Wednesday, 01 December 2021


Ungkit Produksi Padi, Perlu Pendekatan Tipe Agroekologi Sawah  

09 Jun 2021, 15:13 WIBEditor : Yulianto

Panen padi | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pendekatan komprehensif untuk pengembangan harus dilakukan pada berbagai tipe agroekologi sawah dengan cara Intensifikasi di lahan irigasi. Selain itu, optimalisasi di lahan marginal dan pencetakan sawah baru untuk mencapai ketahanan pangan nasional.

Untuk menjamin produksi pangan berkelanjutan butuh sentuhan inovasi dan teknologi, kata Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si, Dekan Fakultas Pertanian IPB University saat Webinar “Dari IPB untuk Indonesia : Strategi dan Tatakelola Komoditas Beras Dalam Mendukung Swasembada Pangan” (8/6).

Ia menyarankan, untuk segera melakukan Intensifikasi, optimalisasi dan ekstensifikasi lahan pertanian sawah, baik lahan irigasi, lahan tadah hujan dan padi gogo maupun lahan rawa. “Sentuhan inovasi dan teknologi dilakukan dengan menggunakan varietas berdaya hasil tinggi, berdasarkan pengalaman dan hasil riset (Precission Farming),” ujarnya.

Selain itu, menurut Sugiyanta, perlu dilakukan restorasi dalam rangka memperbaiki kualitas lahan tanam dengan penambahan organik untuk memperbaiki kadar c tanah. Mekanisasi dan penerapan teknologi 4.0 dalam budidaya serta melakukan pengawalan terhadap gangguan OPT di awal hingga panen.

Untuk intensifikasi lahan pertanian, Sugiyanta merekomendasikan agar memaksimalkan lahan irigasi dengan luas 4,78 juta ha. Misalnya dengan switching varietas yaitu menggantikan varietas padi yang ada dengan varietas yang potensi hasil panen lebih tinggi di atas 10 ton per ha. Ia mencontohkan, varietas IPB 3S yang potensi hasil mencapai 11,2 ton/ha.

Disamping itu perlu dilakukan mekanisasi baik dalam pengolahan lahan maupun pasca panen. Model precision rice farming adalah sentuhan inovasi teknologinya,” tuturnya.

Sugiyanta menambahkan, pada lahan marginal yaitu lahan tadah hujan terdapat potensi lahan yang bisa dioptimalkankan seluas 3,36 juta ha. Caranya dengan mengganti varietas padi dengan varietas yang potensi produksinya di atas 8 ton.

Sedangkan untuk lahan rawa yang mayoritas terdapat di Pulau Kalimantan ada potensi lahan sebesar 5 juta ha. Di wilayah itu bisa menggunakan varietas di atas 6 ton/ha

Program pencetakan lahan sawah baru dan pemantapan lahan juga harus dilakukan untuk menggantikan lahan yang sudah berubah peruntukannya,” ujarnya.

Penambahan produksi akan diperoleh dengan inovasi teknologi pada areal eksisting. Perhitungannya jika dalam 5 tahun sekitar 25 persen area sawah irigasi dapat menghasilkan padi dengan produktivitas 7,5 ton GKG ada tambahan produksi 4,4 juta ton GKG. Pada lahan sawah irigasi akan ada tambahan produksi 2,4 juta ton GKG, sedangkan untuk lahan tadah hujan naik 1 juta ton GKG.

Penambahan kumulatif produksi GKG sebanyak 7,8 juta ton atau setara 4,68 juta ton beras diproyeksi akan mampu mencukupi konsumsi beras nasional pada tahun 2025 sebesar 36 juta ton. Diperlukan kerja keras dan kesungguhan untuk merealisasikan hal ini, papar Sugiyanta.

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018