Friday, 18 June 2021


Jamin Keberlanjutan Produksi Beras, IPB University Usulkan Komunitas Estate Padi

09 Jun 2021, 13:39 WIBEditor : Gesha

Panen petani diharapkan bisa diserap Bulog | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Produksi beras diharapkan terus berkelanjutan di Masa depan sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia. Tak hanya produksi, aspek sosial ekonomi dari petani juga wajib disentuh agar pelaku pertanian bisa sejahtera dan terus memproduksi. 

"Kami dari IPB University persiapkan Konsep Model Produksi berskala Besar, untuk ketersediaan beras secara berkelanjutan dengan konsolidasi management," ungkap Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Sugiyanta dalam Webinar Dewan Guru Besar (DGB) IPB University, Selasa (8/6).

Sugiyanta menambahkan dengan model konsolidasi ini dimungkinkan juga terjadinya introduksi teknologi dan kebijakan langsung ke masyarakat. "Model ini terintegrasi Hulu hilir mulai dari Benih hingga menjadi beras," tambahnya.

Diakui Sugiyanta, sebuah institusi menghasilkan varietas unggul, untuk menjadi benih sumber memang tidak ada bisnisnya. Namun untuk Benih sebar/label biru ada bisnisnya. "Karena itu perlu ada bagian bagian yang ditangani Pemerintah dan ditangani swasta serta Petani. Sehingga bisa lebih holistik dan sistem produksi padi bisa sustainable dari berbagai sisi," urainya.

Di IPB University, Sugiyanta menerangkan ketika melepas suatu varietas, hendaknya diikuti oleh paket teknologi yang dihasilkan yang diseburnya sebagai IPB PRIMA.

"Misalnya di lahan Pantura banyak lahan sakit karena kurangnya bahan organik, maka kita lakukan dahulu restorasi lahan dengan pengembalian bahan organik, kemudian menggunakan varietas berdaya hasil tinggi sesuai agroklimat, menggunakan precision farming, mekanisasi dan pemanfaatan 4.0," jelasnya.

Namun semua paket teknologi tersebut tidak diserahkan begitu saja, tetapi ada pengawasan dan pengawasan langsung oleh dosen dan Mahasiswa Fakultas Pertanian, IPB University.

"Faperta sedang persiapkan lahan 500 hektar untuk ujicoba Pertanian modern di Subang dengan kawasan estate padi. Seperti diketahui, Petani hanya memahami batasan garapan mereka dengan galengan, tetapi sekarang dengan titik koordinat. Smart precisionnya menggunakan drone, satelit Dan beragam teknologi modern. Sehingga bisa menjadi etalase berbagai daerah di Indonesia," urainya.

Konsolidasi Manajemen

Tak hanya pengawalan dari teknis budidaya, IPB University juga melakukan Konsolidasi Manajemen Petani. Diakui Sugiyanta, petani dengan luasan lahan 0,3-0,5 hektar diakuinya sangat sulit untuk berubah secara produksi dan Agribisnis.

"Petani bekerja disitu hanya kita organisasikan oleh managemen atau Petani Milenial lulusan IPB menyewa/bersifat sebagai offtaker," tambahnya.

Dirinya menyebut model tersebut sebagai komunitas estate padi dengan mengkonsolidasi manjemen Petani dengan luasan minimal 100 hektar dan memiliki manager agar bisa memutuskan bersama varietas, teknologi budidayanya, akses bank Dan modal hingga pasar. 

"Termasuk mengakses introduksi inovasi dari perguruan tinggi agar bisa diintensifkan tanpa terhalang kondisi sosial dan inovasi," tutupnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018