Tuesday, 03 August 2021


Akhirnya Teuku Hadianoer Tanam Model IP 400

16 Jun 2021, 22:09 WIBEditor : Ahmad Soim

Rice transplanter dan Hadianoer daat tanam IP 400 | Sumber Foto:Abda

 
 
 
TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh --  Demplot IP400 yang tengah digalakkan saat ini termasuk di daerah Teuku Hadianoer,mendapat respon positif. Terutama jika tersedia persyaratan teknis seperti irigasi pompanisasi serta full mekanisasi. 
 
Awalnya masyarakat menolak program tersebut dengan berbagai dalih dan mengangkangi kearifan lokal. Namun setelah diberikan pemahaman dan sosialisasi, IP 400 dapat juga diselingi dengan berbagai tanaman kacang kacangan. Tidak melulu dengan padi semua karena merusak ekosistem lahan dan budaya masyarakat.
 
Kalau begitu katanya, ada filosofi Aceh mengatakan Hana diteume thoe ie bak punggong. Artinya tidak sempat kering air di punggung. Tanah kita miskin unsur hara, bahkan terlihat seperti sakit. Untuk itu pihaknya telah berkoordinasi dengan Kadistanbun Aceh Ir Cut Huzaimah MP melalui Kabid produksinya, sepakat untuk MT III ditanami kacang hijau yang waktu panennya singkat.
 
"Sehingga melalui tanaman kacang hijau dengan rhizobiumnya dapat memulihkan kesuburan lahan yang selama ini sakit," kata Teuku Hadianoer,  S.Hut (53) yang akrab disapa Bang Adek. Dalam keluarga besarnya dia suka dipanggil Hadia. Ia adalah alumni Sarjana Kehutanan pada STI. Kehutanan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Aceh (YPIA) Tgk. Chik Pante Kulu, Banda Aceh (1996)
 
Hadia yang memiliki pengalaman seabrek ini telah menjelajahi pelosok nusantara sebagai seorang External Relations, dalam bidang Corporet Communicator, Community Development, CSR Pogram dan Social Forestry di hampir semua pelosok tanah air. "Namun setinggi tinggi burung terbang, ia akan kembali juga ke sarangnya," ujar Hadi mulai berkisah.
 
Sarjana yang debutnya banyak bergelut bidang informal ini, memiliki disiplin ilmu Pengembangan Masyarakat, Pengelolaan Habitat  konservasi Alam, Envorement dan plantation. 
 
Setelah sekian tahun bekerja di rantau orang dan terpisah dengan keluarga, kini ia pulang dan membangun pertanian di kampungnya.   
 
Selama dua tahun menetap di kampungnya, pada tahun 2019 lalu diangkat sebagai Ketua Gapoktan Cot Malem kemukiman Lubok, kecamatan Ingin Jaya.
 
Menurut Hadi, image petani melakukan apa yang dilakukan oleh kaum bapak/ibu yang sudah tua adalah hal yang keliru. Pasalnya, mindset kini telah berubah, yang muda yang bertani. "Petani milenial merupakan garda terdepan mensuksekan pertanian maju, mandiri dan modern," sambungya.
 
Selesai Pendidikan S1 Kehutanan, ia mulai bekerja  menjadi Kepala Sub. Bagian Hutan pada kawasan Hutan Tanaman Industri. Kemudian bersama-sama dengan Mirza Hasan (Putra Mantan Gubernur Aceh Ibrahim Hasan), pernah mencoba merintis dan merencanakan pembangunan industri Kertas terbesar di Aceh, yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja.
 
Namun dikarenakan saat itu Aceh sedang mengalami pergolakan politik, maka rencana tidak terealisasi hingga kini. Dari pengalamannya bekerja di PT. Aceh Nusa Indrapuri, maka Hadianoer pun hijrah ke Riau. Selama di Pekan Baru itulah ia berkesempatan bekerja dengan management yang baik pada  industrial forest, dengan mengelola hutan tanaman industri yang sangat luas.
 
Sebagai salah satu yang nota-bene perusahaan industri kertas terbesar di Asia, dirinya mulai bekerja secara profesional. Selanjutnya saat rehab-rekon Aceh pasca tsunami berencana untuk pulang ke Aceh. Pada tahun 2007 menjadi tenaga kontrak di Dinas Kehutanan Aceh sebagai POLHUT. 
 
