Kamis, 18 Juli 2024


Petani Padi Deli Serdang Adopsi Teknologi untuk IP300 di Sawah Tadah Hujan  

27 Jun 2021, 16:10 WIBEditor : Ahmad Soim

Desiminasi Teknologi untuk IP300 dari BPTP Sumut | Sumber Foto:Dok BPTP Sumut

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan – Kabupaten Deli Serdang yang merupakan lumbung pangan Sumatera Utara terus berupaya meningkatkan produksi padinya. Salah satunya adalah meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi di daerah tadah hujan, dari IP 200 menjadi IP 300. 

Observasi yang dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Utara diketahui bahwa lahan sawah H Hasunuddin di Kecamatan Beringin, Deli Serdang, Sumatera Utara termasuk  lahan sawah tadah hujan. Namun tidak jauh dari  hamparan lahan sawah itu terdapat sungai.

Luas total lahan sawah di Kabupaten Deli Serdang sekitar 40.630 ha.  Lahan sawah tadah hujannya seluas 17.393 ha dengan rata-rata IP padi hanya 1,59, terdiri dari IP 100 seluas 7.721 ha, IP 200 9.018 ha,dan IP 300 seluas 643 ha. IP 300 di lahan tadah hujan terdapat di Kecamatan Sunggal 70 ha, Hamparan Perak 203 ha, Beringin 330 ha, dan Lubuk Pakam 40 ha.

 “Hamparan sawah di Kecamatan Beringin itu mempunyai air tanah dangkal 6 -30 m, tergantung jarak antara lahan sawah dan sungai,” kata Kepala BPTP Sumut Khadijah EL Ramija. Keberadaan sumur air dan pompa menjadi faktor penting agar petani bisa tanam 3 kali setahun.

  “Kondisi dan budaya petani di sawah tadah hujan ini bisa kita perbaiki teknologinya, sehingga usataninya dapat berkelanjutan dapat ditanami 3 kali setahun (IP 300) .dan petaninya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih,” tambah Khadijah.

BACA JUGA:

“Kecamatan Beringin merupakan kecamatan yang memiliki lahan sawah tadah hujan dengan IP 3 dengan luasan tertinggi dibandingkan Kecamatan Sunggal, Hamparan Perak, dan Lubuk Pakam. Hal ini karena adanya air tanah dangkal dan sistem pompanisasi yang sudah membudadaya,” kata Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Deli Serdang Abdul Latif, SP. MSi. .

Di Kecamatan Beringin diketahui  terdapat 2 jenis tanah yang dominan. Pertama, tanah yang mempunyai tekstur liat yang dapat memegang air cukup tinggi (Typic Endoaquepts). Kedua, tanah  yang memiliki tekstur tanah dominan pasir berlempung (Typic Endoaquents), kapasitas memegang airnya lebih rendah dibanding tanah berliat.

H Hasanuddin mengatakan biasanya hasil panen yang diperolehnya berkisar 5- 6,5 ton per Ha.Jadwal tanam yang biasa dilakukan petani MI I pada Maret – Juni, MT II Juli-Oktober dan MT pada November – Febuari.

Introduksi Teknologi  

Untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, BPTP Sumut mengintroduksikan teknologi budidaya padi di sawah tadah hujan menggunakan konsep pengelolaan tanaman terpadu padi sawah.

Yang pertama, diintroduksi varietas unggul yang berumur genjah dan tahan kekeringan. Introduksi ini dilakukan agar padi yang ditanam petani pada musim tanam ke-3 tidak terkena kemarau atau gagal panen. Varietas padi yang berumur genjah yakni: Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, Inpari 20, Inpari 42, Inpari 43. Sedangkan varietas unggul padi yang tahan kekeringan yakni: Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11, Inpago 12, Inpago 38 dan Inpago 39.

 Kedua, pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan 2 kali bajak dan 1 kali garu, permukaan lahan rata, dibuat parit keliling. Ketiga, sistem tanam jajar Legowo 2:1 dengan jarak tanam (20-40 cm) x 15 cm.

Keempat, pemupukan dengan pemberian bahan organik kompos jerami/pupuk kandang 2 t/ha ditabur saat pengolahan tanah. Pemupukan dilakukan berdasarkan analisis status hara tanah awal dengan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Pemupukan dasar 7 HST (hari setelah tanam), pupuk yang diberikan adalah 1/3 bagian Urea + seluruh SP 36 + 1/2 bagian KCl. Pemupukan susulan I (30 HST) berdasarkan BWD (bagan warna daun). Pemupukan susulan II (45 HST) berdasarkan BWD (bagan warna daun) + 1/2 bagian KCl.

Kelima, pengairan dengan tata kelola air sesuai rekomendasi (musim kemarau digunakan pompa). Keenam. Pengendalian gulma dilakukan mulai padi berumur 2 minggu. Ketujuh,pengendalian hama dilakukan sesuai dengan kondisi OPT di lapangan. Kedelapan, panen dilakukan tepat waktu, dilakukan setelah padi mencapai matang fisiologis, ditandai dengan 95% padi telah menguning, panen mengunakan combain harvester.

 Hasil panen padi yang diperoleh H Hasanuddin pada MT III ternyata lebih tinggi dibanding panen padi MT II. “Panen padi pada musim tanam ke-3 bisa mencapai 7 ton lebih,” katanya.

 Biaya produksi MT III (Rp 11.436.600/ha) memang lebih tinggi dibanding MT II (Rp 10.962.408/ha), namun masih lebih kecil dibanding biaya produksi MT I (Rp 11.946.792/ Ha). Namun demlkian rata rata keuntungan hasil panen MT III (Rp 23.267.400/ha) lebih tinggi dari keuntungan dari hasil panen pada MT II (Rp 17.515.992/Ha).

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018