diketahui, losses dari beras cukup tinggi 9-11 persen hanya dari penanganan pascapanen. "Jika losses itu bisa dikurangi, itu juga sudah menambah produksi," tegasnya.

Apalagi Indonesia kini terkenal sebagai negara dengan Food Lost and Food Waste yang terbesar mencapai 300 kg/kapita/tahun dibawah Arab Saudi yang mencapai 400 kg per kapita per tahun.

Di Dunia, Indonesia sebenarnya adalah  produsen ketiga terbesar setelah India dan China. Mengenai produktivitas, Indonesia sebenarnya tidak terlalu jauh dengan Vietnam dan melebihi Thailand, Filipina dan Malaysia. Namun ironisnya, harga beras di Indonesia (yang diterima petani) lebih rendah dibandingkan yang lain.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018