Setelah tiga tahun mengabdi, dia bergabung kembali dengan temannya di perusahaan swasta. Selama bekerja di swasta mulai 2012, tugasnya selalu berpindah dari satu tempat ke berbagai daerah lainnya, bahkan ke negeri Kepala Burung, Papua. "Terakhir ia ditugaskan ke pulau Taliabu, Kalimantan," kenangnya.
BACA JUGA:
 
Setelah berhenti bekerja di swasta, melihat kemajuan pertanian di beberapa daerah lain dengan berbagai potensi dan keragaman daerah yang berbeda. "Dari tempatnya bekerja sebagai wakil manajemen sering sekali mendemplot kegiatan masyarakat, hingga membuat dirinya getol dan tertarik dengan sektor pertanian," gumamnya.
 
Saat mengambil pensiun dini dari tempat yang sudah menempa dirinya selama ini, maka akhir tahun 2016 ia pulang kampung. Tekadnya bulat,  membawa visi dan ingin berkontribusi. "Membangun pertanian kedepan dengan inovasi teknologi maju," tantangnya.
 
Hadia ingin menjadi petani cerdas (Smart Farming). Dia ingin memberi contoh, bahwa bertani adalah pekerjaan mulia. Penyumbang kekuatan pangan terbesar katanya, ada pada petani.
 
Membangun komunikasi dan berkolaborasi sangat diperlukan. Keberhasilan suatu program sambungnya, perlu adanya sinergisitas dengan berbagai stakeholder dan pemangku kebijakan, termasuk peran perguruan tinggi.
 
Pertengahan tahun 2020 lalu, Hadi terpilih sebagai Ketua Gapoktan Cot Malem. Tugasnya mengkoordinir dan menyamakan persepsi dalam pelaksanaan program kegiatan.
 
Walaupun selama ini dirinya nimbrung dalam berbagai aktivitas desa, tapi tak merasa gengsi turun ke sawah. Terbukti tak canggung dalan mengoperasikan rice transplanter. Ini tidak beda dengan di tempatnya bekerja sebelumnya, justru sudah familiar dengan unit unit heavy equipment seperti super truck, Carens dan unit unit mesin produksi berteknologi tinggi. "Termasuk dalam mengoperasikan dan maintenancenya," ujarnya bangga.
 
Mantan pacarnya, Sulastri dikenalnya tahun 1995 pada sebuah event nasional yang sekarang menjadi istrinya. Saat itu kata Hadia, ia bertugas sebagai tenaga teknis pada persiapan Puncak  Penghijauan Nasional yang turut dihadiri Presiden Suharto.
 
Perempuan cantik bernama Sulastri itu yang ayahnya berdarah Aceh dan ibu asli Betawi membuat dirinya jatuh hati. Kini pasangan bahagia itu sudah dikaruniai empat putra dan putri. 
 
Sosok pria supel ini juga pernah di SK kan Bupati Aceh Besar (Bukhari Daud) menjadi Tenaga Ahli Bidang Kehutanan Kabupaten Aceh Besar.
 
Saat ini Hadianoer merasa terenyuh, jika dibanding Aceh dengan daerah lain, Aceh lebih kaya dan sumberdaya alamnya berlimpah. "Coba Bapak lihat hamparan sawah kita terbentang sangat luas di banding jumlah penduduk dalam kemukiman Lubok," cetusnya.
 
Seharusnya, kita semua harus berfikir melakukan berbagai upaya untuk memberdayakan petani. "Untuk menjadikan agar mereka lebih sejahtera, hanya melalui penerapan teknologi, mulai hulu dan hilirisasinya," paparnya.
 
Artinya, untuk meningkatkan pendapatan petani, dibutuhkan juga industri seperti Rice Miling Unit (RMU) yang berkapasitas optimum. Sehingga tidak terjadi ketimpangan lagi...
 
Suatu teknologi yang dikembangkan tentu memberikan dampak dan manfaat lebih. Makanya dia menyarankan agar menghindari dilema dan opini yang berkembang dalam mengadop berbagai teknologi inovasi. Salah satunya melalui demplot dan percontohan yang merupakan strategi dalam meyakinkan petani, sehingga mereka dapat meniru serta menerapkannya.
 
Dengan teknologi selain memudahkan pekerjaan, dan meningkatkan hasil, juga dapat mengurangi biaya produksi.Terkait

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018